Limpakuwus Ramai Pengunjung Sampai 500 Hingga 1000 Wisatawan

Hutan Pinus Limpakuwus merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Di sini menyuguhkan panorama alam dan wahana wisata anak-anak. (Foto: tribunnjateng)

Banyumas – Hutan Pinus Limpakuwus merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Di sini menyuguhkan panorama alam dan wahana wisata anak-anak. Awal tahun baru 2020 tempat wisata banyak di buru dan main trampolin yang berada dalam area hutan Limpakuwus merupakan menjadi destinasi favorit.

Wahana play ground merupakan salah satu wahana wisata yang menjadi primadona dan disukai anak-anak maupun orang dewasa. Terdapat berbagai permainan seperti trampolin, kereta wisata, spider web dan taman lalu lintas.

“Seru tidak takut. Awalnya takut setelah itu tidak. Seperti terbang, diatas rasanya deg degan,”kata salah satu pengunjung, Alya Fatin Mahera.

PT Inhutani 5 selaku pengelola wahana wisata Play Ground Hutan Pinus Limpakuwus dan juga pengelola wahana wisata yang berada di dalam area hutan Limpakuwus ini.

“Wahana Trampolin Pohon bisa dikatakan masih jarang di Indonesia. Kalau di Jawa Tengah masih belum ada,” ujar Tunjung Rukmo selaku Konsultan PT Inhutani 5.

Wahan trampolin membuat wisatawan bisa terbang melompat setinggi empat meter hingga delapan meter dengan pengamananan dan pengawasan yang ketat dari petugas. Wahana ini mampu menahan antara 70 kilogram hingga maksimalnya 90 kilogram.

Pengunjung akan dikenakan harga Rp 15 ribu untuk trampolin, Rp 10 ribu untuk taman lalu lintas, dan spiderweb Rp 5 ribu untuk dapat bermain di wahana-wahana ini,, dengan durasi waktu yang diberikan selama lima menit.

“Wahana wisata pohon trampolin dan spider web merupakan wisata sensasi baru bagi pengunjung yang bernyali besar. Pada hari libur kemarin, wisatawan yang datang ke lokasi ini mencapai empat ribu, sedangkan hari biasa mencapai 500 hingga 1000 wisatawan,” ujar Rukmo.

Strategi Peningkatan Kinerja Sektor Pariwisata Indonesia Pada Asean Economic Community

Sektor pariwisata memiliki peranan penting dalam menarik banyak tenaga kerja. Di Indonesia, sektor pariwisata termasuk salah satu dari 11 pekerjaan yang paling banyak menyerap tenaga kerja.

Pada tahun 2015 sektor pariwisata menyumbang 10% dari total GDP Indonesia dengan jumlah nominal tertinggi di ASEAN.

Pada awal tahun 2016 resmi dimulai ASEAN Economic Community (AEC) yang merupakan kerja sama untuk peningkatan kinerja ekonomi, politik, dan budaya 10 negara ASEAN. Perlu dilakukan peningkatan kinerja sektor pariwisata Indonesia agar dapat bersaing di AEC.

Faktor Strategi Pemasaran, Strategi Pendanaan, Strategi Pembangunan Infrastruktur, serta Kebijakan sektor Pariwisata yang telah diterapkan telah mempengaruhi jumlah wisman secara positif.

Kedua, pembebasan Visa terhadap 169 negara di dunia, termasuk seluruh anggota ASEAN untuk berkunjung ke Indonesia untuk mencapai target peningkatan wisatawan ke Indonesia. Hasil positif dari adanya pembebasan visa, jumlah kunjungan wisatawan dari tahun 2011 hingga tahun 2016 meningkat sebesar 65% atau sekitar 10% pertahun.

Ketiga, kebijakan pengembangan 10 destinasi prioritas, telah memberikan hasil positif pada pengembangan leading sector pariwisata di 10 destinasi pariwisata yaitu Tanjung Lesung, Gunung Bromo, Pulau Morotai, Danau Toba, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Borobudur, Mandalika, Wakatobi, dan Labuan Bajo.

Keempat, jika faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah wisman terus ditingkatkan maka akan meningkatkan kinerja sektor pariwisata Indonesia pada masyarakat ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community).

Berdasarkan indikator Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) pada indikator infrastruktur, memperbaiki dan meningkatkan infrastruktur seperti pembangunan jalan, dana sarana prasarana yang mendukung aksesibilitas wisatawan.

Selain itu, dalam indikator natural and cultural resource pemerintah perlu mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan kebudayaan agar tercipta keberlanjutan lingkungan dan budaya.

Kedua, bagi Pengusaha yang bergerak di bidang pariwisata didorong untuk semakin aktif melakukan kegiatan promosi pariwisata melalui media sosial (twitter, path, instagram, dll.) dimana tidak memerlukan biaya besar (Sabon dkk, 2018).

 

Add Comment