GrabAssistant Solusi Grab Atasi Pandemi

Tangani Pandemi Grab luncurkan layanan aplikasi GrabAssistant di Pasar Wage oleh Kepala UPTD Pasar Wilayah 1 Purwokerto  Arief Budiman SE dan City Lead Grab Banyumas Raya, Zaenal Arif. (Foto: Serayunews)

Purwokerto – Tangani Pandemi Grab luncurkan layanan aplikasi GrabAssistant di Pasar Wage oleh Kepala UPTD Pasar Wilayah 1 Purwokerto  Arief Budiman SE dan City Lead Grab Banyumas Raya, Zaenal Arif.

Zaenal Arif menjelaskan bahwa ini diluncurkan agar transaksi jual beli di pasar tradisional tetap bisa terlaksana tanpa melanggar protokol kesehatan. Selain peluncuran layanan baru dari Grab tersebut, juga dilakukan pembagian masker dan sosialisasi ke pedagang di Pasar Wage dan Pasar Manis.

“Warga bisa mudah berbelanja menggunakan aplikasi GrabAssistant ini. Mitra kami sebagai asisten akan membantu menalangi biaya belanja kebutuhan yang hendak dibeli. Pedagang pun percaya karena langsung mendapatkan uang guna mendukung social dan physical distancing.” Ujar Zaenal.

Zaenal menjelaskan bahwa pihaknya terus mengedukasi mitra agar memberi layanan terbaik. Pasalnya berbelanja di pasar tradisional tidaklah mudah. Apalagi yang berkaitan dengan belanja bahan makanan atau kebutuhan sehari hari.

Arief Budiman SE selaku Kepala UPTD Pasar Wilayah 1 Purwokerto menyambut baik dan mendukung layanan ini karena memudahkan warga Banyumas berbelanja di pasar tradisional, tanpa harus keluar rumah.

Ia juga menghimbau masyarakat agar dapat menggunakan layanan daring ini dan tetap di rumah disaat pandemi covid-19 sehingga bisa membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Saat ini masyarakat Banyumas selain bisa mendapatkan kemudahan dengan layanan GrabAssistant untuk keperluan belanja bahan pokok yang diperlukan, mereka juga bisa menikmati layanan GrabCar Protect & GrabBike Protect untuk layanan transportasi dengan perlindungan extra sesuai protokol kesehatan dalam pencegahan penularan Covid-19”, tambahnya.

Perubahan Ekonomi dan Sosial Bagi Pengguna dan Driver GO-JEK

Go-Jek merupakan salah satu perusahaan transportasi ojek online di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2010, Kehadiran Go-Jek telah mengundang banyak pro dan kontra dimasyarakat, mulai saat berdiri hingga saat ini menimbulkan banyak perdebatan diberbagai kalangan.

Go-Jek yang merupakan perusahaan transportasi roda dua melalui panggilan telepon, kini telah tumbuh menjadi on demand mobile platform dan aplikasi yang menyediakan berbagai layanan lengkap mulai dari transportasi, logistik, pembayaran, layanan-antar makanan, dan berbagai layanan lainnya.

Terdapat perubahan sosial dan ekonomi pada driver Go-Jek, terdapat perubahan sosial yang positif yaitu driver Go-Jek solidaritasnya menjadi kuat antar sesama driver, mereka menjadi lebih bersemangat menyelesaikan pesanan pekerjaan karena tergiur dengan mendapatkan bonus dan takut terkena sanksi, sikapnya menjadi ramah, penampilanya diperhatikan dengan memakai baju rapi, bersepatu dan memakai minyak wangi.

Perubahan ekonomi pada driver Go-Jek mereka memperoleh tambahan pendapatan setelah menjadi mitra Go-Jek, bagi yang menjadikan driver Go-Jek sebagai pekerjaan utama rata-rata pendapatan perhari antara Rp.80.000 sampai Rp. 200.000 sedangkan yang menjadikan driver Go-Jek sebagai pekerjaan sampingan rata-rata pendapatan perhari antara Rp.30.000 sampai dengan Rp. 70.000 di luar bonus.

Terdapat perubahan sosial dan ekonomi pada konsumen Go-Jek, perubahan sosialnya konsumen secara strata sosial meningkat ketika menggunakan Go-Jek apalagi jika menggunakan layanan antar makanan (Go Food) seakan ada kebanggaan sebagai kelompok sosial yang telah memanfaatkan teknologi untuk kemudahan hidupnya, mereka lebih menjadi orang dermawan dengan memberikan bayaran lebih kepada driver, dengan layanan yang baik mereka menjadi lebih manja.

Perubahan ekonomi konsumen menjadi lebih konsumtif dengan layanan yang mudah konsumenmenjadi sering memesan makanan di luar akan tetapi berbanding terbalik bagi konsumen Go-Jek yang menggunakan layanan Go-Jek disituasi yang tepat malah lebih ekonomis dibanding menggunakan transportasi konvensional (Yunus, 2017).