Masjid Harus Kantongi Izin dalam Melaksanakan Sholat Jumat

Sholat jumat kembali bisa dilaksanakan di Banyumas dengan syarat harus mengikuti peraturan resmi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, ataupun mengantongi izin dari pemerintah kecamatan, Kamis (04/06). (Foto: Serayunews)

Purwokerto – Sholat jumat kembali bisa dilaksanakan di Banyumas dengan syarat harus mengikuti peraturan resmi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, ataupun mengantongi izin dari pemerintah kecamatan, Kamis (04/06).

Bupati Banyumas, Achmad Husein mengungkapkan bahwa bisa digelarnya kembali shalat berjamaah di masjid-masjid setelah pihaknya melakukan rapat koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Termasuk perwakilan dari element agama seperti takmir masjid.

Bagi masjid yang digunakan oleh warga sekitar saja yang bisa menggelar shalat jumat berjamaah dengan syarat harus mengantongi izin dari camat, namun, bagi masjid yang biasa digunakan shalat jumat dari warga sekitar dan warga luar harus mendapatkan izin dari Pemkab Banyumas.

“Masjid juga harus mengikuti protokol pencegahan Covid-19, seperti adanya sabun atau handsaniterzer, pemeriksaan suhu tubuh bagi para jamaah dan penggunaan masker,” kata dia.

Untuk masjid besar di wilayah perkotaan atau pinggiran jalan Purwokerto belum bisa melaksanakan ibadah jumat tersebut dengan banyaknya pertimbangan yang ada.

Pemkab Banyumas sesuai peraturan pemerintah pusat yakni pada sekitar pertengahan bulan Maret 2020 telah melakukan larangan sejumlah masjid untuk menggelar shalat berjamaah. Bahkan masyarakat hanya diperbolehkan menggelar shalat di rumah.

Kegiatan Ibadah Dorong Kesehatan Mental Semakin Membaik

Audah dan Mursa menyatakan indikator kesehatan mental diantaranya dimensi spiritual, dimensi Psikologis, dimensi Sosial dan dimensi Biologis. Spirit yang memiliki iman kepada Allah dan aktivitas ibadah kepada-Nya merupakan indikator penting untuk menunjukkan bahwa seseorang telah berhasil meraih kesehatan mental.

Menurut el-Quussiy (1986) kesehatan mental ialah keserasian yang sempurna atau integrasi antara fungsi-fungsi jiwa yang bermacam-macam, disertai kemampuan untuk menghadapi kegoncangankegoncangan jiwa yang ringan, yang biasa terjadi pada orang, di samping secara positif dapat merasakan kebahagiaan.

Al-Ghazali menetapkan indikator kesehatan mental didasarkan kepada seluruh aspek kehidupan manusia berupa habl min Allah, habl min al-nas, dan habl min al-alam.

Adapun indikator kesehatan mental menurut Al-Ghazali diantaranya: 1) Keseimbangan yang terus menerus antara jasmani dan rohani dalam kehidupan manusia; 2) Memiliki kemuliaan akhlak dan kezakiyahan jiwa, atau memiliki kualitas iman dan takwa yang tinggal; 3) Memiliki makrifat kepada Allah.

Individu yang memahami dan menghayati pelaksanaan ibadah, mampu mengatasi permasalahan kehidupan yang sedang dialami, sehingga cenderung memiliki kesehatan mental yang baik. Pelaksanaan ibadah dalam konteks agama Islam seperti pelaksanaan salat, zikir, membaca Al-Qur’an dan ibadah lainnya, dapat menjadi cara dalam mendapatkan kesehatan mental (Reza, 2015).