Satu Warga Desa Tajug Kembalikan BLT DD

Teguh Haryono (43 th), salah satu warga Desa Tajug Kecamatan Karangmoncol dengan kesadaran sendiri mengembalikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari Dana Desa (DD), Selasa(19/5). (Foto: Pemkab Purbalingga)

Purbalingga –  Teguh Haryono (43 th), salah satu warga Desa Tajug Kecamatan Karangmoncol dengan kesadaran sendiri mengembalikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari Dana Desa (DD). Dalam surat pernyataannya Teguh merasa tidak berhak menerima BLT DD, karena masih banyak masyarakat yang lebih berhak menerimanya.

Surat pernyataan yang bermaterai 6 ribu tersebut diserahkan langsung kepada Kepala Desa Tajug, Kuswoyo di Kantor Desa Tajug dan disaksikan oleh perangkat desa, di Kantor Kepala Desa Tajug, Selasa (19/5). Kuswoyo mengatakan sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Teguh Haryono, walaupun termasuk warga terdampak Covid-19, namun secara sadar mau mengembalikan BLT DD dikarenakan dirasa sudah mampu.

“Alokasi BLT DD sebelum perubahan pagu DD sebanyak 166, namun setelah adanya pengurangan anggaran sebesar 10,8 juta sehingga menjadi berkurang 164. BLT DD rencananya akan kami berikan Kamis (21/5),” katanya.

Menurut Kuswoyo, DD Desa Tajug sebesar Rp 999,2 juta termasuk desa yang penyaluran BLT DD maksimal 30 persen. Sehingga total BLT DD yang akan dialokasikan sebesar Rp 295,2 juta yang nantinya akan di bagi 3 termin, masing-masing Keluarga Penerima Manfaat (KPM) akan menerima sebesar Rp 600 ribu kali 3 bulan.

Sedangkan Camat Karangmoncol, Juli Atmadi mengatakan BLT DD di Kecamatan Karangmoncol, akan dilakukan secara serentak selama 2 hari yakni Rabu dan Kamis (20-21/5). Jadwal sudah dibuat untuk masing-masing desa agar pelaksanaan pemberian bantuan bisa berjalan sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19.

“Masing-masing warga dusun akan datang sesuai jam yang telah ditentukan agar tidak terjadi penumpukan. KPM wajib menggunakan masker, dan semua tempat wajib disediakan tempat cuci tangan,” katanya.

Perlunya Kesadaran Kekeluargaan dalam Bermasyarakat

Penguatan pendidikan moral ataupun pendidikan karakter yang ada dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sudah melanda di negara kita. Krisis tersebut berupa banyaknya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan terhadap anak-anak dan remaja, pencurian remaja, kejahatan terhadap teman, kebiasaan menyontek, pornografi, penyalahgunaan obat-obatan, dan perusakan milik orang lain yang yelah menjadi masalah social sehingga pada saat ini belum bisa diatasi secara tuntas.

Oleh karena itu betapa sangat pentingnya karakter pada pendidikan. Para ahli pendidikan karakter melihat proses internalisasi nilai dalam pembelajaran, termasuk internalisasi pendidikan karakter di

Madrasah pada dua pendekatan. Pertama, Madrasah secara terstruktur mengembangkan pendidikan karakter melalui kurikulum formal. Kedua, pendidikan karakter berlangsung secara alamiah dan sukarela melalui jalinan hubungan interpersonal antar warga madrasah, meski hal ini tidak diatur secara langsung dalam kurikulum formal.

Pada beberapa madrasah yang memanfaatkan peluang-peluang belajar di luar kelas sebagai wahana pengembangan pendidikan, kegiatan ektrakuriluler muncul sebagai keunggulan tersendiri yang pada giliranya melahirkan kredibilitas tersendiri bagi lembaga.

Tidak jarang kita dengar alasan-alasan orang tua dalam memilih sekolah sebagai tempat belajar anaknya atas dasar pertimbangan mereka terhadap sejumlah kegiatan di luar kegiatan tatap muka di kelas, dengan demikian, kegiatan ektrakurikuler dapat dikembangkan dalam beragam cara sebagai media pendidikan karakter.

Penyelenggaraan kegiatan yang memberikan kesempatan luas kepada pihak madrasah, pada giliranya menuntut kepala madrasah, guru, siswa dan pihakpihak yang terkait untuk secara efektif merancang sejumlah kegiatan sebagai muatan kegiatan ektrakurikuler berbasis pendidikan karakter.

Dengan masing masing peran yang dilakukan dengan baik oleh keluarga, sekolah maupun masyarakat dalam pendidikan, yang saling memperkuat dan saling melengkapi antara ketiga pusat itu, akan memberi peluang besar mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu (Subianto, 2013).

Add Comment