Hary Tanoe dalam Dunia Politik Indonesia

Politik Indonesia. INTERNATIONALAFFAIRS

Membahas tentang kiprah politik Hary Tanoe, sebelum ia memutuskan untuk mundur dari Partai Hanura, kita bisa melihat kembali langkahnya yang pernah optimis untuk berkiprah dalam dunia politik rupanya tidak main-main. Beberapa waktu lalu, ketika ia bergabung ke Partai Hanura, namanya kemudian diangkat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai.

Selepas keluar dari Partai Nasdem dan pecah kongsi dengan Surya Paloh, Hary Tanoe menjadi magnet bagi partai lain. Partai politik ramai-ramai menawarkan diri dan menyiapkan karpet merah baginya untuk dapat bergabung. Karena, ia merupakan sumber daya yang patut diperhitungkan, mengingat yang bersangkutan adalah seorang pengusaha kaya, sekaligus Raja Media Tanah Air ini.

Dalam ringkasan kisahnya, setelah melakukan komunikasi dengan beberapa petinggi partai, akhirnya Hary Tanoe bergabung ke Partai Hanura. Masuknya Hary Tanoe ke partai besutan Wiranto juga diikuti oleh gerbongnya ketika sama-sama keluar dari partai sebelumnya. Bagi Hanura, masuknya Hary Tanoe merupakan penambah stamina untuk berlaga pada pemilu mendatang. Apalagi di antara partai politik lain yang lolos verifikasi, elektabilitas Hanura paling rendah, berdasarkan hasil survei beberapa lembaga. Hasil pilihannya jatuh kepada Hanura dikarenakan kesamaan visi dan chemistry.

Mengubah Peta Politik Nasional

Bergabungnya Hary Tanoe ketika itu, diyakini bisa mengubah peta politik nasional ke depan. Apalagi tidak hanya dirinya, melainkan mantan fungsionaris Nasdem dari pusat sampai daerah juga mengikutinya. Bagi Partai Hanura, tentu hal tersebut berdampak besar dan sistemis. Menjelang pemilu yang tinggal setahun lagi, hal tersebut bisa menjadi perangsang, berlari lebih kencang, untuk meningkatkan elektabilitas.

Setelah Hary Tanoe bergabung, Elektabilitas Hanura berpeluang besar akan naik penyebabnya karena beberapa faktor. Pertama, figur Hary Tanoe yang dianggap pengusaha kaya sekaligus Raja Media akan memberikan image positif bagi partai. Publik akan menilai bahwa Hanura semakin kuat pendanaannya. Pada tataran pengurus dan kader, baik pusat sampai level bawah, akan muncul kepercayaan diri membesarkan partai, sementara bagi yang di luar partai menjadi tertarik untuk bergabung ke Hanura.

Kedua, bergabungnya Hary Tanoe sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai, tentu dapat memperkuat sense of belonging bagi dirinya terhadap Hanura, sehingga kontribusinya lebih optimal dalam membesarkan partai, bahkan dalam statemennya ketika jumpa pers, yang bersangkutan akan all out. Hal ini mengindikasikan bahwa dirinya akan berkontribusi secara penuh, baik itu tenaga, pikiran, dan yang lebih penting lagi dana.

Ketiga, Hary Tanoe yang merupakan Raja Media MNC group, dengan jaringan televisi terbesar di Indonesia tentu akan ikut membackup perjuangan partai dalam meraup suara dalam pemilu. Serangan udara melalui iklan di televisi maupun opini dan pencitraan lewat berita akan sangat berpengaruh dalam meningkatkan elektabilitas. Penyebab faktor rendahnya elektabilitas Hanura, salah satunya dikarenakan minimnya serangan udara.

Elektabilitas

Kondisi partai lain yang sedang dirundung masalah tentu berpotensi besar membuat goyah konstituennya, dan berusaha mencari alternatif pilihan. Perilaku pemilih semacam itu bisa dimanfaatkan dan diolah kemudian digiring masuk ke Hanura sebagai partai alternatif yang bisa dibilang solid dan belum tercemar.

Selain itu, pemilih yang sebagian besar swing voter dan kebanyakan masyarakat menengah ke bawah akan mudah terpengaruh serangan udara. Dan kebetulan pula, pemilih tersebut adalah penonton dari televisi yang banyak menyuguhkan sinetron dan infotainment di RCTI, Global TV, MNC TV; produksi MNC group, milik Hary Tanoe.

Amunisi (baca: dana) tidak bisa dilepaskan dari partai politik dalam meningkatkan elektabilitasnya. Selain itu, peran media sangat besar, karena bagaimanapun juga, perlu adanya propaganda untuk menarik simpati publik. Dua hal tersebut dinilai ada pada diri Hary Tanoe, sehingga banyak partai politik yang mengharapkannya bersedia bergabung. Dan dengan bergabungnya Hary Tanoe ke Partai Hanura, bukan tidak mungkin nantinya akan membawa partai tersebut menjadi pemenang pemilu.

