Kerja Bakti Cor Setapak Bersama Bupati dan Warga Jalan Baleng

Kerja bakti di Jalan Baleng RW 10 Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Jumat (14/2) bersama Wakil Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman. (Foto: Pemkab Cilacap)

Baleng, Cilacap – Kerja bakti di Jalan Baleng RW 10 Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan pada Jumat (14/2) dilakukan bersama Wakil Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman. Oleh karena itu masyarakat diminta ikut mengawasi jalannya pembangunan yang ada di daerah-daerah.

Pemerintah desa dan kelurahan terus diminta mengembangkan berbagai sektor pembangunan di wilayahnya. Sebab dengan dukungan kebijakan dan anggaran dari pemerintah pusat, desa/kelurahan kini memiliki keleluasaan untuk melaksanakannya.

“Saat ini dukungan pemerintah untuk pembangunan telah menyentuh desa dan kelurahan. Untuk itu ayo kita sama-sama mengawasi,” kata Wabup.

Acara tersebut dihadiri Bupati Tatto Suwarto Pamuji, Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap Farid Ma’ruf, para asisten Sekda, pejabat Setda dan kepala OPD jajaran, Camat Cilacap Selatan Anisa Fabriana beserta forkopimcam, dan Lurah se-Kecamatan Cilacap Selatan.

Dalam kerja bakti tersebut, Bupati beserta para pejabat dan masyarakat bergotong royong membangun drainase dan jalan beton dengan volume 144 m dan 115 m. Sebagian lainnya membersihkan bahu jalan, mencabuti rumput, dan mengumpulkan sampah.

Pada kesempatan ini Bupati menyerahkan sejumlah bantuan, antara lain 50 zak semen untuk pembangunan jalan setapak, 25 zak semen untuk renovasi mushala Al Barokah, bantuan semen untuk plesterisasi 5 rumah masing-masing 5 zak, bantuan 10 zak semen dan 2 unit bak sampah untuk Kampung KB, dan bantuan infrastruktur senilai Rp 27.058.000 dari LKM Wijayakusuma.

Lurah Cilacap, Joko Priyatno, S.Sos mengapresiasi kegiatan ini sebagai implementasi program Bangga Mbangun Desa. Artinya berbagai program pembangunan yang dicanangkan Pemkab Cilacap dimulai dari lini terbawah, yakni Desa dan Kelurahan.

Revitalisasi Gotong Royong Tingkatkan Kebersamaan dalam Masyarakat

Menghadapi gelombang perubahan kehidupan akibat gerusan arus pengaruh budaya asing perlu ada kekuatan (enerji sosial) yang dapat mengarahkan pada terbentuknya komitmen moral dengan memunculkan gerakan yang berusaha membebaskan diri dari kungkungan hegemoni budaya asing yang telah memporak porandakan modal sosial gotong royong.

Nilai-nilai yang memunculkan kesadaran palsu perlu dikounter dengan memunculkan kembali kesadaran kolektif yang bersandar pada nilai-nilai modal sosial gotong royong yang meletakkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan aturan-aturan moral (norma-etika), kerjasama, saling percaya, dan jejaring.

Atas dasar itu perlu dikembangkan nilai-nilai atau norma-norma yang mengandung nilai-nilai moral (ketuhanan) yang dapat dijadikan pijakan perilaku bertindak dalam tata pergaulan politik keseharian seperti menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (perikemanusiaan) dengan tidak saling menyakiti (dengan melakukan tindakan kekerasan) pada sesama, mengutamakan dialog/komunikasi dan musyawarah dengan menghindari sifat mau menang sendiri, menjaga persatuan atas prinsip kemajemukan (bhineka) atas dasar kesediaan untuk bekerjasama (gotong royong) dan saling menghargai, berlaku adil pada sesama dengan menghindari kesewenang-wenangan.

Kesadaran untuk menerapkan prinsip-prinsip itu dalam relasi sosial adalah penting dilakukan dalam rangka membangun kesadaran moral kolektif yang bersumber pada nilai-nilai modal sosial yang melekat pada budaya gotong-royong.