Menyoal Survei Mutakhir, Migrasi Konstituen Partai Demokrat dan Partai Islam

Populism Politic of Indonesia. KYOTOREVIEW

Beberapa waktu lalu, lembaga-lembaga survei mengumumkan hasil survei terbarunya mengenai perolehan suara partai politik. Ada yang menarik, lembaga survei sedang berkesimpulan tentang migrasi besar-besaran Partai Demokrat dan Partai Islam.

Survei yang dilakukan oleh lingkaran survei Indonesia (LSI) dan hasilnya juga telah diumumkan beberapa waktu lalu menyatakan dengan tegas bahwa suara partai Islam menurun drastis dibanding pada pemilu sebelumnya. Partai Nasionalis justru mendapat simpati pemilih dengan menempati lima besar, dengan diawali perolehan suara terbanyak oleh Partai Golkar 21,0 persen, kemudian diikuti oleh Partai PDIP 17,2 persen, Partai Demokrat 14,0 persen, Partai Gerindra 5,2 persen, dan Partai Nasdem 5,0 persen.

Partai politik berhaluan Islam yang selama ini memperoleh suara signifikan seperti PKS, PPP, PAN, dan PKB, dari hasil survei tersebut nyatanya tidak ada satupun yang memperoleh lima persen suara, bahkan nyaris tidak ada yang masuk lima besar.

Kemudian survei lain yang dilaksanakan oleh SMRC dengan simulasi pertanyaan terbuka menempatkan Golkar dengan perolehan 14 persen, PDIP sembilan persen, Demokrat delapan persen, dan Nasdem empat persen, kemudian di bawahnya terdapat Partai Gerindra, PKS, PKB, PPP, PAN, dan Hanura.

Partai Demokrat pada Pemilu 2009 lalu menjadi pemenang dengan perolehan sebanyak 20,85 persen, kini berdasarkan survei LSI menurun menjadi 14 persen, sehingga menempati perolehan ketiga. Bahkan dari hasil survei SMRC, Partai Demokrat hanya memperoleh delapan persen saja, sehingga ada 60 persen suara untuk Partai Demokrat yang hilang.

Memudarnya Ideologi Kepartaian

Dari hasil survei yang dilakukan tersebut, ada dua hal yang bisa kita cermati. Pertama, bergesernya suara Partai Demokrat. Kedua, memudarnya ideologi kepartaian. Menurunnya suara Partai Demokrat bisa jadi dikarenakan oleh kasus korupsi yang menyangkut politisi Demokrat, terutama kasus Nazaruddin, bahkan Ketua Umumnya disinyalir terlibat korupsi. Pemberantasan korupsi yang selama ini menjadi jargon kampanye justru menyandera Partai Demokrat.

Selain itu, elektabilitas suara Partai Demokrat sangat ditentukan oleh berjalannya roda pemerintahan, mengingat mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat pada masa menjabat. Di samping itu, pemilih Partai Demokrat kebanyakan dari massa mengambang dan swing voter, sehingga dengan mudah pindah ke partai lain.

Masuknya pendatang baru seperti Nasdem juga ikut mengubah peta politik, mengingat Nasdem yang notabene parpol baru dan juga sebagai partai terbuka diharapkan bisa memberikan alternatif. Selain itu, Nasdem juga merupakan partai yang kuat pendanaannya dan menguasai jaringan media, mengingat dua tokohnya yakni Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo dikenal sebagai pengusaha kaya, sekaligus raja media. Blow-up media pun mulai begitu kuat.

Selanjutnya, tentang memudarnya ideologi kepartaian dalam pemilu yang akan datang. Di Indonesia selama ini partai politik terbagi dalam dua spektrum politik, yaitu Partai Nasionalis dan Partai Islam. Sejak pemilu diselenggarakan setelah kemerdekaan, parpol Islam mendapat simpati yang besar dari pemilih, mengingat sebagian penduduk Indonesia beragama Islam. Ini bisa dilihat dari perolehan partai politik yang berlandaskan Islam seperti Masyumi dan NU yang menempati empat besar perolehan suara Pemilu tahun 1955.

Pemilu 1955 merupakan pemilu multipartai dan diselenggarakan secara demokratis yang kemudian menempatkan empat besar perolehan suara, yaitu PNI (nasionalis) dengan perolehan 22,3 persen, Masyumi (Islam) mendapat 20,9 persen, NU (Islam) memperoleh 18,4 persen, dan PKI (komunis)memperoleh suara 16,4 persen. Sedangkan peserta pemilu yang lain memperoleh suara di bawah tiga persen.

Kemudian pada pemilu Orde Baru, Partai Islam juga masih memperoleh suara yang signifikan walaupun di tengah hegemoni pemerintah yang represif. Pada pemilu 1971, yang diikuti oleh sembilan partai politik dan satu organisasi masyarakat. Beberapa partai politik Islam seperti NU, Parmusi, serta Partai Syarikat Islam Indonesia masih mendapatkan suara yang signifikan meski nyatanya masih berkurang. Partai tersebut menduduki lima besar perolehan suara.

Kemudian pada tahun 1975 diadakan fusi (penggabungan) partai politik berdasarkan Undang-undang Nomor 3 tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar, yang membuat hanya ada dua partai politik yaitu Partai Persatuan Pembangunan ( PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) serta satu golongan, yaitu Golongan Karya (Golkar). Partai-partai Islam akhirnya bergabung menjadi Partai PPP.

