Obyek Wisata Teluk Penyu Ditutup Aparat Gabungan

Upaya memutus penyebaran Pandemi Covid 19 dilakukan Kodim 0703 Cilacap, dengan menutup seluruh obyek wisata yang dapat berpotensi mengundang kerumunan warga. Salah satunya adalah Obyek wisata Teluk Penyu Cilacap, Senin (27/5). (Foto: Pemkab Cilacap)

Cilacap – Upaya memutus penyebaran Pandemi Covid 19 dilakukan Kodim 0703 Cilacap, dengan menutup seluruh obyek wisata yang dapat berpotensi mengundang kerumunan warga. Salah satunya adalah Obyek wisata Teluk Penyu Cilacap.

Terkait hal tersebut, Babinsa Koramil 01 Cilacap – Serma Ali Nurhadi beserta 3 Personil lainya melaksanakan Patroli gabungan yang terdiri dari anggota TNI, Polri dan unsur Pemerintah Kecamatan melakukan sosialisasi , serta tindakan tegas dengan membubarkan segala kegiatan yang bersifat kerumunan di sepanjang pesisir Pantai Teluk Penyu dan Pantai Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Senin (27/05).

Kegiatan patroli gabungan ini dihadiri oleh Camat Cilacap Selatan – Annisa Febriana, Danramil 01, Cilacap yang diwakili Serma Ali Nurhadi,  Anggota Polsek Cilacap Selatan, Sekcam Kecamatan Cilacap Selatan, dan para Lurah Se-Kecamatan Cilacap Selatan.

Dalam kesempatan itu Camat Cilacap Selatan, Annisa menyampaikan, tingkat kesadaran masyarakat Cilacap akan penyebaran virus Corona, menurutnya sudah cukup tinggi. Namun masih ada dari warga masyarakat yang tidak mengindahkan anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah dahulu dan masih banyak warga yang tidak menggunakan masker.  Bahkan masih adanya warga yang beraktifitas berkumpul dengan nongkrong di bibir pantai teluk penyu dan tegalkamulyan pada sore hari.

Oleh karenanya, Tim gugus tugas Covid 19 Kecamatan Cilacap Selatan akan terus melaksanakan patroli gabungan tepatnya menjelang waktu berbuka puasa. Yakni dengan fokus dan sasarannya membubarkan kerumunan di sepanjang bibir pantai teluk penyu dan tegalkamulyan. Sedangkan selanjutnya warga masyarakat yang berkumpul akan dihimbau  untuk tidak lagi berkerumun atau nongkrong  lagi di sepanjang pantai teluk penyu dan tegalkamulyan maupun di tempat terbuka lainnya.

Sementara itu  Danramil Cilacap melalui Serma Ali Nurhadi  membenarkan adanya kegiatan patroli gabungan yang dilakukan Tim Gugus Tugas Kecamatan Cilacap Selatan. Upaya menggugah kesadaran masyarakatpun dilakukan dengan memberikan sosilaisasi tentang pandemi Covid 19, namun demikian tindakan tegas akan dilakukan jika terdapat warga yang nekat melanggar.

Dijelaskan, Tim gugus tugas Covid 19 Kecamatan Cilacap Selatan sudah bekerja keras bersama-sama melakukan patroli dan melakukan berbagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona di Kabupatan Cilacap.

Selain itu Kodim 0703 Cilacap  sudah melakukan penutupan di semua akses masuk ke Obyek Wisata Teluk Penyu. Hal ini diharapkan dapat mencegah segala aktifitas yang dapat mengundang kerumunan. Selain itu pihaknya juga menghimbau kepada seluruh warga agar lebih disiplin dengan mematuhi ketentuan social distancing, sehingga dapat mencegah penyebaran virus corona di wilayah Cilacap.

Pentingnya Pengelolaan Daerah Pesisir Guna Pengoptimalan Pembangunan Berkelanjutan

Penyelenggaraan penataan ruang perairan pesisir menjadi solusi untuk menentukan arah penggunaan sumber daya pada tiap-tiap satuan perencanaan. Perencanaan tersebut disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat tentang kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang boleh dilakukan setelah memperoleh izin.

Penataan ruang tersebut diharapkan dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang dapat memadukan pilar ekonomi, sosial budaya,lingkungan dan pemerataan pembangunan. Aspek pembangunan berkelanjutan merupakan hal yang penting, oleh karena itu diperlukan adanya kebijakan yang tepat dalam suatu wilayah (Marliana dkk, 2013:80).

Konservasi menjadi salah satu cara untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pasal 1 angka 18 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survei, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan.

Dalam Pasal 1 angka 7 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per.17/Men/2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan adalah upaya perlindungan,pelestarian, dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dankesinambungan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

Pembangunan berkelanjutan sangat memperhatikan kualitas hidup manusia pada masa sekarang dan masa yang akan datang, termasuk di dalamnya adalah sarana pendidikan bagi masyarakat pesisir, penyediaan fasilitas kesehatan dan sanitasi yang memadai, serta mitigasi bencana.

Konsep pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan idealnya berfokus pada karakteristik ekosistem pesisir yang bersangkutan, yang dikelola dengan memperhatikan aspek parameter lingkungan, konservasi, dan kualitas hidup masyarakat, yang selanjutnya diidentifikasi secara komprehensif dan terpadu melalu kerja sama masyarakat, ilmuwan, dan pemerintah untuk menemukan strategi pengelolaan pesisir yang tepat (2014:64).

Agar sistem laut dan perikanan (pesisir) kerakyatan dapat memperoleh manfaat secara ekologis dan ekonomis setidaknya harus memiliki ciri antara lain, (a) Aktor utama pengelolaan laut dan perikanan (pesisir) adalah masyarakat setempat. Artinya masyarakat harus diberi hak dan kewajiban secara resmi. (b) Lembaga pengelolaan harus dibentuk, dilaksanakan, dan dikontrol secara langsung oleh masyarakat setempat. (c) Adanya wilayah yang jelas, yang memiliki kepastian hukum yang mendukungnya.