Inpari Unsoed 79 Agritan Variasi Padi Baru Lahan Air Asin

Suprayogi Ph.D selaku Dosen Fakultas Pertanian Unsoed menjelaskan bahwa Unsoed telah menemukan Varietas padi dengan nama Inpari Unsoed 79 Agrita. (Foto: Unsoed)

Banyumas – Suprayogi Ph.D selaku Dosen Fakultas Pertanian Unsoed menjelaskan bahwa Unsoed telah menemukan Varietas padi dengan nama Inpari Unsoed 79 Agritan. Jenis varietas padi yang toleran terhadap salinitas tinggi. Pada 2014 lahir varietas baru yang diklaim toleran terhadap air asin.

Varietas ini berumur 100-105 hari dengan rasa dan tekstur yang pulen dan mutu giling premium. Produksi rata-rata pada lahan salin, tergantung tingkat salinitas air sawah, antara 4-8 ton per hektare. Potensi produksi pada lahan normal delapan ton per hektare.

“Belum semua petani mengenal varietas Inpari Unsoed 79 Agritan ini. Namun, di Cilacap sejumlah wilayah telah menanam varietas ini dengan hasil memuaskan. Di antaranya di Desa Gombolharjo, Kecamatan Adipala, Cilacap,” ujar Suprayogi.

Pemanfaatan lahan salin di kawasan pesisir akan membuat kesejahteraan petani meningkat. Terbukti dengan sawah yang sebelumnya hanya bisa ditanami sekali bisa ditanam dua kali per tahun. Selain itu, ketahanan pangan nasional juga akan meningkat seturut pemanfaatan lahan pesisir.

Berdasar evaluasi penanaman skala besar di berbagai wilayah pesisir, produksi varietas padi tahan air asin ini masih beragam. Pasalnya, bertanam padi sangat tergantung kepada cuaca, hama penyakit dan tata kelola lahan.

Pemalang, Kebumen, Jepara, hingga luar Jawa, seperti Lampung juga telah menjajal varietas ini. Hasil optimal yang diperoleh antara 6-7 ton per hektare. Karena pertanaman padi sangat terpengaruh dengan faktor-faktor lainnya. Tapi potensi hasilnya sendiri adalah delapan ton per hektare.

Pengelolaan Tanaman Pangan dalam Beradaptasi Terhadap Perubahan Iklim pada Lahan Sawah

Produksi tanaman pangan khususnya padi, jagung dan kedelai di Indonesia dituntut terus untuk ditingkatkan dalam kondisi pengaruh negatif perubahan iklim. Perubahan iklim mempengaruhi produktvitas, luas areal tanam dan panen tanaman pangan.

Kenaikan suhu udara, perubahan pola dan jumlah curah hujan, kenaikan salinitas air tanah, menurunkan produktivitas tanaman.

Meningkatnya frekuensi dan intensitas iklim ekstrem (banjir, kekeringan dan angin kencang), ledakan hama/penyakit dan meningkatnya muka air laut mempengaruhi pola tanam, indeks panen, mengurangi luas areal panen dan luas kawasan pertanian.

Sejalan dengan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) Indonesia telah mengembangkan teknologi: (1) Varietas tanaman yang toleran terhadap cekaman abiotik, (2) Teknologi budidaya tanaman, (3) Teknologi irigasi berselang, dan (4) Teknologi untuk menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman.

Varietas adaptif perubahan iklim dikemas dengan teknologi budidaya spesifik lokasi dalam suatu paket pengelolaan tanaman terpadu dan teknologi “Jajar legowo super”.

Untuk padi telah dikembangkan Kalender Tanam Terpadu yang dapat diakses melalui laman (web), short message service (SMS), dan aplikasi Android, sebagai salah satu alat untuk merakit komponen teknologi spesifik lokasi. Selain itu tersedia dikembangkan Layanan Konsultasi Padi yang dapat diakses melalui internet (Widiarta, 2016).

Add Comment