Agrowisata Desa Serang Menjadi Ketahanan Pangan

Desa Serang sebagai lokasi agrowisata berbasis ketahanan pangan dengan hasil holtikultura khususnya stroberi, lingkungan alam yang dijadikan tempat persinggahan. (Foto: Pemkab Purbalingga)

Serang, Purbalingga – Masyarakat Desa Serang memiliki kearifan lokal yaitu (1) Tradisi memanfaatkan lahan pekarangan untuk tanaman holtikultura yang mampu memenuhi kebutuhan harian dan menjadi ketahanan pangan lokal ketika terjadi krisis ekonomi atau kegagalan panen raya. (2) Kebersamaan untuk melakukan komunikasi dan koordinasi dalam proses pengambilan keputusan bersama secara mufakat dalam perencanaan penanaman dan pemasaran hasil panen. Sehingga tidak ada persaingan diantara masyarakat petani holtikultura secara terbuka. Jika ada keuntungan, kerugian atau gagal panen akan menjadi konsekwensi bersama.

Desa Serang sebagai lokasi agrowisata berbasis ketahanan pangan dengan hasil holtikultura khususnya stroberi, lingkungan alam yang dijadikan tempat persinggahan (rest area), tempat wisata, taman bunga, belanja sayuran dan buah-buahan, taman bermain dan pelatihan outbound, perkemahan dan untuk penelitian ilmiah.

Strategi komunikasi pemasaran terintegarasi di agrowisata Desa Serang yaitu dengan membuka forum dialog sambung rasa atau sarasehan sebagai komunikasi partisipatif yang melibatkan semua pihak atau stakeholder antara lain masyarakat kelompok usaha dan kelompok tani, pemerintah desa, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat untuk:

  1. Membuat perencanaan dan pelaksanaan promosi serta pemasaran secara terpadu melalui kajian dan riset untuk mengidentifikasi permasalahan, menganalisis potensi dan prospek untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
  2. Melaksanakan progam pemberdayaan untuk menjalankan strategi pemasaran dengan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan pada masyarakat kelompok usaha, kelompok tani, pengurus BUMDes dan agrowisata dapat bekerjasama menjadi tim untuk meningkatkan pengelolaan kepengurusan, keuangan, tempat wisata, pengembangan usaha, pelayanan publik, pembuatan iklan promosi di media baik website, facebook, iklan di koran, membuat brosur, papan informasi, baliho dan spanduk di tempat strategis.
  3. Menyelenggarakan pergelaran seni, budaya, panen raya, dan pasar rakyat untuk menjadi agenda rutin tahunan yang didukung pemasaran, promosi secara langsung maupun melalui media sosial.
  4. Meembentuk tim promosi dan pemasaran agrowisata supaya dapat dikembangkan serta membuka akses kerjasama atau kemitraan dengan pemerintah, swasta atau investor dan perguruan tinggi.

Agrowisata berbasis ketahanan pangan lokal memiliki potensi dan prospek yang menguntungkan yaitu membuka pekerjaan, meningkatkan pengahasilan dan kesejahteraan.

Pengembangan Agribisnis Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Agribisnis merupakan paradigma baru yang telah digunakan dalam upaya-upaya pembangunan pertanian di Indonesia. Agribisnis diartikan lebih luas daripada bisnis yang dilaksanakan dalam lingkup on farm, menghasilkan produk pertanian semata.

Sistem agribisnis yang berdayasaing dicirikan oleh tingkat efisiensi, mutu, harga dan biaya produksi, serta kemampuan untuk menerobos pasar, meningkatkan pangsa pasar, serta memberikan pelayanan yang profesional (Syaukat, 2009).

Pengembangan sistem agribisnis yang berdayasaing harus memperhatikan aspek permintaan maupun penawaran. Dalam hal ini, produk yang dikembangkan harus yang benar-benar berdayasaing dan dikehendaki pasar (market driven). Dengan demikian, pendekatan lama yang berorientasi pada supply driven – apa yang dapat diproduksi – perlu dibenahi.

Sistem agribisnis berkerakyatan dicirikan oleh berkembangnya usaha produktif yang melibatkan masyarakat secara luas, baik dalam peluang berusaha, kesempatan kerja, maupun dalam menikmati nilai tambah (pendapatan). Pengembangan sistem ini tidaklah berarti hanya pengembangan usaha kecil dan menengah saja, tetapi juga dapat melibatkan usaha skala besar dalam konsep kemitraan.

Pengembangan sistem agribisnis yang berkelanjutan merupakan usaha pengembangan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya agribisnis yang semakin besar dan mantap dari waktu ke waktu, dan semakin mensejahterakan masyarakat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Dalam hal ini, pelaku agribisnis tidak hanya melihat jangka pendek (myopic) saja, tetapi juga kepentingan jangka panjang yang mengakomodasikan pelestarian lingkungan hidup dan plasma nutfah (biodiversity).

Pengembangan agribisnis yang terdesentralisasi merupakan upaya-upaya pengembangan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan wilayah setempat, serta memiliki keunggulan kompetitif. Dengan demikian, pengembangan agribisnis pada dasarnya merupakan aktivitas pembangunan ekonomi lokal. Hal ini sesuai dengan esensi otonomi daerah, yakni melakukan desentralisasi dan pemerataan pembangunan yang berkeadilan.

Strategi pembangunan tersebut diwujudkan melalui dua pendekatan, yakni makro dan mikro. Pendekatan makro merupakan pendekatan sistem agribisnis, sementara pendekatan mikro merupakan pendekatan usaha-usaha agribisnis (firms). Dengan pendekatan sistem agribisnis tersebut, maka pertanian tidak lagi dilihat hanya pertanian primer (on farm) saja, tetapi juga mencakup seluruh sub-sistem.