Sejarah Agraria Kebumen Dorong Kecintaan Daerah

Pembangunan industri minyak kelapa di Kebumen dibuka sejak tahun 1851, pabrik tersebut dikelola oleh pemrintah kolonial Hindia-Belanda dan diberi nama Oliefabrieken Insulinde Keboemen. (Foto: YPKP 65-66 Kebumen)

Kebumen – Kebumen sejatinya dalam sejarah Jawa, merupakan salah satu wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Mataram. Sebagai sebuah wilayah yang secara umum memiliki kontur geografis berupa dataran rendah.

Kebumen memiliki potensi untuk membangun kekuatan ekonomi yang berbasiskan ekonomi agraria. Berdasarkan keadaan ekologi tersebut, maka tidak terlalu mengherankan jika kemudian banyak ditemui pusat-pusat pertanian dan perkebunan dihampir seluruh wilayah Kebumen (seperti sawah dan ladang perkebunan).

Pembangunan industri minyak kelapa di Kebumen dibuka sejak tahun 1851, pabrik tersebut dikelola oleh pemrintah kolonial Hindia-Belanda dan diberi nama Oliefabrieken Insulinde Keboemen.

Pabrik minyak kelapa tersebut dikelola oleh pemerintah Hindia-Belanda hingga tahun 1923, dimana kemudian diberikan kepada pihak swasta untuk dikelola. Perubahan pengeloalaan pabrik minyak kelapa tersebut membawa perubahan pula nama pabrik tersebut, yakni NV. Mexolie Keboemen.

Perusahaan NV. Mexolie Keboemen inilah yang kelak mengelola aktivitas olah industri minyak kelapa di wilayah Kebumen hingga masa akhir penguasaan Hindia-Belanda di Indonesia. Begitu banyak dinamika yang berjalan berupa pasang-surut dan naik turunnya pengelolaan industri minyak kelapa di Kebumen ini, khususnya pada masa-masa krisis ekonomi tahun 1930, hingga adaptasi pengelolaan dari pemerintah menuju pihak swasta, dan lain sebagainya.

Pembahasan sejarah mengenai industri minyak kelapa di Kebumen pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, menjadi satu bahasan yang cukup menarik.

Hal ini bukan saja karena kajian sejarah yang mencoba menangkap dinamika masyarakat Kebumen pada masa kolonial, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi petani Kebumen yang dapat dikatakan masih langka.

Topik ini menjadi semakin menarik karena dapat menyingkap tentang bagaimana sesunguhnya proses adaptasi kelompok petani dalam perubahan-perubahan yang terjadi di Kebumen.

Topik ini dapat menjadi satu bahan rujukan disaat tinjauan tentang sejarah ekonomi di Kebumen yang cukup langka, dan diharapkan akan semakin banyak lagi dimasa yang akan datang berkaitan dengan kajian sejarah ekonomi masyarakat Kebumen (Amri et all., 2018)

Pentingnya Mengenal Sejarah Kedaerahan Bagi Generasi Penerus

Dalam perkembangan zaman yang semakin kompleks ini, tantangan bagi peserta didik adalah kemampuan membaca buku teks sejarah, karena sejarah berhubungan dengan dokumen mengenai masa lampau. Bukan hanya sekadar membaca, tetapi dapat mengetahui isi teks itu dengan baik. Pada tingkat tertinggi, pembacaan teks dapat mendatangkan kearifan. Kearifan itu bukan sesuatu yang menjalar dari teks kepada peserta didik, melainkan sesuatu yang berkembang pada diri peserta didik dengan mempertanyakan teks.

Buku-buku pelajaran sejarah yang tidak selalu dilengkapi dengan gambar-gambar ilustrasi yang relevan dan ketiadaan alat peraga sebagai media pembelajaran sejarah di sekolah mengakibatkan peserta didik kurang mendapatkan gambaran yang jelas tentang materi sejarah yang dipelajari.

Selain disesuaikan dengan jenjang pendidikannya, pelajaran sejarah harus disampaikan dengan memperhatikan ruang dan waktu, spasial dan temporal, struktur dan proses, sinkronis dan diakronis.

Sejarah adalah ilmu tentang manusia, tentang waktu, dan sesuatu yang unik/spesifik. Sejarah meneliti manusia dengan segala aktivitasnya dalam dimensi ruang dan waktu. Pelajaran sejarah diberikan dalam usaha menumbuhkan kesadaran sejarah bersama sebagai bangsa yang majemuk dan multikultural.

Singkatnya, kesadaran sejarah itu mencakup beberapa aspek. Pertama, pengetahuan tentang fakta-fakta sejarah serta hubungan kausalitasnya; kedua, pengisian alam pikiran kita dengan logika; ketiga peningkatan hati nurani kita dengan hikmah kearifan dan kebijaksanaan, untuk menghadapi masa sekarang dan masa depan dengan belajar dan bercermin kepada pengalaman-pengalaman masa lampau.

Dengan begitu pendidikan sejarah atau kesadaran sejarah adalah sikap kejiwaan atau mental attitude dan state of mind yang merupakan kekuatan untuk ikut aktif dalam proses dinamika bangsa. Melalui ilmu sejarah kita bisa menggunakan pikiran sehat, logika dan imajinasi, serta cermat dalam memanfaatkan sumber-sumber sejarah yang bermakna.

Menumbuhkan kesadaran sejarah kepada generasi milenial harus dilakukan dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif agar mudah diterima. Sebelum mempersoalkan cara dan strategi pembelajarannya, sesungguhnya ada persoalan lain yang harus menjadi perhatian bersama yaitu bahan ajar dan sumber referensi yang dijadikan rujukan (Warto, 2017).