Gedung Seni dan Budaya Banyumas Bawa Konsep Lokalitas Banyumas

Bentuk ruang galeri dan pergelaran di dalam ruang menggunakan bentuk kotak yang merupakan bentuk umum dari rumah srotong. Bentuk massa menggunakan bentuk atap joglo, tajug dan bentuk kampung yang dimodifikasi. (Foto: purwokertoguidance)

Banyumas-Seni dan budaya Banyumas merupakan warisan budaya yang berupa kebudayaan tradisional yang didukung masyarakatnya. Budaya Banyumas ditata oleh masyarakatnya menjadi sesuatu yang harmonis dan khas.

Lokalitas dalam kajian ini adalah pendekatan atau sudut pandang filosofis. Kata lokalitas berasal dari kata locality yang berarti tempat. Oleh karena itu lokalitas dapat diartikan sebagai sesuatu yang spesifik atau khas dari suatu daerah tertentu. Lokalitas dalam arsitektur dapat dimaknai sebagai upaya untuk tetap bertaut dengan kondisi setempat dengan mencari potensi yang spesifik.

Konsep perencanaan dan perancangan Gedung Seni dan Budaya Banyumas mengunakan pendekatan atau sudut pandang filosofis lokalitas. Gedung ini direncanakan berada di Jalan S.Parman Purwokerto. Luasan lahan yang ada berkisar 23.000m2 dengan kebutuhan luas bangunan 8.219m2.

Sisa lahan yang tidak digunakan akan dijadikan daerah pengembangan. Pendekatan lokalitas di objek ini terlihat di bentuk ruang, bentukmassa, tata massa, tampilan eksterior, desain interior, landscape, material bangunan, dan struktur.

Bentuk ruang galeri dan pergelaran di dalam ruang menggunakan bentuk kotak yang merupakan bentuk umum dari rumah srotong. Bentuk massa menggunakan bentuk atap joglo, tajug dan bentuk kampung yang dimodifikasi.

Tata massa menerapkan alun-alun, jalan sapit urang dan pendhapa di bagian depan. Tampilan eksterior menggunakan pompok atau tutup keong, dan ragam hias sebagai ornamentasi.

Interior akan didesain dengan mempertimbangkan furniture yang memberikan nuansa etnik, pencahayaan berwarna kuning dan ragam hias sebagai ornamentasi.

Penataan landscape menggunakan elemen-elemen landscape yang biasa digunakan di kawasan di Banyumas, seperti tugu, gapura dan kitiran.

Material yang digunakan berasal dari material produksi lokal seperti genteng dan batu bata di Kebumen.

Menjaga Kebudayaan Di Era Modern

Era globalisasi dapat menimbulkan perubahan pola hidup masyarakat yang lebih modern. Akibatnya masyarakat cenderung untuk memilih kebudayaan baru yang dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal.

Salah satu faktor yang menyebabkan budaya lokal dilupakan dimasa sekarang adalah; kurangnya generasi penerus yang memiliki minat untuk belajar dan mewarisi kebudayaannya sendiri.

Berbagai cara dapat dilakukan dalam melestarikan budaya, namun yang palingpenting yang harus pertama dimiliki adalah menumbuhkan kesadaran serta rasa memiliki akan budaya tersebut, sehingga dengan rasa memiliki serta mencintai budaya sendiri, orang akan termotivasi untuk mempelajarinya sehingga budaya akan tetap ada karena pewaris kebudayaannya akan tetap terus ada.

Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya lokal diantaranya:

  1. Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya budaya sebagai jati diri bangsa.
  2. Ikut melestarikan budaya dengan cara berpartisipasi dalam pelestarian dan pelaksanaannya.
  3. Mempelajarinya dan ikut Mensosialisasikan kepada orang lain sehingga mereka tertarik untuk ikut menjaga atau melestarikannya bahkan mempertahankannya.

Budaya lokal merupakan aset Bangsa Indonesia yang harus memperoleh perhatian terutama di era Globalisasi saat ini.Budaya nasional menjadi bagian penting negara Indonesia yang dapat dikembangkan dan dikelola sebaik-baiknya.

Hal ini penting agar dapat berfungsi lebih luas tidak hanya sekadar warisan ataupun adat istiadat masyarakat Indonesia yang dirayakan ataupun dilaksanakan pada saat peringatan hari Sumpah Pemuda atau hari Pahlawan saja.

Budaya nasional harus menjadi bagian dari aset Bangsa Indonesia yang dapat mendatangkan pendapatan bagi masyarakat dan negara.Tentunya perlu ada suatu kesadaran secara nasional dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Indonesia pada semua aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara (Nahak, 2019).