Dinpertan KP Kabupaten Banyumas Gelar Pelatihan Penguatan Ketahanan Pangan

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Kabupaten Banyumas menggelar pelatihan penguatan ketahanan pangan Senin-Rabu (10-13/02) di Hotel Moroseneng Baturaden. (Foto: Pemkab Banyumas)

Purwokerto, Banyumas – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Kabupaten Banyumas menggelar pelatihan penguatan ketahanan pangan Senin-Rabu (10-13/02) di Hotel Moroseneng Baturaden. Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka penguatan ketahanan pangan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pangan. Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu dari PT Sutera Cahaya Eri Surabaya yang merupakan eksportir sutera dan CV Glagah Arjuna Broom Purbalingga yang merupakan eksportir alat rumah tangga.

Kepala Dinpertan KP, Ir. Widarso MM mengatakan tujuan diadakannya acara tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengambangkan ekonomi kreatif, dengan harapan nantinya dapat meningkatkan pendapatan sehingga bisa meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Banyumas.

“Total peserta 380 orang terdiri dari tiga jenis pelatihan dan lima kelas. Pertama ada intensifikasi pekarangan yaitu dengan memanfaatkan lahan pekarangan supaya bisa mengakses pangan. Yang kedua sifatnya ekonomi kreatif, yaitu wirausaha berupa kerjinan sapu dan budidaya ulat sutera. Lalu yang ketiga ada pelatihan peningkatan kualitas mutu pangan,” jelas Kepala Dinpertan KP.

Widarso menambahkan, peserta pelatihan wirausaha berjumlah 80 orang rumah tangga miskin produktif. Untuk pelatihan pemanfaatan pekarangan, peserta sejumlah 200 orang yang merupakan Kelompok Wanita Tani (KWT). Sedangkan untuk pelatihan pengawasan mutu pangan, peserta merupakan pelaku usaha kecil olahan pangan yang berjumlah 100 orang.

“Kami berharap sepulang dari pelatihan ini bisa membawa bahan alat yang akan dia praktekkan sehingga bahan itu bisa dijadikan sapu atau bisa menghasilkan ulat sutra nanti akan diambil oleh narasumberyang kebetulan ekportir, sehingga dalam hal ini pelatihan bisa berkelanjutan,” ucapnya.

Bupati Banyumas Achmad Husein meminta peserta serius mengikuti pelatihan ini, mengingat setelah pelatihan para peserta dibekali bahan dan peralatan untuk praktek. Dan hasilnya langsung bisa diterima oleh narasumber.

“Saya berkomitmen apabila ada kelompok yang sudah bisa dan terampil akan saya bantu modalnya. Bahkan saat ini saya meminta kepada Pak Widarso untuk pengadaan bibit glagah yang bisa ditanam disekitar rumah dan lahan kosong lainya,” kata Bupati.

Pengembangan Pertanian Menuju Ketahanan Pangan

Pentingnya ketahanan pangan dalam tatanan ekonomi global dan nasional telah dipahami oleh berbagai kalangan, baik itu para kepala negara dan pemerintahan, pimpinan organisasi internasional, pengelola sektor swasta, maupun lembaga kemasyarakatan, dengan alasan dan kepentingan yang berbeda. Satu hal yang menjadi kesadaran bersama adalah pemenuhan pangan bagi setiap individu merupakan hak asasi dan pemenuhannya menjadi kewajiban bersama, termasuk individu itu sendiri.

Di Indonesia, pada pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Kedua (KIB 2), ketahanan pangan menjadi salah satu dari 11 prioritas pembangunan nasional, seperti tertera dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 (Bappenas, 2010).

Untuk mendukung pencapaian ketahanan pangan tersebut, di Kementerian Pertanian dilaksanakan program yang disebut Empat Sukses Pertanian, yangterdiri dari pencapaian swasembada lima komoditas pangan penting, yaitu beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi pada tahun 2014; peningkatan diversifikasi pangan; peningkatan nilai tambah, dayasaing dan ekspor komoditas pertanian; dan peningkatan kesejahteraan petani (Kementerian Pertanian, 2010).  Dalam prakteknya, sukses nomor satu selalu menjadi fokus utama karena peningkatan produksi pangan menjadi kriteria utama keberhasilan kementerian ini dalam mengemban tugasnya.

Sistem ketahanan pangan terdiri dari tiga subsistem, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan. Berbagai parameter dapat dipakai untuk mengukur kinerja ketahanan pangan.

Perwujudan ketahanan pangan pada tingkat makro (nasional dan global) ke depan akan semakin sulit karena kecenderungan pergerakan penawaran dan permintaan pangan menuju ke arah yang berlawanan. Produksi atau pasokan pangan pertumbuhannya akan semakin sulit karena menghadapi berbagai kendala fisik, ekonomi, dan lingkungan; sementara permintaan pangan akan terus tumbuh sejalan dengan pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi. dan dinamika lingkungan strategis.

Upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan sangat diperlukan mengingat ancaman krisis pangan global masih tetap ada dan dapat secara tiba-tiba menjadi kenyataan. Dengan membangun ketahanan pangan berbasis sumber daya dan kearifan lokal, memanfaatkan teknologi unggul untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan secara efisien danberdaya saing, dan membangun kekokohan dan kelenturan respons masyarakat menghadapi ancaman krisis pangan, Indonesia akan mampu mengatasi ancaman krisis pangan global ataupun domestik.

Kebijakan pendukung yang diperlukan untuk mewujudkan berbagai upaya tersebut adalah investasi yang cukup besar di sektor pertanian pangan, mulai dari prasarana, penciptaan inovasi teknologi dan diseminasinya, sampai pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian pangan. Selain itu, diperlukan upaya untuk menjalin kemitraan strategis (strategic partnership) antara pemerintah dan swasta guna meningkatkan kapasitas produksi pangan dan memperlancar distribusi pangan antarwaktu, tempat, dan golongan pendapatan (Suryana, 2014).