Dedy Cobuzier Berika PujiankKepada Bupati Banyumas di Hitam Putih

Acara Hitam Putih di TRANS7 yang dipandu Dedy Corbuzier pada Selasa (14/04) menampilkan sosok Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein yang sempat viral dikarenakan ikut mengubur sendiri jenazah pasien positif corona di Banyumas. (Foto: Pemkab Banyumas)

Banyumas – Acara Hitam Putih di TRANS7 yang dipandu Dedy Corbuzier pada Selasa (14/04) menampilkan sosok Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein yang sempat viral dikarenakan ikut mengubur sendiri jenazah pasien positif corona di Banyumas.

Dalam video call tersebut Dedy menanyakan apakah Husein tidak stress pemakaman jenazah covid 19 sampai 4 (empat) kecamatan yang menolak penguburannya.

Dijawab Husein bahwa “Kita jelaskan secara nalar dan saya pelajari dulu bahwa orang meninggal maka virusnya juga ikut ninggal seperti benalu. Dikiranya virusnya menguap kemana-kemana. Bupatinya berani angkat dan ngubur jenazahnya sendiri masak masyarakatnya dilewati jenazah saja tidak mau”

Ini pertama kalinya dalam sejarah Bupati ikut menggali kubur sendiri dan tidak takut ujar Dedy lagi

Diterangkan oleh Husein bahwa “Karenanya warga perlu pemahaman khusus. Kyai dan Ulama turun tangan menerangkan bahwa mereka mati syahid, akhirnya sekarang mereka berbondong-bondong pengin ikut ngubur. Kemudian juga ada sosialisasi dari Dokter dan Puskesmas juga. lagipula sampai sekarang Bupatinya masih sehat-sehat saja.

“Untuk proses pemakamannya bagaimana Pak?”

“Di Banyumas menyediakan pemakaman tanpa dipungut biaya termasuk pembuatan petinya juga akan ditanggung pemerintah” terang Husein.

Luar Biasa semoga Bapak jadi patokan dan sehat selalu puji Dedy Corbuzier untuk menutup Video Call dengan Bupati Banyumas.

Peran Media Massa dalam Proses Pendidikan di Masyarakat

Media (khususnya televisi) merupakan agensi atau lembaga penting yang amat potensial mempengaruhi penonton dan masyarakat luas terutama pengaruh ini bisa positif, bisa negatif, dan media bisa berfungsi atau berdisfungsi.

Dalam ilmu komunikasi sendiri, pandangan mengenai kekuatan media massa dalam mempengaruhi individu dan masyarakat selalu mengalami perubahan. Menurut Severin dan Tankard (2001), media massa pada awalnya (sekitar tahun 1920-an sampai 1940- an) dianggap memiliki pengaruh yang amat besar seperti digambarkan dalam teori pseudo yang dikenal sebagai bullet theory.

Dalam teori ini, pengaruh media dilihat seperti sebuah peluru yang ketika ditembakkan tidak akan tertahankan dan akan masuk ke dalam obyek yang dituju.

Indikator kinerja yang dipakai dalam industri televisi amat jauh dari kepentingan prososial, belum lagi jika dibicarakan soal pendidikan. Televisi mungkin bekerja keras, tetapi ia tidak bekerja untuk kepentingan kita.

Terlepas dari segala apologi yang disampaikan para pemilik dan eksekutif televisi di Indonesia, situasi industri ini dari segi kepentingan masyarakat harus dilihat sebagai pemborosan ranah publik.

Situasi yang tidak menguntungkan bagi pendidikan bukanlah suatu hal yang harus kita terima begitu saja. Harus dikembangkan strategi kebudayaan yang sesuai dengan cita-cita kita sebagai suatu bangsa.