Tim Gugus Tugas COVID-19 Pastikan Penanganan Maksimal dari Rumah Sakit

Dari hasil rapat koordinasi yang lintas sektor yang dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Nugrogo Triwaluyo, Jumat (3/4). (Foto: Pemkab Kebumen)

Kebumen – Tim Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Kebumen terus berkerja maksimal untuk mengatasi penyebarluasan corona. Selain menyiapkan dan mengaktifkan pos pantau di 6 (enam) titik pintu perbatasan wilayah masuk Kebumen, kesiapan logistik dari rumah sakit rujukan juga dalam pemantauan khusus.

Dari hasil rapat koordinasi yang lintas sektor yang dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Nugrogo Triwaluyo, Jumat (3/4) di ruang rapat setda diketahui, logistik berupa APD, thermo Gun, Hand sanitizer dan disinfektan di Kebumen dinyatakan cukup. Salah satunya logistik di Rumah Sakit dr Soedirman Kebumen.

Selain kesiapan logistik, RS dr Soedirman yang saat ini tengah merawat 12 (dua belas) PDP juga telah menyiapkan ruang isolator sebanyak 17 tempat tidur. Dijelaskan Nugroho Triwaluyo, koordinasi ini penting untuk memastikan kesiapan semuanya dalam penanganan COVID-19 di Kabupaten Kebumen.

“Kami harus pastikan semua siap secara logistik dan alat seperi ruang isolasi di setiap rumah sakit yang dijadikan rujukan,” ujar Nugroho.

Hingga Jumat 3 April 2020, jumlah COVID 19 Kebumen untuk kasus positif sebanyak 2 (dua) kasus, salah satu diantaranya meninggal dan satu orang lainnya dalam perawatan dengan kondisi semakin membaik. Sedangkan untuk jumlah OPD mencapai 1.630 dan PDP 45 orang.

Selain Rumah Sakit dr Soedirman Kebumen, kesiapan logistik dan alat yang juga dilakukan pengecekan yakni di Rumah Sakit Umum Prembun. Di rumah sakit ini terdapat 6 (enam) PDP yang dirawat. Dari sisi logistik dinyakan cukup termasuk penyediaan ruang isolasi sebanyak 8 (delapan) ruangan.

Peran Perawat dalam Memberikan Pelayanan Optimal Kepada Pasien

Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terbukti berbagai cara dilakukan orang untuk mendapatkan taraf kesehatan yang prima. Bila seseorang menderita sakit biasanya mereka akan segera berusaha untuk mengatasi dan mengobati gangguannya atau penyakitnya hingga sembuh.

Untuk mencapai kesembuhan yang diharapkan seseorang memerlukan bantuan dari pihak lain yaitu Rumah Sakit sebagai institusi yang berwenang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat luas.

Salah satu sumber daya manusia di Rumah Sakit yang menentukan penilaian terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan adalah tenaga keperawatan. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat perawat adalah bagian dari tenaga paramedis yang memberikan perawatan kepada pasien secara langsung.

Perawat memiliki tanggung jawab dan kewenangan untuk mengambil langkah-langkah keperawatan yang diperlukan guna kesembuhan pasien. Fokus keprofesian ini adalah hubungan antara perawat dengan pasien artinya perhatian dan tindakan keperawatan berubah dari pendekatan yang berorientasi penyakit medis ke model yang memusatkan perhatian kepada pasien sebagai individu dan kebutuhan pasien (Cobert dalam Ellis dkk, 1995).

Cobert (Ellis dkk, 1995) menyatakan bahwa untuk menjalin hubungan emosional antara perawat dan pasien memerlukan kehangatan, ketulusan dan empati serta penerimaan secara positif tanpa syarat (unconditioning possitive regard).

Untuk mewujudkan hal ini diperlukan kerangka pikir, keadaan emosi, keterampilan dan suasana yang kondusif khususnya dari pihak perawat. Hal ini merupakan sesuatu yang penting karena ketika perawat berhadapan dengan pasien dan keluarga pasien, akan menghadapi kecemasan, keluhan, tuntutan dan mekanisme pertahanan diri pasien yang muncul karena kondisi fisiknya yang lemah dan dalam kondisi sakit.

Dalam situasi yang demikian perawat diharapkan dan dituntut untuk dapat mengatasi masalah dengan cara memahami alur pikiran dan perasaan pasien dengan segala manifestasi psikologis yang muncul akibat penyakit yang dideritanya (Hadjam, 2001).