Perencanaan Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan Cilacap

Kabupaten Cilacap mempunyai lahan sawah terluas di Jawa Tengah dengan potensi pertanian yang cukup tinggi terutama tanaman pangan. (Foto: beritakotacilaccap)

Cilacap – Kabupaten Cilacap mempunyai lahan sawah terluas di Jawa Tengah dengan potensi pertanian yang cukup tinggi terutama tanaman pangan. Kabupaten Cilacap merupakan Kabupaten yang berkontribusi besar dalam ketahanan pangan di Jawa Tengah.

Dalam era globalisasi dan persaingan bebas, pemerintah dan masyarakat dituntut untuk lebih fokus dan inovatif dalam pembangunan. Pembangunan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Cilacap diawali dengan perencanaan. Perencanaan pembangunan pertanian tanaman pangan Kabupaten Cilacap diharapkan dapat menghadirkan perbaikan yang lebih baik di masa depan.

Proses perencanaan pembangunan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Cilacap didominasi oleh pendekatan teknokratik dan top down planning. Proses perencanaan melalui beberapa tahapan, yaitu:

  1. Perumusan tujuan perencanaan; Perumusan tujuan perencanaan pembangunan pertanian Kabupaten Cilacap mengacu pada RPJMD dan visi dan misi Rencana Strategis Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap;
  2. Pengumpulan dan analisis data; Perencanaan pembangunan pertanian tanaman pangan Kabupaten Cilacap perlu mempertimbangkan potensi daerah Kabupaten Cilacap, hasil evaluasi program dan kegiatan tahun sebelumnya, data lapangan yangdiperoleh UPT, proposal yang diajukan masyarakat, anggaran dan regulasi serta strategi dan kebijakan yang ada dalam penyusunannya;
  3. Koordinasi dalam perencanaan pembangunan antar stakeholder melalui musrenbang masih ditemukan beberapa kendala yaitu kurangnya keterlibatan kelompok tani sebagai stakeholder vital dan kurangnya integrasi antara Dispertanak dan BP2KP sehingga perlu melibatkan kelompok tani dalam proses perencanaan pembangunan pertanian tanaman pangan. Karena kelompok tani merupakan wadah komunitas masyarakat petani yang menjadi pusat semua aktivitas petani mulai dari musrenbang, pendampingan program-program dan kegiatan pembangunan pertanian;
  4. Penentuan program dan kegiatan prioritas; Penentuan program dan kegiatan prioritas merupakan hasil kesepakatan semua peserta musyawarah melalui pembahasan dalam rapat koordinasi; dan
  5. Faktor-faktor yang mendukung proses perencanaan adalah aspek regulasi, aspek geografis dan demografis dari Kabupaten Cilacap. Sedangkan faktor-faktor yang menghambat proses perencanaan adalah aspek pendanaan, aspek sumber daya manusia, koordinasi lapangan serta teknologi dan inovasi.

Perlu penambahan kuantitas dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama sumber daya manusia perencana di Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap serta pegawai tingkat UPT.

Penambahan sumber daya manusia perencana dapat dilakukan dengan mengikutsertakan pegawai pada Dispertanak Kabupaten Cilacap melalui Diklat Jabatan Fungsional Perencana. Selain itu, perlu melakukan pemetaan potensi pertanian tanaman pangan sebagai penunjang sehingga mempermudah dalam analisis data. Pemetaan potensi digunakan sebagai dasar penentuan Satuan Wilayan Pembangunan dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah.

Perencanaan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Pembangunan pertanian dalam tiga dasawarsa terakhir lebih difokuskan pada pengembangan komoditas primer dengan mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam. Untuk beberapa komoditas telah terjadi pelandaian pencapaian produktivitas karena keterbatasan potensi teknologi (Gustiana, 2015).

Dilain pihak juga terjadi variasi inefisiensi teknologi pada berbagai wilayah dengan karakteristik yang berbeda. Pada kedua kasus ini peranan teknologi menjadi sangat penting, yaitu teknologi yang mendorong tingkat produktivitas lebih tinggi dan bersifat spesifik lokasi.

Pengembangan komoditas pertanain ke depan perlu didukung oleh sumberdaya kapital, teknologi maju, dan sumberdaya manusia terampil berwawasan agribisnis dan berkelanjutan. Pengembangan paradigma baru ini hendaknya dilaksanakan dalam konteks pemabangunan wilayah, berbasis komunitas lokal dan sejalan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah.

Melalui pendekatan ini diharapkan akan terjadi keberlanjutan pelaksanaan program pembangunan karena adanya dukungan partisipasi masyarakat luas, terdapat sinergi antar subsistem agribisnis, antar sektor pembangunan, dan antar wilayah desa-kota (agropolitan). Melalui model pengembangan agribisnis ini akan terjadi peningkatan daya saing, nilai tambah, nilai tukar dan kesejahteraan petani.

Pembangunan pertanian berwawasan agribinsis yang berkelanjutan dalam perspektif desentralisasi dan otonomi daerah perlu dihela oleh sumberdaya modal, SDM yang handal, dan pengembangan potensi teknologi secara dinamis.

Dalam perumusan perencanaan dan implementasinya perlu dipahami profil dan dinamika ekonomi pedesaan, konsepsi dan strategi pengembangannya dan kebijaksanaanpendukung secara komprehensip dalam operasionalnya di lapangan.

Fokus pembangunan nasional pada sektor agribisnis dinilai sejalan dengan struktur perekonomian saat ini dan diyakini akan mampu memacu pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan pemabngunan nasional.

Daerah pedesaan dikembangkan berdasarkan pewilayahan komoditas unggulan utama yang menghasilkan bahan baku pengembangan agroindustri di daerah perkotaan. Satuan usaha pengembangan diorganisasikan ke dalam koperasi, perusahaan kecil dan menegah, dengan mempertimbangkan konsepsi pengembangan sebagai berikut:

  1. Perkembangan kelembagaan usaha dilakukan melalui insentif dan tidak perlu dicampuri oleh pemerintah;
  2. Selain berfungsi sebagai pusat agribisnis, kota juga berfungsi sebagai pusat pelayanan agribisnis yang kompetitif;
  3. Lokasi dan sistem transportasi agroindustri dan pusat pelayanan harus memungkinkan para petani untuk bekerja sebagai pekerja paruh waktu;
  4. Pusat agroindustri juga berfungsi sebagai pusat pengembangan sumberdaya manusia untuk teknologi yang berkaitan dengan komoditas utama.
  5. Perkembangan institusional selayaknya dapat berlangsung secara ilmiah, kalaupun ada campur tangan pemerintah hanya dalam bentuk insentif dan disentif.