Bupati Banyumas Razia Masker Di Jalan Protokol

Bupati Banyumas Achmad Husein melakukan pemantauan dan razia kewajiban memakai masker bagi warga Banyumas. Operasi dilakukan dibeberapa titik di Jalan Protokol Kota Purwokerto seperti di Simpang Masjid Purwokerto, Simpang Sawangan dan Simpang Palma atau Simpang Sutosuman, Kamis (16/4). (Foto: Pemkab Banyumas)

Banyumas – Bupati Banyumas Achmad Husein melakukan pemantauan dan razia kewajiban memakai masker bagi warga Banyumas. Operasi dilakukan dibeberapa titik di Jalan Protokol Kota Purwokerto seperti di Simpang Masjid Purwokerto, Simpang Sawangan dan Simpang Palma atau Simpang Sutosuman, Kamis (16/4).

Kewajiban memakai masker ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Nomor 440/212/Tahun 2020 tentang Peran Serta Aktif Masyarakat dalam Penanggulangan Penyebarluasan Corona. Bahkan DPRD Kabuptaten Banyumas bersama Bupati pun telah menerbitkan Peraturan Daerah tentang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit.

Tim patroli khusus tersebut berkewajiban memantau warganya yang tidak mengenakan masker sudah dua hari terakhir (mulai Rabu (15/4/2020) melakuan razia dibeberapa jalan di Purwokerto secara acak, berganti-ganti tempat. Tim Gabungan dari Satpol PP, Polri, TNI dan Dinas Perhubungan memantau dan menegur para warga yang belum menggunakan masker untuk membuat surat pernyataan.

Menurut Bupati Achmad Husein, kampanye mengenakan masker selama pandemi corona harus terus dilakukan, karena dinilai cara paling efektif mencegah penularan virus corona. Hal ini terbukti di Vietnam dengan penduduk yang banyak orang yang terpapar virus paling sedikit karena warganya disiplin pakai masker.

“Kita lakukan sosialisasi dan bagikan masker dulu, sebelum aturan denda diberlakukan, karena tahap pertama satu juta masker baru untuk masyarakat di Kecamatan Kota dan sekitarnya, diharapkan semua warga Banyumas akan menerima masker paling lambat tanggal 21 April,” kata Bupati.

Setelah sosialisasi dan pemberian masker kepada masyarakat sudah terbagi semua melalui RT dan Desa, maka denda akan diterapkan.

“Jadi tidak serta-merta dikenakan denda, kita edukasi dulu dengan membuat pernyataan,” jelas Bupati.

Sangsi bagi pelanggar berupa denda sesuai Perda yang baru ditandatangani Kamis (16/04/2020) sebesar Rp 50 ribu. Cara Bupati Banyumas “paksa” warganya pakai masker, untuk melindungi diri dan orang lain cukup ampuh. Hal ini terlihat saat pantauan langsung yang dilakukan Bupati hampir semua warga mengenakan masker.

“Dari 100 orang masih ada 4 hingga 5 orang yang belum menggunakan masker, mudah-mudahkan besok sudah memakai semua,” tambah Bupati.

Selain rombongan Bupati, 24 Tim yang dikoordinir oleh Satpol PP juga merazia pejalan kaki, tukang parkir, pengguna jalan baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Upaya Menumbuhkan Kepedulian Sosial Melalui Pendidikan

Sikap toleransi dan peduli sosial terhadap sesama mulai menunjukkan gejala yang semakin memudar seiring dengan berkembangnya etnisitas, maka tentunya akan berdampak besar pada sebuah Bangsa. Membangkitkan kembali semangat toleransi dan peduli sosial dapat dilakukan melalui pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam institusi pendidikan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Di mana pendidikan mengacu pada berbagai macam aktivitas, mulai dari proses peningkatan kemampuan teknis (skill) sampai pada pembentukan kepribadian yang kokoh dan integral. Sebuah kegiatan yang mampu mengembangkan karakter anggotanya.

Pendidikan pengembangan karakter dapat dilakukan melalui berbagai macam kegiatan, seperti penanaman nilai, pengembangan budi pekerti, nilai agama, pembelajaran dan pelatihan nilai-nilai moral dan lain-lain.

Peran dan upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam pembinaan toleransi dan peduli sosial sangat besar. Hal ini terlihat pada upaya yang dilakukan pihak sekolah diantaranya (1) Lebih maksimal dalam mengembangkan toleransi dan peduli sosial pada diri siswa diberbagai kegiatan seperti kegiatan pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan pembiasaan di lingkungan sekolah.

Di mana dahulu nilai-nilai karakter hanya diintegrasikan lewat mata pelajaran PKn dan Agama saja, sedangkan sekarang diupayakan pengintegrasian melalui berbagai kegiatan sehingga nilai-nilai karakter secara maksimal tersimpan dan tertanam dalam benak siswa.

(2) Lebih terstruktur dalam penyusunan program, alokasi dana dan alokasi waktu serta melaksanakan program kegiatan yang bermuara pada pembinaan toleransi dan peduli sosial siswa (3) Menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan suku; agama; ras; golongan; status ekonomi.

(4) Memfasilitasi kegiatan yang bersifat sosial secara lebih optimal seperti melakukan aksi sosial dan menyediakan fasilitas untuk menyumbang. (5) melibatkan pihak lain dan melakukan koordinasi yang berkesinambungan antara kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, guru dengan orang tua dan guru dengan siswa.

(6) Peran dan upaya guru baik guru PKn maupun pembina ekskul dalam pembinaan toleransi dan peduli sosial dengan cara (a) menyampaikan dan memberikan materi yang berkaitan dengan proses pembinaan toleransi dan peduli sosial, (b) mengarahkan, membimbing siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dan pembiasaan di lingkungan sekolah serta (c) membangkitkan rasa kepedulian pada diri siswa, semangat kebersamaan, cinta sesama dan kesetiakawanan sosial yang tinggi dalam diri siswa. Dengan segala upaya tersebut maka semua jenis hambatan yang menjadi kendala dalam proses pembinaan mudah diminimalisir (Sari, 2014).