Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Perempuan Pertama Purbalingga

Pelantika Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga 2021-2026 Oleh Gubernur Jawa Tengah. PROVINSI JAWA TENGAH

Mbak Tiwi, begitu sapaan Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi. Perempuan kelahiran Jakarta, 11 April 1987 ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati sejak 2018 sampai 2020. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Bupati Purbalingga pada 2016 hingga 2018. Tahun 2020, Tiwi kembali mencalonkan diri sebagai Bupati Purbalingga, menggandeng Sudono sebagai wakilnya.

Dengan perolehan 54,8 persen suara atau sekitar 288.920 suara, pasangan Tiwi-Dono berhasil memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati Purbalingga periode 2021-2026. Pasangan Tiwi-Dono berkomitmen untuk bersinergi melahirkan kepemimpinan yang jujur, tegas, mampu, dan peduli.

Dyah Hayuning Pratiwi dan Sudono resmi dilantik menjadi Bupati pada Jumat, 26 Februari 2021. Bersamaan dengan pengambilan sumpah pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Purbalingga periode 2021-2026 ini, suami Tiwi dan istri Dono juga mendapat mandat untuk memangku jabatan di lembaga Pemerintahan Kabupaten Purbalingga.

Suami Tiwi, Rizal Diansyah, dilantik sebagai Ketua dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Purbalingga. Istri Sudono, Rusminem, dilantik sebagai ketua TP PKK Kabupaten Purbalingga. Pelantikan Rizal dan Rusminem dilaksanakan oleh Siti Atikoh, Istri dari Gubernur Jawa Tengah.

Rizal adalah seorang suami yang suportif. Saat Tiwi masih menjabat sebagai Plt Bupati, Rizal kerap tampak mendampingi dalam berbagai kunjungan dan kegiatan. Ketika Tiwi mencalonkan diri menjadi Bupati, Rizal menjadi salah satu tim suksesnya.

Mbak Tiwi adalah putri dari, Triyono Budi Sasongko, Bupati Purbalingga dua periode, 2000-2005 dan 2005-2010. Dari sang ayah ia belajar tentang kepemimpinan serta cara mengelola daerah asal-usul leluhurnya, Purbalingga.

Rasa cinta Dyah Hayuning Pratiwi kepada Purbalingga sepertinya diwariskan secara turun temurun. Bagaimana tidak, selain ayahnya yang pernah menjabat sebagai Bupati Purbalingga, Tiwi juga merupakan keturunan pendiri Kabupaten Purbalingga, Kiai Arsantaka, dari garis ibu.

Ibunda Tiwi bernama R.R. Ina Ratnawati merupakan putri dari R. Subagio Wiryo Saputro yang merupakan cucu Dipokusumo kelima. Dipokusumo kelima merupakan Bupati Purbalingga ketujuh yang menjabat pada 1883-1899.

Jelas dari silsilah keluarga, darah politik mengalir di tubuh Tiwi. Namun, ia tidak lantas hanya mengandalkan latar belakang keluarganya sebagai modal mencalonkan diri sebagai bupati. Ia juga terus meningkatkan kapasitasnya sebagai bekal menjadi pemimpin daerah.

Sejak berada di banggu sekolah Tiwi aktif mengikuti kegiatan sekolah. Saat dibangku SMA, Ia menjadi anggota Media Siswa SMAN 8 Jakarta, 2002-2005. Selain itu Tiwi juga aktif berpartisipasi dalam acara-acara sekolah seperti menjadi panitia dokumentasi pagelaran yang dibuat SMAN 8 Jakarta bertajuk Gala atau Gawenyaanakdelapan.

Memiliki semangat belajar yang tinggi, setelah menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMA, Tiwi memilih melanjutkan studinya di Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Karena mengambil kelas internasional, Tiwi juga berkesempatan belajar di University of Queensland, Australia, dengan major International Trade and Finance.

Sehingga, ia mendapat dua gelar, Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan Bachelor of Economics dari Universitas Queensland. Tidak cukup hanya sampai di situ, Tiwi kemudian mengambil program pascasarjana di Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jakarta.

Selama menjalani pendidikannya di Australia, Tiwi juga mengikuti berbagai kursus, seperti Academic English Pathway di University Technology of Sidney pada Desember 2005 hingga Mei 2006. Selain itu, ia juga mengikuti Bridging English Program, Institute of continuing and tesol education di University of Queensland Oktober 2008 hingga Desember 2008.

Menjadi perempuan pertama yang menjabat Wakil Bupati kemudian Bupati Purbalingga di usia yang relatif muda, Tiwi membuktikan dirinya mampu memegang tanggung jawab sebagai kepala daerah. Terbukti, selama Tiwi memegang jabatan di Pemkab Purbalingga, angka kemiskinan Purbalingga terus mengalami penurunan, dari 18,98 persen pada 2016 menjadi 15,05 persen pada 2019.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Purbalingga pun meningkat sebesar 5,65 persen pada 2019. Angka itu berada di atas pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, yakni 5,41 persen, bahkan lebih tinggi 0,63 persen dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal tersebut, disebabkan oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terus mengalami peningkatan, dari 67,03 pada 2015, menjadi 68,99 pada 2019. Seiring dengan IPM, investasi meningkat pula dari 483,271 miliar rupiah pada 2016 menjadi 679,69 miliar rupiah pada 2019.

Selanjutnya, Purbalingga juga berturut-turut mendapatkan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI pada tahun 2016, 2017, 2018, 2019, hingga 2020. Ini menunjukkan konsistensi tata kelola keuangan yang akuntabel. Selain itu, Tiwi juga sukses melaksanakan pembangunan lainnya di bidang infrastruktur, pariwisata, serta pertanian.

Posisi Tiwi sebagai perempuan yang memimpin pemerintahan di tingkat kabupaten memiliki makna tersendiri. Tiwi percaya bahwa posisinya di Pemerintahan Kabupaten Purbalingga membuktikan bahwa kesetaraan gender itu mungkin adanya. Ia membuktikan bahwa perempuan mampu berkontribusi sebagai pemimpin dalam memajukan daerahnya.

Sebagai bagian dari generasi milenial, Dyah Hayuning Pratiwi juga kerap membagikan kegiatannya di media sosial. Melalui akun Instagram miliknya, Tiwi terus mengajak semua elemen, baik pemerintah maupun masyarakat Kabupaten Purbalingga untuk Gumregah Sesarengan mBangun Purbalingga atau bersama-sama membangun Purbalingga.