Keberagaman Fauna ikan di Sungai Cikawung Kabupaten Cilacap

Sungai Cikawung merupakan salah satu sungai yang cukup besar di bagian barat Kabupaten Cilacap dengan panjang lebih kurang 55 km. (Foto:Purwokertokita)

Cilacap – Sungai Cikawung merupakan salah satu sungai yang cukup besar di bagian barat Kabupaten Cilacap dengan panjang lebih kurang 55 km. Sungai tersebut memiliki mata air di Gunung Maruyung yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng wilayah barat dan terletak di Desa Kutabima, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap.

Sungai Cikawung mengalir melewati persawahan, perumahan, perkebunan karet (Hevea brasiliensis), perkebunan cokelat (Theobroma cacao), hutan jati (Tectona grandis), dan hutan pinus (Pinus mercusii).

Sungai Cikawung memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi. Perbedaan habitat tepian sungai memengaruhi karakter fisik-kimiawi Sungai Cikawung dari hulu ke hilir. Perubahan tersebut diduga menyebabkan perbedaan ke-aneka-ragaman dan persebaran spesies ikan pada setiap bagian Sungai Cikawung.

Keanekaragaman dan persebaran ikan di sungai dipengaruhi tersebut juga dipengaruhi oleh faktor fisik-kimiawi perairan dan geologis. Faktor-faktor tersebut akan membentuk berbagai mikrohabitat di ekosistem sungai.

Mikrohabitat akan memengaruhi keane-karagaman dan persebaran ikan di sungai. Hal ini karena ikan merupakan organisme akuatik yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh faktor fi-sik-kimiawi perairan, seperti substrat, kedalaman, intensitas cahaya, kecepatan arus, suhu, ke-asaman (pH), dan kandungan oksigen terlarut

Setiap spesies memiliki kelimpahan dan persebaran longitudinal yang berebeda. Keanekaragaman spesies yang tinggi didukung oleh kualitas perairan yang baik, sedangkan perbedaan kelimpahan dan persebaran longitudinal dari setiap spesies diduga karena adanya perbedaan karakter fisik-kimiawi dari daerah hulu sampai hilir Sungai Cikawung, khususnya kandungan oksigen terlarut, karbon dioksida bebas, keasaman (pH), dan susbstrat dasar perairan.

Perlunya Kebijakan Pemerintah Guna Cegah Pencemaran Air

Gusriani (2014) menjelaskan bahwa prioritas kebijakan untuk mencegah terjadinya pencemaran air dan penurunan kualitas air sehingga air sungai dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya serta berkelanjutan sebagai berikut:

  1. Meningkatkan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air: Iventarisasi sumber pencemaran diperlukan untuk mengetahui penyebab terjadinya penurunan kualitas air. Hal ini disebabkan karna sumber pencemar air yang akan diidentifikasikan akan selalu berkembang dari waktu kewaktu tergantung dinamika pembangunan, pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat setempat. Inventarisasi dilakukan dengan tujuan untuk mengkarakteristikan aliran-aliran pencemar dalam lingkungan itu, sedang kan identifikasi dilakukan untuk mengenali dan mengelompokkan jenis pencemar, sumber dan lokasi serta pengaruh dampak bagi lingkungan.
  1. Meningkatkan pengelolaan limbah: Upaya untuk mengurangi pencemaran limbah limbah cair pada sungai yaitu dengan cara melakukan pengelolaan limbah sebelum dibuang kesungai. Pengelolaan limbah dapat dilakukan dengan cara pembuatan IPAL.
  1. Menetapkan daya tampung beban pencemaran: Penetapan daya tampung pencemaran dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan kebijakan dalam menetapkan tata ruang, memberikan izin usaha/ kegiatan yang mempengaruhi kualitas air baik secara langsung maupun tidak langsung. Memberikan izin lingkungan air limbah kesumber air dan digunakan sebagai dasar pengalokasian beban yang diperolehkan masuk kesumber air dari berbagai sumber pencemar supaya tindakan pengendalian yang tepat dapat dilaksanakan sehingga baku mutu air yang telah ditetapkan dapat dipenuhi atau mutu air sasaran dapat dicapai.
  1. Meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah: Peningkatan pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan limbah dilakukan dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kesehatan juga perlu ditingkatkan. Hal ini perlu untuk mencegah masyarakat melakukan pembuangan sampah kesungai atau memanfaatkan bantaran sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
  1. Meningkatkan pengawasan terhadap pembuangan air limbah: Pencemaran air dapat diminimalisir dengan melakukan pengawasan terhadap pembuangan air limbah kesungai. Pengawasan dilakukan untuk menjamin pelaksanaan persyaratan yang tercantum dalam izin lingkungan pembuangan air limbah kesungai dan persyaratan teknis pengendalian pencemaran air yang tercantum dalam dokumen AMDAL atau UKL/ UPL. Hasil pelaksanaan pengawasan dapat digunakan sebagi acuan dalam pembinaan penataan atau penegakan Hukum.
  1. Meningkatkan pemantauan kualitas air sungai: Upaya pemantauan kualitas air sungai dapat dilakukan secara rutin melakukan pengukuran parameter kualitas air sungai dan pemeriksaan limbah yang dihasilkan dari kegiatan industri yang membuang limbah kesungai.