Potensi Industri pariwisata Kabupaten Banyumas

Berbagai jenis wisata yang banyak dikunjunga wisatawa lokal maupun wisatawanmanca nergara di daerah Kabupaten Bayumas terbagi menjadi wisata alam, wisata budaya, wisata religi. (Foto: banyumasku)

Banyumas – Kabupaten Banyumas memiliki keanekaragam wisata dari wisata alam, wisata religi, hingga wisata pendidikan yaitu musium. Pemerintah daerah berupaya mengembangkan daerah wisata ini, sehingga terjadi peningkatan jumlah obyek wisata dari 10 obyek wisata di tahun 2002 hingga mencapai 14 obyek wisata ditahun 2013.

Berbagai jenis wisata yang banyak dikunjunga wisatawa lokal maupun wisatawanmanca nergara di daerah Kabupaten Bayumas terbagi menjadi wisata alam, wisata budaya, wisata religi.

Perkembangan yang cepat terjadi ditahun 2009 dari 11 lokasi wisata menjadi 13 lokasi wisata di tahun 2011. Pada tahun tersebut pemda Kabupaten Banyumas mengijinkan pembangunan wisata alam khususnya wisata air di desa Pancasan Kecamatan Ajibarang dan taman kota di Purwokerto.

Wisata alam nampaknya tetap menjadi wisata andalan terlihat dari jumlah pengunjungnya. Perkembangan wisata yang berada di satu komplek seperti komplek wisata Baturaden yang terdiri dari Lokawisata Baturaden, Bumi Perkemahan, Telaga Sunyi, Pancuran Tujuh, Pancuran Tiga Serta Wana Wisata Baturaden memiliki pengunjung yang banyak disusul oleh pengunjung air terjun (curug) Cipendok yang terus tinggi.

Kabupaten Banyumas juga menawarkan wisata budaya yang meliputi wisata religi, musium dan tempat-tempat budaya. Wisata budaya musium wayang menampilkan berbagai koleksi wayang di daerah sekitar Banyumas. Termasuk dalam paket wisata ini adalah penelusuran budaya Banyumasan.

Berbagai obyek wisata budaya yang khas masih dapat dikembangkan karena memiliki ciri tersendiri yang menyerap pengaruh dua budaya yang berbada. Perpaduan wisata alam dan wisata budaya dapat meningkatkan potensi ekonomi masyarakat.

Peran Pemerintah Serta Masyarkat Kembangkan Pariwisata Daerah

Kepariwisataan merupakan salah satu bentuk kebijakan pembangunan nasional yang diarahkan agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di tingkat daerah. Pariwisata bukan hanya menjadi sektor yang mampu mengembalikan eksistensi kekayaan lokal baik fisik maupun budaya tetapi juga mampu memperluas kesempatan kerja.

Peranan pariwisata setidaknya memiliki tiga komponen penting dalam pembangunan, yaitu mencakup segi ekonomi sebagai penyokong perekonomian, segi sosial sebagai alternatif membuka lapangan kerja sekaligus menyerap tenaga kerja setempat, dan segi kebudayaan sebagai wadah bagi eksistensi dan perkembangan budaya lokal yang ada di Indonesia (Wardoyo & Bahtarudin, 2003).

Pentingnya sektor pariwisata dalam mendukung pembangunan nasional menjadikan pemerintah berada pada posisi sebagai penanggung jawab. Pemerintah harus bertanggung jawab sebagai pembuat serta penegak regulasi. Pada tahun 2018, pariwisata di Indonesia merupakan salah satu dari tiga sektor unggulan pembangunan selain pertanian dan perikanan.

Dalam aktivitas pariwisata, masyarakat harus terlibat setidaknya dalam pelaksanaan program pembangunan wisata di daerahnya. Pariwisata baik yang dikelola oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat akan memberikan perubahan bagi aktivitas masyarakat lokal yang tinggal di sekitar lokasi wisata.

Pengembangan pariwisata dapat memberikan dampak positif dan peluang bagi ekonomi masyarakat. Tumbuhnya sektor jasa di samping pertumbuhan wisata, menjadi peluang penting bagi masyarakat lokal dalam penyerapan tenaga kerja.

Sektor ekonomi yang tumbuh dari pariwisata mampu menciptakan peluang bagi lapangan kerja di bidang jasa, seperti hotel, restoran, pejualan souvenir serta transportasi. Selain itu, potensi kekayaan budaya yang mampu dikembangkan jika masyarakat turut serta mulai dari perencanaan kegiatan wisata sampai dengan pertanggungjawaban kegiatan pariwisata.

Pentingnya peran masyarakat sebagai penggerak kegiatan wisata akan melahirkan aktivitas pariwisata yang sesuai dengan potensi lokal yang ada. Hal ini berdampak pada semakin maksimalnya pencapaian tujuan dari aktivitas pariwisata dalam mendorong masyarakat menuju kesejahteraan serta kemandirian.

Daerah wisata yang mampu bertahan di tengah perubahan jaman adalah yang mampu berkreasi serta berinovasi dalam pengembangan wisata. Kondisi ini hanya bisa digali jika lahir kesadaran masyarakat serta kepedulian bahwa pariwisata mampu menggerakkan sektor ekonomi rakyat yang berkelanjutan. Artinya, masyarakat setempat merupakan aktor yang paling memahami kondisi lingkungannya baik dalam melihat kelemahan, kelebihan, tantangan dan peluang.