Politik Indonesia, Hary Tanoe Pengusaha yang Negarawan

Political Challenges in Indonesia. FUTUREDIRECTIONS

Politik dan bisnis merupakan sesuatu yang berbeda, baik makna maupun implementasinya. Demikian juga pelaku politik dan bisnis, yakni politisi dan pengusaha. Keduanya adalah manusia yang berbeda latar belakang maupun aktivitasnya. Namun antara politik dan bisnis belakangan ini menjadi sesuatu yang terkadang berjalan beriringan. Keduanya saling membutuhkan dan terkadang saling melengkapi dan ada kalanya menjadi satu.

Pengusaha dipandang orang yang mempunyai dana (baca: Uang), sementara politisi dianggap orang yang mempunyai wewenang membuat kebijakan, dengan kekuatannya di parlemen melalui partainya atau pun di eksekutif (baca: Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati).

Belakangan ini, beberapa pengusaha ikut bergabung ke dunia politik, dan beberapa politisi juga menjadi pengusaha. Sebagai contoh, Aburizal Bakrie pengusaha nasional dan termasuk salah satu deretan orang terkaya di Indonesia. Ia terjun ke dunia politik dan menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Pesaingnya, Surya Paloh, mendirikan Partai Nasdem, partai baru yang dianggap kuat. Kemudian disusul oleh Hary Tanoesoedibjo yang juga masuk ke Partai Nasdem, dan akhirnya keluar.

Sebelumnya, ada beberapa nama pengusaha juga terlibat dalam dunia politik praktis seperti Jusuf Kalla, Sutrisno Bachir, Fadel Muhammad, dan masih banyak lainnya. Belum lagi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota; banyak pengusaha yang menjadi pengurus partai politik, DPRD, dan kepala daerah.

Kelebihan dan Kekurangan

Bagi yang kurang sepakat atas bergabungnya pengusaha ke dunia politik, tentu akan menanggapi negatif ketika meresponsnya. Bagi beberapa kalangan hal itu dianggap kurang pantas serta tidak mempunyai visi politik, dan hanya mengandalkan uang semata. Lain halnya dengan aktivis, dosen, mantan birokrat, mantan militer, dan tokoh masyarakat yang dipandang cocok bila terjun ke politik. Namun mereka juga lupa, kalau bergabung ke ranah politik juga membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Pengusaha yang menjadi politisi mempunyai dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya, pertama, dari sisi materi mereka sudah kecukupan, sehingga diharapkan tidak korupsi. Kedua, kalkulasi ekonomi yang dipunyainya bisa menjadikan kebijakan yang dikeluarkannya lebih realistis. Selain itu, juga terbiasa mengambil risiko. Ketiga, semangat entrepreneur bisa dibawa dan menular kepada masyarakat demi kemajuan bangsa.

Beberapa dampak negatif yang harus dihindari di antaranya, pertama, watak sebagai seorang pengusaha yang selalu profit oriented bisa membuat posisinya digunakan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini bisa melalui kebijakan yang menguntungkan bisnisnya. Kedua, kekhawatiran timbulnya politik transaksional yang berdasarkan untung rugi (baca: Politik dianggap sama dengan dunia usaha). Ketiga, pengusaha terbiasa dengan paradigma ekonomi mikro, sementara politisi lebih ke ekonomi makro.

Berpolitik Adalah Hak Warga Negara

Terlepas itu semua, sebenarnya seorang pengusaha juga layaknya profesi lain, seperti akademisi, militer, birokrat, dan lainnya mempunyai hak politik sama. Hanya saja, diperlukan sikap ‘kenegarawanan,’ jika pengusaha terjun ke dunia politik. Kepentingan bisnisnya harus ditinggalkan guna kepentingan yang lebih besar yakni demi membangun bangsa. Bagi seorang pengusaha yang sudah mapan ekonominya, terjun ke ranah politik harus lebih menekankan diri pada bentuk aktualisasi serta kontribusi kepada bangsa dan negara.

Salah satu contoh pengusaha yang negarawan seperti Hary Tanoe. Hary Tanoe, pemilik salah satu stasiun televisi MNCTV, dan lainnya. selain Hary Tanoe masih banyak pengusaha lainnya yang ikut bergabung di politik. Beberapa kali nama Hary Tanoe pernah disorot di berbagai media sebagai pengusaha yang bergabung di ranah politik negeri ini.

