Politik 2012-2013, Menimbang Koalisi Partai Wong Cilik dan Konsolidasi Parpol

Popularitas Jokowi dan Ahok Terus Menanjak. PARTAI GERINDRA

Pilkada DKI Jakarta yang dimenangkan pasangan Jokowi-Ahok membuat partai pengusungnya, PDIP dan Gerindra bernapas lega. Kedua partai itu merasa percaya diri dan patut bangga ketika akhirnya bisa mengalahkan koalisi besar. Sebuah keberhasilan Partai Pro-Rakyat, kah?

Tak lama setelah kemenangan tersebut–di sisi lain–kesuksesan PDIP dan Gerindra berbuntut kekecewaan PDIP kepada Gerindra. PDIP merasa telah dimanfaatkan oleh Gerindra dan Ketua Dewan Pembinanya, Prabowo Subianto, sebagai ajang kampanye persiapan Pemilu 2014.

Pasca-pilkada DKI, elektabilitas Prabowo meningkat, dan ada kesan bahwa Prabowo-lah yang sangat berperan dalam pemenangan itu.

Sebagai partai baru dengan perolehan suara yang belum signifikan (4 persen) pada Pemilu 2009, Gerindra berusaha mencalonkan Prabowo sebagai Presiden. Waktu itu, mereka menjalin koalisi dengan PDIP. Hasilnya, PDIP bersikeras mencalonkan Megawati sebagai presiden mengingat suaranya lebih besar. Pada akhirnya terjadilah koalisi PDIP-Gerindra dengan mengusung Megawati sebagai Capres dan Prabowo sebagai Cawapres.

Koalisi Semi-Permanen

Beberapa kalangan menilai—sementara Gerindra dan Prabowo berharap—jalinan intim antara PDIP dan Gerindra menjadi koalisi semi-permanen. Koalisi antara mereka yang sudah dibangun sejak 2009 itu diharapkan akan berlangsung sampai 2014. Hingga momentum Pilkada dijadikan tempat untuk terus menjalin koalisi oleh Gerindra cq Prabowo.

Dalam percaturan politik di Senayan pun politisi Gerindra selalu sepaham dengan langkah politik PDIP, dan tetap berusaha menjadi oposan bagi pemerintah. Isu-isu politik yang dibangun relatif sama. Keberpihakan pada masyarakat kecil (Wong Cilik) menjadi jargon politik dari Gerindra.

Langkah prabowo yang selalu menempel Megawati sebenarnya merupakan cara untuk mencoba memindahkan pamor Megawati ke Prabowo. Gerindra yang selalu bergandengan dengan PDIP juga lebih menegaskan bahwasanya kedua partai ini adalah sama dan massanya pun sama. Sehingga nantinya diharapkan akan terbentuk opini dalam mindset publik, bahwasanya memilih Gerindra atau PDIP itu sama saja. Ini merupakan sebuah strategi dari Gerindra untuk menarik massa pemilih PDIP ke partai Gerindra.

Ambisi prabowo untuk menjadi presiden pada Pilpres 2014 mendorong Partai Gerindra bekerja keras memperoleh suara yang besar pada Pemilu Legislatif. Apalagi syarat untuk bisa mencalonkan presiden partai harus serendah-rendahnya mendapatkan 20 persen. Kalau tidak maka harus berkoalisi dengan partai lain. Sehingga yang harus dilakukan oleh Gerindra adalah dengan menggenjot elektabilitasnya. Salah satu caranya dengan menggembosi suara PDIP.

Namun, kalau ternyata perolehannya belum signifikan maka Gerindra akan menjalin koalisi dengan PDIP seperti Pilpres 2009. Hanya saja untuk Pilpres 2014 yang dicalonkan sebagai presiden adalah Prabowo. Seandainya perolehan PDIP lebih tinggi dari Gerindra, maukah PDIP dinomorduakan? Ini juga menjadi persoalan tersendiri.

Koalisi Akal-akalan

Namun belakangan ini, langkah Gerindra dan prabowo untuk selalu beriringan dengan PDIP rupanya mulai buyar. Megawati dan Taufik Kiemas yang merupakan tokoh sentral partai merasa kecewa dan kapok menjalin koalisi dengan Gerindra, yang akhirnya memutuskan untuk berpisah. Ini dibuktikan dengan keengganan dari PDIP untuk berkoalisi dengan Gerindra di Pilkada Jawa Barat dan Pilkada selanjutnya. Hubungan Gerindra dan PDIP di parlemen pun sudah tidak semesra dulu.