Hary Tanoe dan Gema Hanura

Menilik kembali pada tanggal 13 Desember 2012 lalu, sebuah Gerakan Muda Hati Nurani Rakyat (Gema Hanura) pernah merekomendasikan Hary Tanoesoedibjo untuk mendampingi Wiranto sebagai pasangan capres dan cawapres pada Pemilu 2014 lalu. Rekomendasi tersebut merupakan salah satu hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) II Gema Hanura.

Menurut Erik Satrya Wardhana ketika itu, Hary Tanoe memang merupakan salah satu nama kandidat yang direkomendasikan sebagai cawapres pendamping Pak Wiranto dalam Pilpres 2014 lalu.

Dampak Elektabilitas Manuver Hary Tanoe

Hary Tanoe sebagai pengusaha yang terjun ke kancah politik nasional, Hary Tanoe menikmati hiruk-pikuk perpolitikan. Berbagai manuver politik digulirkannya. Ketika itu, setelah ikut membesarkan Partai Nasdem, dan kemudian keluar, lalu masuk ke Partai Hanura, Hary Tanoe mewacanakan pemimpin nasional dari kalangan muda, soal korupsi yang marak di negeri ini, masalah pendidikan, dan yang terakhir, mendirikan organisasi kemasyarakatan.

Hary Tanoe menjadi sorotan publik setelah hengkang dari Nasdem, kemudian masuk ke Hanura. Di partai Hanura, ia diberi jabatan strategis ketika itu yakni Ketua Dewan Pertimbangan Partai. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk mencari mainan baru.

Belum lama ia bergabung dan masuk ke Partai Hanura, secara resmi Hary Tanoe mendirikan ormas yang diberi nama Persatuan Indonesia (Perindo). Tokoh inti yang membidani lahirnya ormas tersebut adalah gerbong Hary Tanoe ketika masih di Nasdem ditambah lagi beberapa tokoh nasional.

Ormas dan Partai Perindo

Ormas Perindo nantinya akan menjadi organisasi sosial kemasyarakatan yang berkontribusi pada kemajuan bangsa. Karena bersifat nasional, maka Perindo juga dapat mungkin tersebar ke seluruh kabupaten atau kota yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, selepas dikukuhkannya kepengurusan di tingkat pusat maka akan dibentuk pula di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Bila melihat gelagat politik dari ormas Perindo itu, tidak menutup kemungkinan kalau ke depannya, ia akan menjadi partai politik, seperti halnya ormas Nasdem yang kemudian menjadi Partai Nasdem. Sebagaimana pernah ditegaskan Hary Tanoe pada saat deklarasi, bahwa organisasi masyarakat Persatuan Indonesia (Perindo) dapat saja berubah menjadi partai politik. Peralihan Perindo ke partai politik sangat tergantung dengan situasi tanah air. Bila keadaan 2014 sampai 2019 lalu tidak ada perubahan, kemungkinannya Perindo berubah menjadi partai politik.

Kedudukan Hary Tanoe sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura tentu dapat memunculkan mispersepsi atau memunculkan persepsi publik tentang adanya hubungan antara Hanura dan Perindo. Namun, hal itu sudah sering kali ditepis bahwasanya tidak ada hubungan khusus antara keduanya. Perindo bukanlah sayap partai Hanura. Rencana mendirikan ormas tersebut sudah digulirkan ketika Hary Tanoe belum masuk ke Hanura. Walau demikian, posisi Hary Tanoe sebagai politisi Hanura tidak dapat dilepaskan dari posisinya sebagai Ketua Perindo pada waktu itu.

Bagi Hanura, kehadiran Perindo bisa membawa berkah tersendiri secara politik apabila dikelola dengan baik fungsi dan perannya masing masing. Tidak adanya hubungan struktural antara keduanya, memberikan peluang bagi Perindo untuk leluasa berkiprah, sementara bagi Hanura bisa ‘nebeng’ serta memperoleh dampak elektabilitas.

Fatsun Politik Hary Tanoe

Berbagai manuver politik Hary Tanoe cenderung akrobatik belakangan ini, kalau tidak direspons secara bijak oleh elite Hanura juga bisa membahayakan partai. Karena bagaimanapun juga, Hary Tanoe waktu itu sebagai kader Hanura dan menjabat posisi strategis, dan harus tunduk pada kebijakan partai.

Dalam berbagai kesempatan dan dirilis media, Hary Tanoe juga sering melontarkan tentang soal calon presiden alternatif dari tokoh muda. Padahal jauh-jauh hari, di internal Hanura, sudah mengusung Ketua Umumnya yaitu Wiranto sebagai calon Presiden.

Secara fatsun politik, Hary Tanoe dan ormas Perindo semestinya mendukung Wiranto sebagai calon presiden ketika itu dan membesarkan Partai Hanura sebagai kendaraan politik. seiring berjalannya waktu setelah mundurnya dari Partai Hanura, saat ini Hary Tanoe tengah berfokus menjadi ketua umum di partai tersebut. Sebagai pengusaha yang sekaligus politikus di negeri ini, kini ia makin memantapkan diri dan menyiapkan partainya untuk mengikuti pemilihan umum di tahun 2024 mendatang.

Add Comment