70 Guru Dilatih Tanoto Foundation Guna Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Pelatihan dari tanoto fondation terhadap para guru guna tingkatkan kualitas dalam mengajar, Selasa (18/02). (Foto: Pemkab Cilacap)

Cilacap – Sebagai upaya mendukung program Merdeka Belajar yang didengungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemkab Cilacap terus menggenjot kualitas guru di wilayahnya. Salah satunya dengan menindaklanjuti Mou antara Pemerintah Kabupaten Cilacap dan Kemenag dengan pihak Tanoto Foundation. Yakni dalam bentuk sejumlah pelatihan dari Tanoto Foundation secara berkelanjutan.

Seperti halnya Pelatihan Praktik Baik Modul 1 mengenai pembelajaran dan budaya baca yang dilaksanakan di Hotel Sindoro, Selasa (18/02).

Teacher School Training Specialist “PINTAR” Tanoto Foundation Jawa Tengah, Saiful Huda Shodiq mengatakan, pelatihan tahap awal kali ini diikuti sebanyak 70 guru yang berasal dari sekolah dasar (SD), madrasah Ibtidaiyah (MI), sekolah menengah pertama (SMP), madrasah tsanawiyah (MTs) dari wilayah Kecamatan Kesugihan dan Jeruklegi.

“Jadi yang krusial itu bukan hanya pada pelatihan ini, tapi sebenarnya adalah ketika mereka menyusun rencana tindaklanjut lalu didampingi fasilitator dari kami dikelas untuk menerapkan itu,” ungkapnya.

Saiful menambahkan, dari sejumlah pelatihan tersebut, Tanoto Foundation berkomitmen untuk terus berupaya menjadikan kualitas guru di Cilacap semakin meningkat. Khususnya dalam hal proses belajar dan mengajar, sesuai dengan program otonomi sekolah yang dilaksanakan pemerintah saat ini.

Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap Imam Tobroni mengatakan, pelatihan yang dilaksanakan ini dinilai cukup baik untuk pembangunan maupun peningkatan kualitas pendidikan di Cilacap. Terlebih untuk menghadapi revolusi industri 4.0, yang katanya menuntut setiap daerah mampu menghasilkan generasi hebat.

Sehingga ia menilai dunia pendidikan sudah sewajarnya menerapkan pembelajaran abad 21, khususnya untuk mengimbangi munculnya karakteristik siswa saat ini yang cenderung aktif dan kreatif.

“Tantangan internal terkait 8 Standar Nasional Pendidikan. Sedang tantangan eksternal terkait budaya global. Kepala sekolah dan guru yang ada di dunia pendidikan mau tidak mau menjadi penggerak dalam konteks transformasi sosial dan perubahan masyarakat. Siswa yang saat ini aktif dan kreatif perlu dibekali keterampilan abad 21 untuk menghadapi revolusi 4.0. Guru sebagai agen perubahan karena kemajuan teknologi itu tidak lagi memposisikan guru sebagai yang paling pintar, tetapi menjadi fasilitator yang baik bagi siswa untuk kehidupannya nanti,” katanya.

Manajemen Bebrasis Sekolah Dorong Perbaikan Mutu Pendidikan

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, upaya tidak ada yang bisa dilakukan adalah memberikan pelayanan pendidikan kepada siswa untuk mengembangkan potensi mereka, terutama agar menjadi manusia dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi demokratis dan bertanggung jawab warga, Asbin Pasaribu (2017).

Perwujudan pendidikan yang efektif dan efisien, hendaklah mewujudkan Manajemen Berbasis Sekolah sebagai wujud dari reformasi pendidikan, sehingga kepala sekolah, guru, peserta didik dan orangtua peserta didik mempunyai andil yang sangat penting untuk mengawasi jalannya proses belajar mengajar pada lembaga pendidikan. Dengan demikian, akan terjadi sistem yang positif secara sentralisasi dan desentralisasi.

Dalam hal ini, manajemen pendidikan menurut Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berbeda dengan manajemen pendidikan sebelumnya yang sifatnya sentralisasi, sedangkan MBS memberikan otonomi yang luas pada unit sekolah itu sendiri dan melibatkan masyarakat untuk berperanserta dalam memajukan pendidikan di sekolah. Dengan demikian, terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah, yaitu semula diatur oleh birokrasi di kantor pusat menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri.

Peningkatan sumber daya manusia perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Lembaga pendidikan merupakan bagian utama dalam meningkatkan sumber daya manusia, terutama lembaga pendidikan formal atau sekolah.

Sangat dibutuhkan peningkatannya dalam meningkatkan sumber daya manusia, adanya pola manajemen berbasis sekolah memberi harapan besar bagi sekolah untuk bisa mengembangkan dan meningkatkan kemampuan sesuai dengan kondisi sekolah. Oleh karena itu hasil dari pelaksanaan MBS di setiap sekolah tidak bisa sama. Tetapi semua sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sekolah yang berkualitas.

Dalam mengimplementasi Manajemen Berbasis Sekolah atau MBS agar dapat berjalan dan berlangsung secara efektif dan efisien, maka perlu dukungan dari sumber daya manusia yang professional untuk mengoperasikan sekolah, dan yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan fungsinya, sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan orangtua siswa atau masyarakat yang tinggi.

Dalam mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisen, guru juga harus berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik di kelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran.

Perlunya Pendidikan dan Pelatihan Guru dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Menurut John Bella pendidikan dan pelatihan adalah sama dengan pengembangan, yaitu merupakan proses peningkatan keterampilan kerja baik profesional maupun manajerial. Pendidikan berorientasi pada teori, dilakukan di dalam kelas, berlangsung lama dan biasanya menjawab “Why” sedangkan pelatihan berorientasi pada praktek, dilakukan di lapangan berlangsung singkat dan menjawab “How” (Hasibuan, 1994 : 105).

Dalam hal ini terdapat sedikit perbedaan antara pendidikan dan pelatihan, sebagaimana yang dikemukakan Hadipoerwono (1999 : 76) bahwa : Pendidikan dimaksudkan sebagai suatu pembinaan dalam proses perkembangan manusia, dimana manusia itu berpikir sendiri dan mendorong berkembangnya kemampuan dasar yang ada padanya. Sedangkan pelatihan adalah pembinaan kecakapan, kemahiran, ketangkasan (skill building) dalam pelaksanaan tugas.

Metode-metode yang digunakan dalam berbagai program pendidikan dan pelatihan dalam pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat atau disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Tentu saja diambil metode yang lebih efektif. Metode yang paling mudah dan sering dilaksanakan selama ini adalah metode kuliah atau ceramah, diskusi, seminar dan pelatihan yang menggunakan metode praktek.

Perlunya dilakukan pendidikan dan pelatihan para guru dengan alasan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan, mengingat banyaknya kritik dan sorotan tajam yang disampaikan masyarakat, mengenai kualitas atau mutu pendidikan yang dihasilkan kurang optimal.

Dilihat dari segi manfaat serta kegunaannya, pendidikan dan pelatihan tidak lain merupakan suatu usaha untuk meningkatkan prestasi pegawai, sebagaimana yang dikemukakan oleh Wursanto, 1998:128) tujuan dilaksanakan pendidikan dan latihan adalah: a. Penambah pengetahuan pegawai; b. Menambah keterampilan pegawai; c. Mengubah dan membentuk sikap pegawai; d. Mengembangkan keahlian pegawai sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan efektif; e. Mengembangkan semangat, kemajuan dan kesenangan kerja pegawai; f. Mempermudah pengawasan terhadap pegawai; g. Mempertinggi stabilitas pegawai.