Dalam politik memang tidak ada pertemanan yang abadi; yang ada hanyalah kepentingan. Namun, Pileg maupun Pilpres den masih satu setengah tahun lagi. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri. Dalam masa globalisasi ini, konstelasi politik cenderung berubah-ubah penuh dinamika.

Kalau sudah begini, bagaimana dengan nasib Wong Cilik yang sering mereka gembar-gemborkan itu?

2013, Tahun Konsolidasi Partai Politik

Berakhirnya tahun 2012 dan dimulainya mentari pagi tahun 2013 memberikan harapan dan semangat baru bagi setiap orang serta segenap elemen bangsa. Beberapa agenda penting akan direncanakan dan diharapkan terwujud untuk kehidupan yang lebih baik. Tak terkecuali, partai politik.

Sebagai sebuah lembaga yang sarat kepentingan politis dan selalu dinamis, tentunya partai politik akan berupaya segala daya demi kebesaran partai. Pemilu yang akan dilaksanakan pada 2014, tentunya dirasakan tidak lama lagi dan semakin mendesak waktunya.

Praktis tinggal kurang dari satu setengah tahun lagi. Hal ini menuntut kesiapan yang matang dan serius bagi partai politik bila ingin meraih suara terbanyak atau paling tidak bisa masuk parlemen atau lolos parliamentary threshold dengan bisa memperoleh suara sekurang-kurangnya 3 persen.

Tahun 2013 merupakan ajang berbenah diri bagi partai politik, dengan mengoptimalkan kerja-kerja kepartaian. Setelah nantinya ditetapkan lolos sebagai peserta pemilu yang rencananya ditetapkan pada bulan Januari oleh KPU, partai harus tancap gas, menyongsong Pemilu 2014.

Hal penting yang harus dilakukan oleh partai politik di tahun 2013 ini adalah konsolidasi. Dalam hal ini ada tiga agenda utama, yaitu penguatan struktur kepartaian, pengaktifan simpul-simpul partai, dan penataan calon anggota legislatif yang akuntabel.

Pertama, penguatan struktur kepartaian. Langkah ini merupakan hal yang esensial, mengingat untuk bisa eksis keluar, di dalamnya harus solid dan mantap terlebih dahulu. Jajaran pengurus pusat harus kompak dan satu visi, demi kebesaran partai. Setelah itu, baru pembenahan struktur di tingkat daerah sampai ke akar rumput.

Kemudian yang kedua dengan mengaktifkan simpul-simpul partai. Selain mempunyai pengurus inti yang solid, partai semestinya mempunyai organisasi sayap dan elemen pendukung, dan itu harus diaktifkan sesuai dengan lahan garap dan kekhasannya. Baik itu yang berlatar belakang profesi, kepemudaan, maupun yang sifatnya temporal atau kepanitiaan.

Sementara untuk partai politik lama yang sudah mempunyai fraksi di parlemen, dapat menjadikan momentum reses ke daerah sebagai sarana konsolidasi dengan mengumpulkan kader atau pun rekrutmen kader baru.

Selanjutnya yang ketiga adalah penataan Caleg. Setelah proses verifikasi partai politik yang menguras energi, tahapan selanjutnya yang cukup krusial adalah tahap pencalegan. Pada proses ini, apabila tidak dikelola dengan baik akan berefek negatif bagi partai politik. Kalau dikelola dengan baik maka akan berdampak positif bagi konsolidasi organisasi.

Daftar calon tetap disahkan pada akhir tahun 2013. Namun prosesnya, di partai politik sudah dimulai pada pertengahan tahun. Perekrutan Caleg dari internal kader merupakan prioritas utama. Dengan menempatkan kader-kader potensial di masing-masing daerah pemilihan yang sesuai dengan penguasaan geografis kader tersebut. Caleg incumbent atau Caleg di mana sudah mempunyai anggota dewan pada daerah pemilihannya, harus dipertahankan dan perlu dikembangkan suaranya.

Partai politik seyogianya membuka peluang bagi Caleg yang berasal dari luar partai, selama yang bersangkutan satu visi dengan partai dan bisa menjadi vote getter tanpa mengesampingkan kualitas dan kapasitas. Namun dengan jumlah maksimal 10 persen dari keseluruhan Caleg.

Satu setengah tahun menjelang pemilu yang dirasa lama oleh kebanyakan orang, tapi bagi dunia politik terasa cepat. Pada 2014, partai disibukkan dengan kampanye dan hiruk pikuk persiapan pemilu. Oleh karena itu, tahun efektif bagi partai politik untuk berkonsolidasi, yaitu di tahun 2013.

Add Comment