Rumah Karantina Banyumas Berikan Kenyamanan

Kepala Desa Karangtengah Karyoto mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah yang telah mengijinkan home staynya, untuk tempat karantina bagi warga Karangtengah yang lagi pulang kampung.(Foto: Pemkab Banyumas)

Banyumas – Kepala Desa Karangtengah Karyoto mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah yang telah mengijinkan home staynya, untuk tempat karantina bagi warga Karangtengah yang lagi pulang kampung. Dirumah joglo ini pihaknya menyediakan 22 tempat tidur, dan pernah penuh beberapa waktu lalu.

Berbeda dengan rumah karantina yang lain di Kabupaten Banyumas. Rumah karantina Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok membuat penghuninya betah karena menempati home stay “Joglo Batu Akit” milik pengusaha asal Purwokerto yang saat ini menjalankan usaha di Jakarta.

“Terima kasih kepada Bapak Ragil yang sudah mengijinkan rumah “Joglo Batu Akik” menjadi tempat karantina. Saat ini peserta karantina sebanyak 17 orang, Pemerintah Desa menyediakan perlengkapan mandi, dan uang makan bagi peserta karantina. Uang makan diserahkan kepada keluarga terkandung maksud agar sesuai dengan selera keluarga,” katanya

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyumas Ny Erna Husein bersama Tim BPBD dan Dinas Kesehatan saat menengok para peserta karantina mengatakan bawa karantina di Karangtengah seperti berwisata. Beberapa ruangan cukup lengkap dengan adanya tempat tidur, kamar mandi yang cukup mewah bahkan dapur.

“Seperti berwisata saja, disini udara sejuk dan lingkungan yang asri, membuat penghuni betah,” katanya.

Sumami salah satu peserta karantina yang tinggal bersama putrinya, mengaku sudah delapan hari dirumah karantina ini. Dirinya mengaku betah disini, dan akan pulang setelah mendapatkan ijin pulang.

“Saya sedang hamil, dirumah banyak saudara dan orang tua, maka untuk sementara saya disini saja,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Sodikin yang baru pulang dari Cibubur lima hari lalu. Di tempat karantina sudah merasa seperti bersaudara. Ia harus pulang karena di Cibubur sudah tidak bekerja dan tidak mempunyai tempat tinggal. Sodikin juga mengaku tidak terpaksa mengikuti karantina, ia atas kesadaran diri pulang dari Cibubur langsung ke Puskesmas dan siap dikarantina.

Pentingnya Kesiapsiagaan dan Pengurangan Risiko Bencana

Paradigma penanggulangan bencana berubah dari fatalistic responsive yang berorientasi pada penanggulangan bencana kedaruratan sebagai respons akibat terjadinya bencana, menuju kepada proactive preparedness, penanggulangan bencana dilakukan sejak dini melalui kesiapsiagaan sampai dengan tahap pemulihan sosial, yang menuntut pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama melaksanakan upaya pengurangan risiko bencana.

Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisis dan mengelola faktor-faktor penyebab bencana. Ha ini juga termasuk melalui pengurangan keterpaparan terhadap ancaman bahaya, pengurangan kerentaan penduduk dan harta benda, pengelolaan lahan dan lingkungan secara bijak, dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap peristiwa yang merugikan (UNISDR, 2009).

Perry dan Lindell (2003), pedoman pertama untuk perencanaan kesiapsiagaanadalah bahwa hal itu harus didasarkan padapengetahuan yang akurat tentang ancaman dan respons masyarakat. Peningkatan kesiapsiagaan yang dilakukan melalui upaya pengurangan risiko seharusnya mempertimbangkan hal-hal seperti kondisi lingkungan, fisik, sosial, dan ekonomi masyarakat sangat penting dilakukan.

Sutton dan Tierney (2006) menjelaskan bahwa dimensi kunci kegiatan kesiapsiagaan antara lain (1) pengetahuan bahaya; (2) manajemen, arah, dan koordinasi operasi darurat; (3) perjanjian respons formal dan informal; (4) akuisisi sumber daya yang bertujuan untuk memastikan bahwa fungsi darurat dapat dilakukan dengan lancar; (5) perlindungan keselamatan hidup; (6) perlindungan hak milik; (7) koping darurat dan pemulihan fungsi utama; dan (8) rencana kegiatan pemulihan.

Add Comment