Potensi Bahan Tambang Derah Kebumen

Kabupaten Kebumen mempunyai potensi mineral logam, batubara, bukan logam dan batuan yang tersebar merata di bagian utara, selatan dan tengah wilayah. (Foto: Youtube)

Kebumen – Kabupaten Kebumen mempunyai potensi mineral logam, batubara, bukan logam dan batuan yang tersebar merata di bagian utara, selatan dan tengah wilayah. Di Kebumen juga terdapat 2 kawasan lindung geologi.

Berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Tata Ruang, di Kabupaten Kebumen terdapat 2 kawasan lindung geologis, yaitu Kawasan Cagar Alam Geologi.

Karangsambung (CAGK) dan Kawasan Karst Gombong Selatan (KGS). Kawasan CAGK dijadikan sebagai kawasan lindung karena strategisnya kawasan ini sebagai pusat pendidikan dan penelitian geologi lapangan yang sangat legendaris.

Sementara itu Kawasan KGS karena kekhasan morfologi karstnya yang penting untuk kelestarian ekosistem serta aset wisata perguaan. Menurut Ansori dan Puswanto (2011) pada kawasan Karst Gombong terdapat 9 macam jenis bahan tambang berupa batugamping berkualitas baik, sumber daya 389.250.000 metrik ton; fosfat guano berkualitas sedang, sumber dayanya belum teridentifi kasi; mangan kualitas kurang baik, sumber daya ratusan ton; andesit kualias baik dengan sumber daya 106.130.975 m3; bentonit kualitas kurang baik, sumber daya 100.000 m3; kaolin kualitas kurang baik, sumber daya belu teridentifi kasi; tras berkualitas baik, sumber daya belum teridentifi kasi; emas keberadaan dan genesanya telah teridentifi kasi, sumber dayanya belum teridentifi kasi; serpih bitumen kualitas sedang, sumber daya 7.264.176 ton batuan.

WUP mineral logam di Kebumen tersebar pada 3 lokasi yaitu WUP Kawasan Pantai Selatan seluas 11.640 ha, Tinggian Karangbolong seluas 5.680 ha dan Kebumen Utara seluas 5.709 ha.

WUP bukan logam tersebar pada 2 lokasi, yaitu WUP Tinggian Karangbolong seluas 1.875 ha dan Kebumen Utara seluas 7.488 ha.

WUP batuan tersebar pada 4 lokasi, yaitu WUP Tinggian Karangbolong seluas 5680 ha, Rowokele seluas 5.587 ha, Karanganyar seluas 7.598 ha dan Kutowinangun utara seluas 14.980 ha.

WPR dengan komoditas pasir sungai tersebar pada S. Pedegolan, S. Kedungbener, S. Luk Ulo, S. Karanganyar, S. Kemit, S. Sampang dan Muara S. Cincingguling, selain itu terdapat WPR batu bara pada lokasi Tinggian Karangbolong.

Potensi Tambang dalam Meningkatkan Perekonomian Daerah

Beberapa permasalahan industri pertambangan yang muncul belakangan ini menyebabkan sektor ini berada pada kondisi yang dilematis terkait dengan permasalahan sosial, politis, perundangan hingga Pertambangan Tanpa Izin (PETI).

Saat ini, pasar komoditi logam dan mineral dunia sedang mengalami “booming” harga dan “unpredicted conditions” sementara aktivitas eksplorasi dan investasi juga meningkat.

Tetapi Indonesia masih belum mampu memanfaatkan kondisi yang “menarik” ini secara optimal. Kendala ini menyebabkan terhambatnya optimalisasi kontribusi sektor pertambangan dalam mendorong perekonomian nasional.

Di balik semua itu, sesunggunya ada peluang yang sagat besar bagi Indonesia karena bahan tambang akan selalu dibutuhkan oleh manusia, juga potensi geologis Indonesia yang sangat tinggi dan tentunya demand mineral yang melonjak.

Terkait dengan kendala dan peluang yang dihadapi oleh sektor pertambangan ada beberapa upaya yang dapat dilakukan seperti , Perlunya percepatan pengesahan RUU Mineral dan Batubara yang mengatur pemanfaatan mineral dan batubara, sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan seluruh produk hukum yang berkenaan dengan sektor pertambangan yang sifatnya lintas sektoral baik pusat maupun daerah, mendorong peningkatan local expenditure dengan meningkatkan pemanfaatan produk dari industri-industri penunjang dalam negeri, mendorong pertumbuhan industri pengolahan produk mineral dalam negeri sehingga dapat meningkatkan nilai tambah produk mineral dan batubara nasional serta kebijakan satu pintu dalam perijinan untuk investasi sektor pertambangan (Kementrian ESDM, 2007).