Akuisisi Carrefour dan Nasionalisasi Pasar Dalam Negeri

Indonesian Carrefour. EASTASIAFORUM

Bisnis di bidang ritel bagi beberapa kalangan dinilai sangat menjanjikan, membuat pengusaha Chairul Tanjung beberapa waktu lalu tertarik mencoba melebarkan sayap bisnisnya, melalui grup usaha CT Corp, pertengahan bulan November 2012 lalu berhasil mengakuisisi Carrefour, sebuah kelompok ritel raksasa di dunia.

Sebelumnya pada tahun 2010, CT Corp membeli saham Carrefour sebesar 40 persen, dan beberapa waktu lalu membeli 60 persen saham Carrefour di Indonesia. Jadi saat ini kepemilikan Carrefour Mencapai 100 persen milik CT Corp.

Kejadian tersebut merupakan fenomena tersendiri, mengingat jarang sekali pengusaha domestik bisa mengambil alih kepemilikan asing. Meskipun dana yang dipakai merupakan pinjaman dari lembaga keuangan asing yang merupakan sindikasi sepuluh bank asing, namun paling tidak ada spirit untuk berdaulat di negeri sendiri.

Akuisisi berasal dari sebuah kata dalam bahasa Inggris ‘acquisition’ yang berarti pengambilalihan. Kata akuisisi aslinya berasal dari bahasa Latin, acquisitio, dari kata kerja acquirer. Sedangkan makna secara umum, akuisisi dimaknai dengan arti pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor. Akuisisi sering digunakan untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku atau jaminan produk akan diserap oleh pasar.

Merujuk pada Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (disebut juga UUPT 2007) pasal 1 angka 11 menyebutkan: Pengambilalihan (atau disebut juga akuisisi) adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan untuk mengambil-alih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut.

Sejarah Carrefour

Carrefour adalah sebuah kelompok supermarket internasional yang berkantor pusat di Prancis, dan merupakan kelompok ritel kedua terbesar di dunia setelah Walmart. Gerai Carrefour pertama dibuka pada 3 juni 1957, di Annecy di dekat sebuah persimpangan yang dalam bahasa Prancis disebut Carrefour. Kelompok ini didirikan oleh Marcel Fournier dan Louis Deforey. Hingga kini, gerai pertama ini tetap ada dan merupakan gerai Carrefour terkecil di dunia.

Kelompok Carrefour memperkenalkan konsep hypermarket untuk pertama kalinya, sebuah supermarket besar yang mengkombinasikan department store ‘toko serba ada.’ Mereka membuka hipermarket pertamanya pada tahun 1962 di Sainte-Geneviève-des-Bois, Perancis.

Pada tahun 1999, Carrefour dan Promodes (sebagai pemegang saham utama dari Continent sebagai perusahaan ritel Prancis) menggabungkan semua kegiatan usaha ritel di seluruh dunia dengan nama Carrefour. Hal tersebut menjadikan Carrefour sebagai ritel terbesar kedua di dunia. Carrefour di Indonesia hadir sejak tahun 1996 dengan membuka gerai pertama di Cempaka Putih pada bulan Oktober 1998.

HIngga saat ini, Carrefour sudah beroperasi sekitar 85 gerai dan tersebar di 28 kota/kabupaten di Indonesia, dan akhir tahun 2012 ditargetkan bisa mencapai 90 gerai. Tahun 2010 sebanyak 72 juta pelanggan telah mengunjungi Carrefour, naik dari 62 juta pelanggan di tahun sebelumnya.Dalam menunjang jumlah pelanggan maka Carrefour sendiri menawarkan lebih dari 40.000 produk.

Pada 16 April 2010 lalu, CT Corp membeli 40 persen saham Carrefour senilai US$ 350 juta. Kini raksasa ritel asal Prancis yang sudah beroperasi sejak 1998 itu diberi nama Carrefour Indonesia dan menjadi milik orang Indonesia sendiri, walaupun belum secara keseluruhan.