Pemilu pada masa Orde Baru selalu dimenangkan Golkar dan menempatkan PPP sebagai peringkat kedua. Namun beberapa daerah yang dahulunya merupakan basis massa Partai Islam masih memperoleh suara yang signifikan. Bahkan untuk DKI pada pemilu 1977 lalu memperoleh suara terbanyak.

Eksistensi Parpol Islam

Perolehan suara parpol Islam semakin menurun pada masa Orde Baru dengan diterapkannya asas tunggal Pancasila, serta kembalinya NU ke Khittah 1926 dengan keluar dari PPP. Selain itu, beberapa tokoh Islam banyak yang masuk ke Partai Golkar. Di akhir Orde Baru perolehan suara Golkar mencapai klimaksnya sedangkan perolehan PPP sebagai Partai Islam semakin menurun.

Keruntuhan Orde Baru yang ditandai oleh lengsernya Soeharto sebagai presiden RI waktu itu turut mengubah konstelasi politik Indonesia. Arus reformasi yang menuntut segera diselenggarakannya pemilu yang demokratis dan multipartai memberikan angin segar bagi kehidupan politik tanah air.

Kemunculan partai politik bak cendawan di musim hujan. Tidak kurang dari 48 partai politik yang mencakup semua spektrum politik, kecuali komunisme mengikuti Pemilu 1999. Beberapa partai politik yang berasaskan Islam dan merupakan reinkarnasi dari partai politik zaman Orde Lama juga mulai bermunculan. Perolehan suara partai Islam setelah reformasi relatif stabil, hanya PKS yang mengalami lonjakan drastis. PKS yang merupakan partai kader mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada Pemilu 2004, PKS unggul di DKI Jakarta.

Dengan diberlakukannya parliamentary threshold (PT) pada Pemilu 2009, menyebabkan partai politik yang tidak lolos PT harus gulung tikar. Pada pemilu 2009 yang lalu, sebenarnya corak ideologi Islam sudah mulai memudar dan kemungkinan besar lebih memudar lagi pada pemilu yang akan datang.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap partai Islam menurun. Di antaranya yang pertama, bahwa partai politik Islam tidak lagi menjadi wadah bagi kelompok Islam dalam menyalurkan aspirasi politiknya. Isu-isu seputar Piagam Jakarta dan penerapan syariat Islam sudah tidak lagi menjadi jargon politik. Bahkan beberapa parpol Islam sudah mengklaim sebagai partai terbuka, sehingga ideologi Islamnya semakin pudar.

Kedua, adanya kekecewaan dari pemilih terhadap perilaku politisi Islam, baik yang ada di pemerintahan maupun yang duduk di parlemen. Kasus korupsi, suap, serta moral yang menyeret politisi, yang berasal dari partai Islam, ikut mempengaruhi citra partai politik tersebut. Masyarakat akan beranggapan bahwa memilih partai Islam dan partai nasionalis tidak jauh berbeda.

Ketiga, adanya upaya dari partai nasionalis untuk mengambil suara dari massa yang selama ini memilih partai Islam dengan memberikan wadah bagi kelompok Islam melalui organisasi sayap yang berhaluan Islam. Selain itu, dengan menempatkan tokoh-tokoh Islam dalam kepengurusan partai.

Preferensi Berdasarkan Rasionalitas dan Pragmatisme

Memudarnya ideologi kepartaian juga berimbas pada perilaku pemilih, dimana pemilih, dalam menentukan pilihannya, sudah tidak lagi berdasarkan ideologi, melainkan berdasarkan rasionalitas dan pragmatisme. Massa ideologis yang selama ini menjadi basis massa beberapa partai politik akan pudar dan berganti menjadi massa rasional dan massa mengambang.

Massa rasional akan memilih berdasarkan program riil yang ditawarkan partai politik serta kerja-kerja konkret yang selama ini sudah dijalankan. Sementara massa mengambang akan mudah bergeser ke mana arah angin bertiup. Massa mengambang akan memilih partai yang lagi ngetrend pada saat tertentu dan cenderung pragmatis. Figur utama dalam partai juga sangat mempengaruhi swing voter dalam menentukan pilihannya.

Kemenangan Partai Demokrat pada Pemilu 2009 lalu banyak didukung oleh kombinasi kedua massa tersebut, yaitu massa rasional dan massa mengambang, walaupun untuk massa mengambang porsinya lebih besar dibanding massa rasional.

Peluang Partai Hanura

Pergeseran pemilih ke partai nasionalis sebenarnya memberikan peluang kepada Partai Hanura yang juga partai nasionalis dan terbuka untuk bisa memperoleh tambahan suara dari perpindahan suara partai Islam dan juga dari pemilih Demokrat.

Kesempatan emas tersebut bisa dioptimalkan dengan menggarap swing voter yang telah cair dan mudah berpindah ke partai lain. Swing voter akan menentukan pilihan kepada parpol yang mengusung figur presiden alternatif yang merupakan antitesis dari sosok presiden. Selain itu, juga program partai yang pro-rakyat serta partai perubahan, merupakan partai politik impian dari swing voter dan pemilih pemula.