FAPET UNSOED Laksanakan Yudisium Online

Dalam mensiasati Corona Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto meniadakan aktivitas akademik secara tatap muka langsung. Pembatasan interaksi fisik antara dosen dan mahasiswa sebagai metode paling efektif untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19, Selasa (19/5). (Foto: Humas Unsoed)

Purwokerto, Bayumas – Dalam mensiasati Corona Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto meniadakan aktivitas akademik secara tatap muka langsung. Pembatasan interaksi fisik antara dosen dan mahasiswa sebagai metode paling efektif untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Kegiatan yang melaksanakan work from home yakni Fakultas Peternakan (Fapet) Unsoed. Mereka mengganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mengandalkan jaringan internet.

Novie Andri Setianto selaku Wakil Dekan (Wadek) bidang Akademik Fapet Unsoed menjelaskan bahwa di tengah pandemi Covid-19 proses akademik tetap berjalan, yakni Fapet Unsoed dengan tetap melakukan yudisium secara online.

“Dengan memakai aplikasi Google Meet terhadap 22 mahasiswa program S1 Prodi Peternakan. Prosesi yudisium dibuat lebih padat dengan mempertimbangkan aksesibilitas,” kata Novie, dalam keterangan tertulis yang diterima iNews, Selasa (19/5).

Beberapa mahasiswa yang menjalani yudisium tersebar di berbagai kota, antara lain  Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Brebes, Cirebon, Klaten, Pekalongan, Tangerang, Pemalang, dan Tanjungkarang. Novie menegaskan, sistem online ini justu bisa membuat orang tua menyaksikan sidang anaknya secara langsung.

“Meskipun terkendala jarak, namun dengan metode daring ini, memungkinkan orang tua mahasiswa di rumahnya masing-masing ikut menyaksikan putra-putrinya yang dilantik (yudisium) menjadi sarjana peternakan,” ucapnya.

Prof Ismoyowati selaku Dekan Fapet Unsoed menyampaikan, di tengah keterbatasan, perubahan harus dilakukan. Lulusan perguruan tinggi dituntut untuk mampu beradaptasi agar bisa memberikan prestasi. Saat yudisium,  Wadek Umum dan Keuangan, Wadek Kemahasiswaan dan Alumni, para Ketua Bagian, para Koprodi D3 S1 S2 dan S3 tidak semua hadir fisik. Namun ada beberapa yang bergabung secara online.

Lulusan terbaik saat yudisium, yakni Anindita Rizki Nurfadila dengan IPK 3,91,  asal  Brebes angkatan 2016.

Integrasi Teknologi Informasi Komunikasi dalam Pendidikan

Integrasi TIK dalam kehidupan saat ini mengubah hubungan kita dengan informasi dan pengetahuan tak terkecuali di bidang pendidikan. Penggunaan TIK menawarkan peluang yang begitu banyak jumlahnya, sehingga dapat mengarah pada pengalaman belajar yang lebih baik dan lebih menarik.

Beberapa potensi manfaat TIK untuk pendidikan, yaitu: berfungsi sebagai untuk pembelajaran seumur hidup; membawa perubahan peran guru dalam mengajar dan peran siswa dalam belajar; menyediakan akses terbuka terhadap materi dan informasi interaktif melalui jaringan; menghilangkan kendala waktu dan ruang dalam lingkungan belajar; mendukung organisasi dan manajemen pembelajaran dan pendidikan; dan membuka peluang kolaborasi antar-guru dan antar-siswa.

Untuk mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan diperlukan upaya-upaya, yaitu: memastikan bahwa setiap orang mampu memperoleh kompetensi TIK dan mengembangkan kompetensi kunci lain melalui TIK untuk berpartisipasi dalam masyarakat; menetapkan tujuan pembelajaran bagi emansipasi dan pemberdayaan; dan meningkatkan literasi TIK sebagai bagian berkelanjutan dari pembelajaran seumur hidup.

Proses internalisasi nilai dalam pembelajaran TIK dapat ditranformasikan dengan melakukan pembudayaan di lingkungan sekolah dengan mengintegrasikan pendidikan nilai dalam bahan ajar sehingga pembiasaan, penugasan, dan keteladanan menjadi bagian yang integral, holistik, yang secara terus menerus menjadi bagian yang dipelajari, dipahami, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Strategi impelementasi dan pengembangan profesional di bidang TIK harus mengacu pada kegiatan belajar dan mengajar. Indikator-indikator yang harus dikembangkan adalah: indikator akses, indikator output, dan indikator dampak.

Kebijakan yang terarah dan sistematis dapat mengacu pada level Sekolah Berbasis TIK, yaitu: Perintis, Dasar, Menengah, dan Mapan, dimana pada masing-masing level ditinjau dari faktor: infrastruktur, sumber daya manusia, konten, pembelajaran, serta kebijakan dan program (Fitriyadi, 2013).

Add Comment