Daya Saing Stroberi di Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah

Jumlah produksi stroberi tahun 2013 di Kabupaten Purbalingga merupakan jumlah produksi tertinggi diantara 5 Kabupaten sentra produksi stroberi lainnya di Jawa Tengah. (Foto: Jateng Tribunnews)

Purbalingga – Stroberi merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang memiliki nilai jual dan produksi yang tinggi yang merupakan sumber usaha yang penting dan memberikan keuntungan di Desa Serang Kabupaten Purbalingga.

Jumlah produksi stroberi tahun 2013 di Kabupaten Purbalingga merupakan jumlah produksi tertinggi diantara 5 Kabupaten sentra produksi stroberi lainnya di Jawa Tengah. Jumlah produksi yang tinggi menjadi peluang untuk terus memperluas pangsa pasar buah stroberi dari Desa Serang sehingga diharapkan dapat menjadi komoditi ekspor unggulan yang dapat bersaing di Pasar Internasional.

Besarnya produksi buah stroberi tersebut, belum diimbangi dengan pengetahuan petani dalam menggunakan faktor-faktor produksi yang tepat. Selain itu, petani menjual buah stroberi ke pengepul dan bukan ke pasar yang ada di kecamatan setempat atau ke pedagang luar kota.

Hal ini tentunya dapat memunculkan persaingan harga antar petani stroberi. Dampak yang mungkin ditimbulkan seperti harga yang berfluktuasi, akan mempengaruhi minat petani maupun pengusaha industri berbahan baku stroberi dalam sistem produksinya.

Kondisi tersebut sangat penting untuk diperhatikan supaya potensi dan peluang yang sudah ada pada komoditas stroberi sebagai salah komoditas ekspor di Kabupaten Purbalingga tidak hilang mengingat produksinya yang sudah lebih tinggi dari pada Kabupaten lain di Provinsi Jawa Tengah.

Total biaya mengusahakan usahatani stroberi rata-rata adalah Rp 18.442.467 per usahatani per musim tanam. Rata-rata Penerimaan Usahatani stroberi adalah Rp 39.081.320 per usahatani per musim tanam. Pendapatan rata-rata usahatani melon adalah Rp 20.638.852 per usahatani per musim tanam.

Eifisiensi usahatani stroberi di Desa Serang sebesar 1,11 yang berarti usahatani stroberi di Desa Serang layak diusahakan dan memberikan manfaat secara ekonomi.

Nilai BSD usahatani stroberi di Desa Serang sebesar Rp 6028,99. Usahatani stroberi memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif sebesar 0,45 yang berarti bahwa usahatani stroberi efisien secara finansial dan ekonomi.

Hal ini menunjukan bahwa pemenuhan permintaan dalam negeri terhadap komoditi stroberi lebih menguntungkan jika meningkatkan produksi domestik stroberi dalam negeri dibandingkan mengimpor buah stroberi ditinjau dari efisiensi penggunaan sumberdaya domestik yang ada.

Cara Pengembangan Stroberi Guna Optimalkan Hasil Panen

Bambu merupakan alternatif media tanam yang digunakan untuk memodifikasi sistem budi daya stroberi guna menunjang kemajuan dan pengembangan desa wisata. Pada konstruksi bambu, kelemahan utama terletak pada sambungan dan keawetan bahan. Pada desain di atas, bagian sambungan dibuat dengan paku dan diikat dengan kawat/ tali sehingga sambungan bersifat lentur atau tidak kaku dan tidak menyebabkan timbulnya retakan pada bambu yang dapat menurunkan kekuatan sambungan.

Dengan sambungan tersebut, konstruksi bambu menjadi cukup kuat untuk menopang beban berupa tanaman dan tanah yang tergolong ringan. Untuk keawetan/ketahanan bahan yang berasal dari bambu memang kurang baik. Biasanya dalam proses pembangunan konstruksi bambu akan dilakukan pengawetan dengan berbagai metode terlebih dahulu untuk memperpanjang masa layanan dari bambu tersebut.

Teknik budi daya tanaman stroberi semakin berkembang. Hal tersebut diawali dengan pengembangan teknik budi daya melalui sistem bedengan dan dilanjutkan dengan sistem polibag yang menggunakan karung bijih besi. Kelemahan kedua teknik ini adalah (a) memerlukan tanah yang luas, (b) boros karena harga mulsa untuk penutuh lahan harganya mahal, dan (c) memerlukan perawatan yang intensif (dari gangguan rumput dan kekeringan).

Kelemahan teknik budi daya yang kedua, yaitu sistem polibag adalah (a) sulitnya menyediakan polibag dengan bahan karung bekas bijih besi, (b) memerlukan tanah yang banyak, dan (c) tidak go green (hal ini bertentangan dengan kelestarian lingkungan di Desa wisata Banyuroto).

Oleh karena itu, sangat diperlukan usaha untuk mengembalikan kelestarian lingkungan, menambah estetika desa wisata, pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sekitar, serta mendukung daya dukung pemerintah dan masyarakat.

Inovasi teknik budi daya stroberi dengan vertikultura mampu meningkatkan potensi keindahan wisata. Pemeliharaan dan perawatan tanaman stroberi melalui teknik vertikultura mudah dilakukan dan tidak memerlukan waktu yang lama serta biaya yang mahal sehingga program ESD dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Penanganan hama dan penyakit tanaman stroberi dapat dilakukan dengan pemberian pestisida nabati. Adapun dampak/manfaat kegiatan ini adalah meningkatnya pemberdayaan masyarakat melalui diversivikasi bahan pangan produk olahan stroberi dan berkembangnya potensi desa wisata selain melalui jejaring website dan iklan sosial (Aristya et al., 2017).