BLK Kebumen Berikan Sumbangan Sosial Berupa 1.500 Masker Kain

BLK Kebumen Berikan Sumbangan Sosial Berupa 1.500 Masker Kain . (Foto: Pemkab Kebumen)

Kebumen – Bantuan kelengkapan alat kesehatan dari masyarakat untuk percepatan penanganan covid 19 hingga kini terus mengalir. Setelah sejumlah komunitas, institusi swasta maupun pelaku usaha, kini ganti Balai Latihan Kerja (BLK) Kebumen memberi bantuan sebanyak 1.500 masker kain kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kebumen.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala BLK, Dwi Budi Nugroho kepada Sekretaris Dinkes Kusbiyantoro, SKM M.Kes di Gedung Dinkes, Jl. HM. Sarbini 27 Kebumen, Rabu (15/4). Kusbiyantoro SKM, M.Kes mengucapkan terimakasih kepada BLK yang peduli dan telah memberi bantuan masker kain inu untuk percepatan penanganan Covid 19 di Kebumen.

Kata Kusbiyantoro SKM, M.Kes, masker ini nantinya akan dibagikan kembali kepada PMI sebanyak 200 potong, Tim Gugus Covid 19 Kecamatan Kuwarasan 150 potong, Desa Bojong 50 potong, masyarakat di lingkungan BLK 200 potong, Disnakerkop dan UMKM 100 potong, Karyawan dan keluarga karyawan BLK 100 potong, kaum dhuafa 100 potong, tamu yg datang di BLK 100 potong, dan Posko Covid Dinkes sebayak 500 potong.

Pada kesempatan itu, Dwi Budi Nugroho mengatakan, masker kain tersebut nerupakan produksi para peserta BLK yang tengah mengikuti pelatihan dan ketrampilan. Dengan adanya bantuan ini diharapkan dapat mencukupi kebutuhan masker bagi petugas kesehatan dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya.

Revitalisasi Gotong Royong di Era Modern

Memudarnya gotong royong merupakan sebuah keniscayaan karena gempuran modernisasi dan produk-produknya yang cenderung menjadikan masyarakat lebih asyik dengan dirinya sendiri dibandingkan beraktivitas bersama dengan orang lain.

Padahal dalam sejarah bangsa Indonesia, rasa gotong royong dan kebersamaan ini terbukti sangat ampuh dalam menyelesaikan masalah bangsa, ketika memiliki masalah yang dihadapi oleh bangsa atau berhadapan dengan bangsa lain.

Kebersamaan tersebut juga selaras dengan nilai-nilai Islam yang menekankan bahwa umat Islam adalah bersaudara, hendaklah menyelesaikan masalah secara bersama-sama dan kebaikan adalah tatkala seseorang itu sangat berguna bukan untuk dirinya sendiri, akan tetapi untuk orang lain yang terbingkai dalam ukhuwah islamiyah.

Pada situasi krisis gotong royong yang sudah mengakar selama perjalanan hidup masyarakat tersebut, perlu adanya upaya pemimpin yang berada di tingkat lokal atau pemerintah untuk mengadakan berbagai macam bentuk forum yang dapat mempersatukan masyarakat.

Kreativitas dan inovasi dari pemimpin ini menjadi penentu juga bagaimana jiwa kegotongroyongan tersebut bisa terwujud. Hal terpenting juga adalah upayanya untuk memperbaiki tingkat perekonomian masyarakat pedesaan yang sampai saat ini masih tergantung pada sektor pertanian, akan tetapi mulai tergerus oleh industrialisasi yang justru tidak mengembangkan pertanian itu sendiri, akan tetapi justru hanya menempatkan masyarakat desa sebagai pangsa pasar semata.

Artinya proses industri sudah seharusnya berpihak kepada masyarakat desa untuk bisa membangkitkan rasa gotong royong tersebut (Muryanti, 2014).