Pendidikan Ideologis Perspektif Ki Hadjar Dewantara

Kementerian Pendidikan, Kebudayan, Riset, dan Teknologi. KEMDIKBUD

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei. Dengan merujuk pada kelahiran Suwardi Suryaningrat atau lebih akrab dikenal Ki Hadjar Dewantara. Tokoh pergerakan nasional yang menjadi pelopor pendidikan bangsa Indonesia.

Pendidikan seyogyanya tidak hanya tentang mendidik supaya menjadi pintar (intelektual). Lebih dari itu, pendidikan dipahami sebagai proses membangun karakter generasi.

Pendidikan dalam perspektif politik, aspek pembelajaran dipandang sebagai langkah membentuk perilaku warga negara menjadi lebih baik (good citizen), taat aturan, beradab, bertanggung jawab, memahami hak, dan kewajiban secara proporsional.

Menyadari penting dan strategisnya pendidikan dalam proses dinamika kehidupan manusia, maka para pendiri bangsa telah memberikan perhatian tinggi terhadap pembangunan pendidikan nasional.

Para founding fathers bangsa memandang, upaya pendidikan bangsa kita dapat melakukan perubahan ke arah lebih baik. Sikap tersebut tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 yang mempertegas tujuan pembentukan pemerintah Negara Republik Indonesia, yang berbunyi;

“Melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Bahkan UUD 1945 menyatakan, pertama, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Kedua, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayai. Ketiga, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pertanyaannya, pembelajaran seperti apa yang mampu mencerdaskan dan membangun kehidupan bangsa? Praksis pembelajaran seperti apa yang mampu membentuk manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta mampu menghasilkan pemimpin visioner?

Ki Hadjar Dewantoro memandang, pendidikan dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang mendidik itu sendiri. Menurut KI Hadjar Dewantoro, mendidik dalam arti yang sesungguhnya merupakan proses memanusiakan manusia dan mengangkat manusia ke taraf insani. Dalam mendidik ada pembelajaran, demikian merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan.

Dari perspektif Ki Hadjar Dewantara tersebut, pendidikan memiliki hubungan dekat dengan humanisasi atau memanusiakan manusia. Poin penting dalam proses pendidikan dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah merdeka belajar baik secara lahir maupun batin.

Bapak Pendidikan Indonesia disematkan kepada Suryadi Suryadiningrat (Ki Hadjar Dewantara) karena dedikasinya terhadap pendidikan Indoensia. Di antara semboyan-semboyan pemikiran pendidikan Suwardi berbunyi, pertama Ing Ngarso Sun Tulada artinya di depan, dapat dipahami bahwa seseorang mampu menjadi pemimpin dan tauladan. Kedua, Ing Madya Mangun Karsa artinya di tenga-tengah, maksudnya sebagai pemrakarsa ide. Ketiga, Tut Wuri Handayani artinya belakang maksudnya mengikuti dari belakang dengan mempengaruhi. Salah satu konsep pemikiran beliau ini kemudian dijadikan lambang oleh kemendikbud hingga saat ini.

Dalam dunia pendidikan selain bertujuan mencerdaskan pemikiran, juga penting membangun karakter mental seperti moral, etika, atau dalam agama Islam dikenal dengan akhlakul karimah. Konsep pemikiran pendidikan Suwardi Suryadiningrat, juga tidak lepas dari pembentukan moral seperti dalam semboyan pertama Ing Ngarso Sun Tulada.

Asas Pendidikan Ideologis

Sistem pendidikan Ki Hadjar Dewantara dikembangkan berdasarkan lima asas pokok. Asas-asas tersebut dikenal sebagai Pancadarma Taman Siswa (Suratman, 1985: 111). Bunyi dari asa-asa tersebut meliputi, pertama, asas kemerdekaan. Berarti disiplin diri sendiri atas dasar nilai hidup yang tinggi. Baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Arti merdeka maksudnya sanggup dan mampu berdiri sendiri mewujudkan hidup diri sendiri, hidup tertib dan damai dengan kekuasaan atas diri sendiri. Merdeka tak berarti bebas, tapi diartikan sebagai kesanggupan, kemampuan, dan kekuasaan untuk memerintah diri pribadi.

Kedua, asas kodrat alam. Hakikatnya manusia satu dengan kodrat alam. Manusia tidak dapat lepas dari kodrat alam dan akan berbahagia bila menyatukan diri dengan kodrat alam yang mengandung kemajuan. Oleh karena itu, setiap individu harus berkembang dengan sewajarnya.

Ketiga, asas kebudayaan. Maksudnya pendidikan harus membawa kebudayaan dan kebangsaan ke arah kemajuan yang sesuai dengan kecerdasan zaman, kemajuan dunia dan kepentingan hidup lahir dan batin di setiap zaman

Keempat, asas kebangsaan. Tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan dan harus menjadi bentuk kemanusiaan yang nyata. Oleh karenanya, asas kebangsaan ini tidak mengandung arti permusuhan dengan bangsa lain melainkan mengandung rasa satu dengan bangsa sendiri. Satu dalam suka dan duka, rasa satu dalam kehendak menuju kepada kebahagiaan hidup lahir dan batin seluruh bangsa.

Asas kelima, kemanusiaan. Darma setiap manusia merupakan perwujudan kemanusiaan yang harus terlihat pada kesucian batin dan adanya rasa cinta-kasih terhadap sesama manusia dan makhluk ciptaan Tuhan seluruh.

Pendidikan merupakan kata kunci bagi kemajuan bangsa. Menjadi tanggung jawab para pemangku kepentingan untuk lebih serius menangani Pendidikan Nasional kita. Hardiknas tentu tak semata peringatan seremonial tanpa makna. Namun, menjadi bahan renungan dan introspeksi bagi kita untuk memajukan kualitas pendidikan nasional demi kemajuan bangsa.

Add Comment