Kabupaten Kebumen dalam Pengentasan Kemiskinan Melalui Sektor Pariwisata

Adapun sektor pariwisata dikembangkan salah satu tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Kebumen yang masih tinggi. (Foto: Klirong Info)

Kebumen – Pemerintah Kabupaten Kebumen, dalam hal ini adalah Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Selanjutnya disebut Disporawisata) selaku bagian dari Perangkat Daerah di Kabupaten Kebumen telah melaksanakan urusan pemerintahan pilihan yakni pengembangan sektor pariwisata.

Adapun sektor pariwisata dikembangkan salah satu tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Kebumen yang masih tinggi. Terdapat dua upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata yakni dengan pengembangan desa wisata dan pengembangan destinasi wisata.

Pengembangan desa wisata ini termasuk ke dalam kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Pengembangan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat memungkinkan masyarakat dilibatkan dalam pengelolaannya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Masyarakat dituntut  untuk mampu mengembangkan potensidaerahnya dan terlibat dalam pembangunannya. Dilihat dari upaya pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata, pengembangan desa wisata mencakup pelibatan masyarakat dalam pengembangan/pengelolaan dan perluasan kesempatan usaha baru.

Pengembangan destinasi wisata menjadi salah satu upaya dari Disporawisata untuk mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata di Kabupaten Kebumen. Pengembangan destinasi wisata oleh Disporawisata memfokuskan pada peningkatan infrastruktur di objek wisata dan pelibatan masyarakat dalam kepariwisataan.

Hambatan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata meliputi kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM), kurangnya anggaran dana, dan Kurangnya dukungan dari masyarakat dalam pengembangan pariwisata (Pratama, 2017).

Strategi yang Dapat Mendorong Peningkatan Animo Pariwisata Daerah

Peningkatan media promosi dan kemudahan pelayanan melalui penggunaan teknologi informasi. Kegiatan promosi memegang peranan yang sangat penting terhadap perkembangan kepariwisataan.

Kegiatan promosi yang dilakukan pemerintah harusnya lebih teratur dan dilaksanakan secara bersama-sama dengan melibatkan pengelola daya tarik wisata, hotel, restaurant dan segala pihak yang mendukung keberadaan pariwisata.

Pemerintah kabupaten juga harus bertindak proaktif dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, salah satunya dengan menggunakan jejaring internet seperti google, atau dengan membuat web tersendiri yang berisikan profil atraksi wisata serta fasilitas wisata lengkap dengan berbagai macam informasinya, sehingga dapat lebih mudah di akses oleh wisatawan. Disamping itu media ini lebih efektif memberikan informasi dibandingkan dengan menggunakan brosur karena informasi yang ada bisa di up-date sesuai dengan kondisi terkini.

Selain melalui media elektronik perlu juga dilakukan peamasaran melalui media cetak. Saat ini sudah banyak majalah pariwisata baik ruang lingkup lokal maupun internasional. Majalah pariwisata merupakan majalah yang berisikan segala hal yang berkaitan dengan pariwisata baik itu fasilitas wisata, objek wisata, kegiatan wisata, berita wisata hingga aturan berwisata. Sehingga majalah pariwisata merupakan sarana yang potensial untuk dijadikan sebagai media promosi. Dan tentunya agar tepat sasaran maka perlu pemillihan majalah yang cukup selektif, sehingga target bisa didapat sesuai dengan perencanaan atau harapan.

Peningkatan kualitas SDM. Sumber daya manusia merupakan pelaku pariwisata yang memegang peranan sangat penting. Semakin bagusnya kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh sebuah atraksi wisata akan memberikan keunggulan tertentu, sehingga mampu untuk bersaing dengan daya tarik wisata yang sejenis.

Perlu adanya kerjasama antara investor dan pemerintah daerah untuk memberikan pembinaan dan pelatihan bagi sumber daya manusia yang masih memiliki kualifikasi pendidikan yang kurang dalam bentuk kursus-kursus pada bidang-bidang tertetu sesuai dengan kemampuan SDM dan kebutuhan pengembangan industri pariwisata.

Dengan demikian pengelola objek wisata harus berusaha memanfaatkan potensi alam dan budaya yang ada tanpa harus melakukan eksploitasi, sehingga sumber daya yang ada masih terlihat alami atau natural. Sebuah kegiatan konservasi baik itu konservasi alam maupun konservasi budaya perlu ditingkatkan dengan tujuan untuk menjaga sumber daya yang ada tidak mengalami perubahan yang besar atau justru menjadi rusak (Widiastini et al., 2012).