Keragaman Padi Gogo Lokal Di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah

Saat ini varietas padi gogo yang mayoritas dibudidayakan petani di Kabupaten Banyumas adalah varietas Situbagendit, Situpatenggang dan Ciherang. (Foto: gatra)

Banyumas – Potensi lahan kering dengan pemanfaatan untuk budidaya padi gogo diharapkan dapat mengatasi masalah kemandirian pangan bagi masyarakat.

Selainitu, untuk pengembangan plasma nutfahtanaman ke lokasi lain (ex situ) sangatdiperlukan kondisi lingkungan yangmenyerupai kondisi in situnya dan untukkeperluan pelestarian plasma nutfahtanaman pangan diperlukan inovasiteknologi indigenous yang memadai danmudah diserap oleh petani.

Salah satu unsur teknologi yang diterapkan dalam intensifikasi adalah introduksi varietas unggul baru. Penemuan dan introduksi varietas unggul baru tersebut ternyata memberikan dampak yang tidak menguntungkan bagi kelestarian varietas padi lokal.

Saat ini varietas padi gogo yang mayoritas dibudidayakan petani di Kabupaten Banyumas adalah varietas Situbagendit, Situpatenggang dan Ciherang.

Selain itu sebanyak 13 varietas padi lokal Banyumas terancam punah akibat tidak diperdayakan secara intensif, yaitu Padi Hitam, padi Gandamana, padi Kidangsari, padi Konyal, padi Cere Unggul, padi Cere Kuning, padi Sari Wangi, padi Pandan Wangi, padi Mentik Wangi, padi Mentik, padi Mendali, padi Sri Wulan, padi Wangi Lokal (beberapa di antaranya potensial dikembangkan sebagai padi gogo).

Usaha yang mungkin dapat dilakukan untuk maksud pelestarian tersebut yaitu dengan cara melakukan pembinaan kepada petani yang menanam varietas lokal saat ini khususnya dalam teknik pergiliran tanaman dengan cara menanam varietas lokal tertentu pada waktu petani di daerah tersebut mendapat giliran menanam varietas yang berumur lebih dari 130 hari.

Secara umum keunggulan dan keunikan varietas Situbagendit, Situpatenggang dan Ciherang adalah produksi tinggi, umur pendek, tahan hama penyakit. Sedangkan khusus untuk jenis Situ Patenggang agak tahan kekeringan.

Menuju Ketahanan Pangan Indonesia Berkelanjutan

Permasalahan dan tantangan untuk mewujudkan ketahanan pangan Indonesia berkelanjutan bersifat multidimensi, mencakup aspek ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan. Indentifikasi permasalahan dan tantangan tersebut dapat dilakukan melalui analisis penawaran dan permintaan pangan.

Dari sisi penawaran, tantangan tersebut diantaranya berupa persaingan pemanfaatan sumber daya alam, dampak perubahan iklim global, dan dominasi usaha tani skala kecil.

Dari sisi permintaan, diantara tantangan tersebut adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi beserta dinamika karakteristik demografisnya, perubahan selera konsumen, dan persaingan permintaan komoditas pangan untuk konsumsi manusia, pakan, dan bahan baku energi.

Untuk menghadapi tantangan dan permasalahan seperti diuraikan di atas agar dapat dicapai ketahanan pangan berkelanjutan menuju 2025, perlu ada penyesuaian atau perubahan arah kebijakan yang saat ini diimplementasikan. Perubahan pendekatan arah kebijakan yang disarankan meliputi tujuan, cara, dan sasaran pembangunan ketahanan pangan.

Modal utama dalam mewujudkan ketersediaan pangan adalah kekayaan sumber daya yang beragam, ketersediaan teknologi, dan pengembangan kemitraan strategis dengan berbagai komponen pemangku kepentingan.

Aspek fisik terkait dengan kualitas prasarana dan sarana transportasi, sistem distribusi dan logistik pangan, dan kebijakan pemasaran dan perdagangan pangan. Aspek ekonomi terkait dengan daya beli perseorangan dan rumah tangga yang dicerminkan oleh pendapatan dan sistem kekerabatan dalam mengatasi masalah pangan dalam suatu keluarga besar.

Pemanfaatan pangan merupakan muara dari suatu sistem ketahanan pangan karena akan menentukan kualitas perseorangan untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif.

Upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan sangat diperlukan mengingat ancaman krisis pangan global masih tetap ada dan dapat secara tiba-tiba menjadi kenyataan.

Dengan membangun ketahanan pangan berbasis sumber daya dan kearifan lokal, memanfaatkan teknologi unggul untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan secara efisien dan berdayasaing, dan membangun kekokohan dan kelenturan respons masyarakat menghadapi ancaman krisis pangan, Indonesia akan mampu mengatasi ancaman krisis pangan global ataupun domestik (Suryana, 2014).