Komposisi saham Carrefour Indonesia berubah sejak April 2001 dengan komposisi saham tunggal terbesar dikuasai Perusahaan Indonesia CT Corp (40 persen), Carrefour SA (39p ersen), Onesia BV (11,5 persen), Carrefour Netherland BV (9,5 persen). Dengan komposisi kepemilikan seperti itu pihak Trans Corp akan membuka lebih luas produk yang dijual di Carrefour dengan produksi Indonesia unggulan.

Kemudian hanya butuh waktu dua tahun setelahnya, pada 2012 lalu CT Corp akhirnya bisa mengakuisisi semua kepemilikan Carrefour di Indonesia dengan memborong sisa 60 persen kepemilikan saham PT Carrefour Indonesia senilai Rp 7,2 triliun melalui PT Trans Retail.

Kini setelah melakukan sales and purchase agreement (SPA) dengan Carrefour SA pada 19 November 2011, CT Corp resmi menguasai 100 persen saham Carrefour Indonesia. Transaksi itu menjadi transaksi akuisisi terbesar di bidang konsumer yang dilakukan perusahaan Indonesia. Dengan begitu, jaringan hipermarket terbesar di Indonesia itu bakal sepenuhnya resmi menjadi perusahaan Indonesia.

Dalam pengambilalihan Carrefour Indonesia dari Carrefour SA, CT Corp berhak memakai merek Carrefour hingga lima tahun ke depan. Selama masa transisi itu, CT Corp akan menggunakan nama Trans Carrefour untuk gerai Carrefour yang ada di Indonesia.

Pendanaan yang dipakai untuk melakukan akuisisi ini seluruhnya berasal dari kredit sindikasi 10 bank internasional, yaitu Credit Suisse, BNP Paribas, J.P Morgan Securities, ING Bank, ANZ, Goldman Sachs, Deutsche Bank, Royal Bank of Scotland, Standard Chartered Bank, dan Bank of Mitsubishi UFJ.

Selain di Indonesia, Carrefour juga telah menyepakati menjual beberapa unit usahanya di luar negeri seperti di Kolombia dan Singapura. Carrefour juga telah melakukan hal serupa di Polandia dan Turki. Sebelumnya, jaringan ritel tersebut juga melepas sahamnya di Yunani, menyusul langkah penyehatan neraca keuangan jaringan hipermarketnya di Eropa yang membutuhkan pembiayaan kurang lebih tiga miliar euro.

Carrefour menyetujui penjualan unit usaha mereka yang beroperasi di Malaysia ke Aeon Co, peritel terbesar asal Jepang dengan nilai transaksi sebesar US$ 324 juta atau 250 juta euro. Penjualan Carrefour yang beroperasi di Malaysia dilakukan untuk membayar hutang, agar perusahaan bisa beroperasi lagi.

Nasionalisasi Pasar Dalam Negeri

Dari langkah CT Corp tersebut ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran, yang pertama soal nasionalisasi pasar dalam negeri, dan yang kedua soal daya saing pengusaha Indonesia di perekonomian global. Kita patut mengapresiasi manuver bisnis dari Chairul Tanjung yang sanggup mengakuisisi perusahaan asing, namun alangkah lebih baiknya jika pendanaan tersebut berasal dari sindikasi bank dalam negeri, dalam hal itu bank BUMN, supaya aliran kas dari bisnis tersebut tetap masuk ke dalam negeri.

Melihat pernyataan ketua KADIN pada saat Rapimnas, bahwa pengusaha Indonesia diharapkan bisa mengambil peluang dari krisis ekonomi yang berlangsung di sejumlah kawasan, dengan mengakuisisi perusahaan asing. Karena, investasi sangat dibutuhkan pada saat krisis, sementara banyak aset di Eropa maupun Asia yang menarik untuk diakuisisi. Harapan besar di masa mendatang bahwa pemerintah maupun pengusaha, dapat memanfaatkan peluang ekonomi yang ada saat ini hingga di masa mendatang.