Dinamika Kedudukan Interface di Pesisir Kabupaten Kebumen

Ditinjau dari pengambilan airtanah, Pesisir Kebumen relatif statis baik ditinjau dari pertambahan penduduk maupun kegiatan industri, sehingga variasi pengambilan airtanah akibat kedua aspek tersebut relatif kecil. (Foto: Pemkab Kebumen)

Kebumen – Ditinjau dari pengambilan airtanah, Pesisir Kebumen relatif statis baik ditinjau dari pertambahan penduduk maupun kegiatan industri, sehingga variasi pengambilan airtanah akibat kedua aspek tersebut relatif kecil.

Oleh sebab itu, pengaruh dari aspek pengambilan airtanah juga dapat diabaikan. Hal paling masuk akal adalah adanya perubahan tata air berupa pertambahan akumulasi resapan air hujan secara kontinyu selama 21 tahun.

Air hujan yang jatuh di daerah ini dapat meresap secara lebih intensif di daerah beting gisik. Akibatnya jumlah airtanah yang berada di daerah ini bertambah besar dengan daya desak yang kuat, sehingga mampu menekan air laut menjauhi daratan atau ke arah dalam.

Selain itu daerah back swamp yang terdapat di wilayah ini juga tidak lagi kemasukan air laut pada saat pasang. Hasil pengamatan di lapangan maupun wawancara dengan penduduk menunjukkan tidak adanya sumur penduduk yang berasa asin.

Hasil pendugaan geolistrik pada tahun 2014, menunjukkan bahwa muka freatik airtanah tawar ditemukan pada kedalaman antara 2 hingga 10 meter dari permukaan tanah.

Hal ini disebabkan oleh desakan air tanah tawar yang semakin kuat karena jumlahnya yang semakin besar akibat akumulasi peresapan air hujan ke dalam airtanah yang intensif dan terjadi pembilasan air laut oleh air tawar yang intensif. Selain itu, daerah back swamp yang terdapat di wilayah ini tidak lagi kemasukan air laut pada saat pasang (Purnama, 2017).

Pengoptimlan Pengolahan Air Bersih Daerah Pantai

pencemaran air tanah sering menjadi masalah besar, terutama di pulau-pulau dataran rendah (ibid). Rendahnya kualitas air ini dapat membawa penyakit bawaan air dan mempengaruhi kesehatan manusia. Penyakit-penyakit bawaan air dan penyakit menular tropis menyebar secara luas sebagai akibat dari kontaminasi pasokan air oleh kotoran manusia.

Aspek lain yang penting menjadi indikator risiko terkait dengan sumber air adalah kelangkaan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, yang dimaksud dengan kelangkaan air adalah tidak tersedianya atau tidak bisa digunakannya sumber air minum utama paling tidak sehari satu malam. Di pulau-pulau kecil, rata-rata 81,4% rumah tangga mengatakan mengalami kelangkaan air pada musim kemarau.

Dalam mewujudkan keberlanjutan pembangunan air minum yang efektif dan bermanfaat, dapat dilakukan dengan 16 (enam belas) strategi yang saling terkait satu dengan lainnya secara komprehensif.

Mulai dari mendorong partisipasi masyarakat, kemudian meningkatkan sumber daya manusia yang ada, serta meningkatkan kualitas pengelolaan sarana air minum sampai dengan mengembangkan monitoring dan evaluasi hasil pembangunannya.

Masyarakat baik nelayan maupun aparat desa diajak berdiskusi mulai dari aspek perencanaan, besarnya kebutuhan air minum, aspek teknis dan manajemen, juga dala pelaksanaan pembangunan masyarakat setempat dilibatkan, kemudian menentukan kemampuan masyarakat dalam membeli air minum, serta menetapkan pengelola dalam melaksanakan pengelolaan operasional dan pemeliharaannya (Yudo, 2005).