Peran Bidan dalam ASI Eksklusif di Kabupaten Cilacap

Keberhasilan ASI eksklusif dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor dukungan dari tenaga kesehatan termasuk bidan. (Foto: Panggungharjo)

Cilacap – Cakupan ASI Eksklusif di Kabupaten Cilacap hanya sebesar 36,16 persen angka ini lebih rendah dari akupan ASI eksklusif nasional (Dinkes Kabupaten Cilacap, 2015). Keberhasilan ASI eksklusif dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor dukungan dari tenaga kesehatan termasuk bidan.

Peran bidan dalam mendukung ASI eksklusif antara lain melalui upaya promosi ASI eksklusif yang dimulai dari masa kehamilan. Dukungan lain yang dapat diberikan bidan yaitu mempersiapkan ibu untuk dapat menyusui dengan baik dengan melakukan perawatan payudara selama kehamilan.

Perawatan payudara yang dilakukan pada masa kehamilan bertujuan untuk menjaga kebersihan payudara, kesiapan puting dan memastikan ASI sudah keluar sebelum kelahiran bayi. Bidan juga dapat memfasilitasi ibu untuk melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) pada satu jam pertama setelah bayi lahir, tidak memberikan susu formula dan melakukan rawat gabung (Sabati, 2015).

Pengaruh perawatan payudara terhadap keberhasilan ASI eksklusif bermakna secara statistik, namun berdasarkan hasil penelitian bidan yang melakukan perawatan payudara selama kehamilan hanya sebanyak 25,9 persen.

Hasil tersebut mungkin disebabkan karena sebagian besar bidan hanya memberikan pendidikan kesehatan tentang cara melakukan perawatan payudara tanpa mempraktikan langsung kepada ibu sehingga keterampilan ibu untuk melakukan perawatan payudara masih kurang dan apada akhirnya ibu tidak melakukan perawatan payudara sendiri.

Promosi ASI eksklusif berpengaruh sedang terhadap ASI eksklusif sedangkan perawatan payudara dan IMD berpengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. Bidan perlu meningkatkan perannya dalam melakukan promosi ASI ekskluisf dimana sasaran promosi ASI eksklusif tidak hanya pada ibu tetapi juga perlu melibatkan suami dan keluarga.

Bidan juga perlu meningkatkan perawatan payudara pada ibu hamil sehingga proses laktasi setelah persalinan dapat berjalan dengan lancar. Begitu pula dengan pelaksanaan IMD, bidan perlu mengedukasi ibu tentang pelaksanaan IMD sebelum proses persalinan sehingga pada saat ibu bersalin IMD dapat dilakukan dengan baik.

Pengoptimalan Peran Bidan dalam Memberikan Edukasi Kesehatan

Peran bidan dalam memberikan asuhan kebidanannya adalah sebagai pelaksana, pengelola, pendidik dan peneliti.

Sebagai pelaksana, dan pengelola bidan melaksanakan tugasnya sebagai pemberi asuhan terutama asuhan kehamilan, saat persalinan, masa nifas dan asuhan pada bayi baru lahir serta balita dan pemberian layanan keluarga Berencana.

Dalam memberikan asuhannya, bidan senantiasa melibatkan ibu dan keluarganya sebagai satu kesatuan, agar terbentuk lingkungan keluarga yang sehat dan berdaya, menunjang pada kehidupan selanjutnya

Upaya mencapai tujuan global ke-lima maka perempuan harus mempunyai kapasitas dan kemampuan agar pemberdayaan perempuan dan anak perempuan serta kesetaraan gender tercapai.

Penguatan peran bidan harus didukung dari berbagai pihak, lintas sektor dan lintas program dan peningkatan kapasitas bidannya sendiri mulai dari pengetahuan yang baik sampai kemampuan menjadi advocator.

Bidan sebagai peneliti menuntut kompetensi yang mumpuni untuk melakukan penelitian agar hasilnya bisa dimanfaatkan sebagai landasan praktik berbasis bukti. Dalam kapasitas sebagai peneliti, bidan mengupayakan dan membuat sebuah peta jalan (road map) permasalahan kesehatan masyarakat khususnya isu kesehatan ibu dan anak agar menjadi pijakan penelitian. Road Map yang dibuat harapannya akan berkontribusi terhadap pemecahan masalah yang ada dalam indikatorindikator indikatorindikator tujuan global terutama tujuan kelima.

Penguatan bidan tentu saja berdampak pada pelaksanaan peran bidan yang harus dibantu oleh pihak lain baik lintas program maupun lintas sektoral.

Kontribusi unik dari seorang bidan dibidang kesehatan masyarakat adalah bahwasanya bidan bekerja dengan perempuan, suami dan keluarganya selama melewati masa kehamilan, persalinan dan masa nifas untuk memberikan asuhan yang aman dan holistik.

Untuk mengoptimalkan pengaruhnya, maka bidan harus mempunyai pengetahuan tentang kondisi sosial dan kesehatan masyarakat sekitar dan kebutuhannya, mempunyai jejaring kerja yang baik dengan sistem kesehatan dan sosial, pro aktif dalam mengidentifikasi risiko kesehatan, menyatu dengan perempuan, keluarga dan sistem pelayanan sebaik mungkin (Handayani, 2017).