SMPN 1 Purwokerto Raih Penghargaan Sekolah atas Terapan Menabung Sejak Dini

Pemberian penghargaan oleh OJK atas prestasi yang didaptakan SMPN 1 Purwokerto yang diterima Bupati Banyumas, Rabu (26/02). (Foto: Pemkab Banyumas)

Purwokerto – SMP Negeri 1 Purwokerto mendapatkan penghargaan sebagai salah satu sekolah dengan rekening bank peserta didik terbanyak se Jateng-DIY. Penghargaan diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cabang Purwokerto di Baturraden, Rabu (26/02).

Acara yang dihelat dalam tajuk Gerakan Indonesia Menabung dihadiri pula oleh Bupati Banyumas Achmad Husein, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Irawati serta segenap Kepala SMP dan MTs Se Kabupaten Banyumas. Dalam kesempatan tersebut Bupati menghimbau para Kepala SMP-MTs yang hadir untuk mengajak agar anak-anak gemar menabung sedini mungkin, sejak sekolah dasar.

“Doronglah agar anak-anak segera memiliki rekening bank, tidak harus berwujud buku rekening, karena saat ini menabung pun bisa lewat telepon genggam (non tunai),” sambut bupati mengawali imbauannya.

Acara digelar bersamaan dengan Sosialiasi Ujian Sekolah/Nasional Tahun Pelajaran 2019/2020. Pada kesempatan ini pula Bupati berpesan meskipun tahun ini adalah UN terakhir di mana hampir semuanya menggunakan pola UN Berbasis Komputer, perangkat komputer ditahun berikutnya tetap bisa digunakan untuk kegiatan lainnya.

Bupati menyinggung tiga hal yang saat ini sedang digenjot oleh Pemkab Banyumas di bidang pendidikan, ekonomi dan kemasyarakatan.

Pertama, meningkatkan derajat pendidikan melalui kemitraan dengan perguruan tinggi. “Setiap tahun kita dapat kuota 50 anak untuk beasiswa pendidikan di IAIN Purwokerto, demikian juga Unsoed Purwokerto yang siap dengan 100-200 beasiswa khusus bagi anak-anak Banyumas,” lanjut bupati.

Kedua, pengendalian inflasi. Saat ini pertumbuhan ekonomi Banyumas yang cukup tinggi yakni 6,3 % ada di atas rata-rata Jawa Tengah pada angka 5,5 % serta nasional diangka 5,1%. Menurutnya butuh upaya dan kerja yang sangat keras untuk bisa naik 0.1%.

Ketiga, pengelolaan sampah, terutama sampah plastik yang tidak terurai. Pemda siap mengambil dan membayar sampah plastik dari masyarakat dengan harga Rp 2000/kg.

“Ini sebagai salah satu langkah dan komitmen pemerintah dalam mengurangi sampah plastik yang ada,” pungkasnya.

Literasi Keuangan

Sejalan dengan program Otoritas Jasa Keuangan yang bekerjasama dengan Industri Jasa Keuangan mengenai gerakan “Ayo Menabung” yang dilakukan untuk menghimbau sekaligus mengajak masyarakat untuk menabung karena masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya menabung untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sasaran terbesar yang dituju untuk sosialisasi gerakan “Ayo Menabung” adalah remaja.

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang. Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan salah satu jenjang dalam pendidikan formal yang memiliki potensi untuk melakukan perubahan karena peserta didik yang berada di dalamnya adalah berusia remaja.

Menurut Lina dan Rosyid (1997) literasi keuangan termasuk dalam faktor internal yang masuk pada proses belajar. Maka ketika siswa mengetahui dan memahami literasi keu-angan akan semakin mudah untuk meningkatkan kebiasaan menabung siswa.

Peningkatan literasi keuangan dapat dilakukan dengan cara Student Centered Learning bahwa pembelajaran bukan hanya berpusat pada guru melainkan siswa juga harus aktif dalam proses belajar mengajar, guru hanya sebagai fasilitator.

Literasi keuangan dapat dikembangkan melalui program pembela-jaran ekstra berupa berkunjung ke lembaga-lembaga yang berkaitan dengan keuangan, seminar keuangan, workshop literasi keuangan dan melakukan tindakan aplikatif lainnya karena beberapa materi literasi keuangan sudah ada dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar pada mata pelajaran ekonomi Sekolah Menengah Atas (SMA).

Strategi pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai masalah yang dipadukan dengan strategi peningkatan kemampuan ber-pikir, agar siswa dapat belajar literasi keuangan dari masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata.

Thunk (2005) yang menyatakan bah-wa kelompok teman sebaya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku menabung. Sejalan dengan temuan Erskine (2005), Duflo (2001) dan Beshears (2010), yang menyatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh kelompok teman sebaya karena teman sebaya merupakan rujukan yang paling menonjol bagi individu untuk mudah di-pengaruhi oleh perilaku teman sebaya.

Dapat disimpulkan bahwa perilaku atau kebiasaan seseorang dapat dilihat dari teman sebayanya. Jika teman sebayanya memiliki kebiasaan positif seperti gemar menabung, maka orang tersebut akan memiliki kebiasaan yang sama yaitu akan gemar menabung, demikian juga sebaliknya.