Hary Tanoe, Pengusaha dan Negarawan

Kabar hengkangnya Hary Tanoe dari partai Nasdem meninggalkan tanda tanya besar di benak masyarakat, ada apakah gerangan? Beberapa bulan lalu, sebelum ditetapkannya partai politik peserta pemilu oleh KPU, dalam perbincangan politik di tingkat bawah, seseorang yang hendak terjun ke dunia politik mengatakan kepada temannya bahwa jika ingin masuk politik dan berharap menjadi caleg, direkomendasikan bergabung ke Partai Nasdem.

Sebab, Nasdem diyakini akan menjadi salah satu partai besar dengan dana kuat. Apalagi setelah Hary Tanoe masuk ke Partai Nasdem. Pendiri Nasdem, Surya Paloh, merupakan pengusaha kaya sekaligus pemilik stasiun Metro TV, ditambah lagi Hary Tanoe, CEO MNC group. Kombinasi dua bos media akan menjadi modal besar bagi perkembangan Nasdem di masa depan. Dukungan blow-up media akan menjadi kekuatan besar untuk menggiring opini publik.

Namun kenyataannya, sekarang Hary Tanoe, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar, mengundurkan diri dari Partai Nasdem, diikuti oleh beberapa jajaran pengurus DPP. Perpecahan di internal Nasdem patut disayangkan, mengingat Nasdem merupakan partai baru dan satu satunya partai baru yang lolos verifikasi. Sebagai partai baru, Nasdem mempunyai infrastruktur yang bagus. Ditambah lagi bergabungnya beberapa tokoh membuat Partai Nasdem semakin mapan, termasuk back-up media yang kuat, mengingat dua bos media merupakan bagian di dalamnya.

Harapan besar jika Partai Nasdem tetap solid hingga pemilu selanjutnya, kemungkinan besar partai ini menjadi kuda hitam sekaligus harapan masyarakat memberi warna baru dalam perpolitikan nasional di negeri Indonesia ini.

Latar Belakang Pecah Kongsi Surya Paloh-Hary Tanoe

Rentannya perpecahan dan kemungkinan menurunnya elektabilitas Partai Nasdem dalam pemilu mendatang, ada beberapa hal yang melatarbelakanginya, yaitu minimnya jiwa korsa, oportunisme fungsionaris, serta rendahnya rasa kenegarawanan.

Pertama, minimnya jiwa korsa. Dalam suatu organisasi, terutama partai politik, jiwa korsa sangat dibutuhkan. Jiwa korsa adalah jiwa satu rasa dan satu asa dalam mencapai satu tujuan, atau biasa disebut rasa peduli dan sepenanggungan terhadap sesama di dalam suatu organisasi (kelompok).

Jiwa korsa juga dapat diartikan sebagai rasa persatuan, kekeluargaan, setia kawan, rasa tolong-menolong, bahu-membahu, rasa memiliki bersama, dan rasa persaudaraan yang sangat erat. Ibnu khaldun menyebut hal ini sebagai ashabiyah.

Sebagai partai terbuka yang berhaluan nasionalis, Nasdem berisikan orang-orang dari berbagai latar belakang dan juga mantan kader partai lain. Usia partai yang relatif baru dan kurangnya kesamaan persepsi serta kepentingan menjadikan Nasdem belum bisa mengikat kadernya dengan platform dan ideologi kepartaian. Nasdem lebih identik dengan kepentingan Surya Paloh, dan kemudian ditambah lagi dengan kepentingan Hary Tanoe.

Kedua, sikap oportunisme dari beberapa kalangan yang masuk ke Nasdem. Beberapa orang yang masuk partai ini, baik itu di tingkat pusat maupun daerah, berharap bisa mengambil untung dan kesempatan.

Mereka berharap, dalam pemilu nanti, Nasdem akan memperoleh suara yang signifikan layaknya Partai Demokrat, tidak pernah mengeluarkan biaya yang besar. Apalagi pendirinya, Surya Paloh dianggap orang kaya, ditambah lagi dengan bergabungnya Hary Tanoe. Keduanya juga memiliki jaringan media yang kuat. Pengurus daerah berharap gelontoran dana dari pusat untuk menghidupi partai, serta ada rumor yang menyatakan kalau caleg akan diberi stimulan dana.

Ketiga, masih rendahnya sikap kenegarawanan sebagian para politisi. Kiprah mereka dalam politik hanya sebatas untuk mengejar kepentingan pribadi, baik itu kekuasaan maupun pengembangan bisnis. Keinginan untuk memperbaiki bangsa dan negara hanyalah lip service, karena pada akhirnya perebutan jabatan menjadi faktor keretakan.

Add Comment