Revitalisasi Kesenian Ebeg Upayakan Tidak Tinggal Generasi

Ebeg merupakan salah satu kesenian rakyat memiliki keunikan dan menarik bagi masyarakat, karena dalam kesenian tersebut terjadi peristiwa yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar manusia dalam setiap pementasannya yakni trance. (Foto: Youtube)

Bantarsari, Cilacap – Sejarah adanya kesenian ebeg di Desa Kamulyan, Kecamatan Bantarsari menurut tokoh masyarakat yang menjadi narasumber dalam penelitian ini mengatakan sekitar tahun 1974.

Sejak tahun 2000 hingga pertengahan tahun 2014 mengalami kevakuman. Data-data keberadaan kesenian tradisi yang sulit untuk diperoleh sangat terbatas mengingat tidak adanya pendokumentasian yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintahan yang ada di tingkat desa.

Upaya rivitasilasi yang dipelopori oleh tokoh masyarakat bersama para penari ebeg yang saat ini masih tinggal di Desa Kamulyan bertujuan agar kesenian tersebut hidup kembali di masyarakat mengingat kesenian ebeg pernah menjadi kebanggaan.

Dengan mengajak generasi muda yang tinggal di desa tersebut, para tokoh masyarakat dan penari yang masih ada melakukan latihan secara rutin setiap hari Senin dan Jumat malam. Upaya revitalisasi kesenian ebeg meliputi gerak, busana, property, rias, dan musik iringan.

Adanya upaya revitalisasi kesenian ebeg tersebut mendapatkan tanggapan yang sangat antusias dari masyarakat. Hal ini sangat wajar mengingat terbatasnya hiburan masyarakat yang ada di desa tersebut sementara pada sisi lain bahwa ebeg pernah menjadi kebanggan masyarakat di Desa Kamulyan.

Selain itu, revitalisasi dilakukan sebagai upaya melestarikan kesenian yang memiliki nilai luhur warisan dari para pendahulu mereka. Meskipun selama ini pihak pemerintah belum turun tangan, namun masyarakat tetap optimis melakukan upaya revitalisasi kesenian ebeg dengan dukungan segenap masyarakat di Desa Kamulyan.

Untuk mendukung upaya revitalisasi dalam rangka mengembalikan eksistensi kesenian ebeg perlu dilakukan pendokumentasian secara tertib dan teratur baik berupa visual, audio visual, maupun foto-foto sehingga saat dibutuhkan oleh pihak lain mudah untuk mendapatkannya.

Bagi aparat pemerintah agar mendukung upaya revitalisasi yang telah dilakukan oleh masyarakat dengan melakukan pembinaan kepada para generasi muda agar tetap mencintai kesenian tradisi.

Pentingnya Warisan Budaya Dilestarikan Ditengah Masyarakat

Matinya suatu kesenian yang ada dalam kehidupan masyarakat menjadikan semakin berkurangnya rasa mencintai warisan budaya para leluhur akan menyebabkan semakin menipisnya nilai-nilai budaya pada generasi muda.

Nilai budaya dari masa lalu (intangible heritage) tersebut yang berasal dari budaya-budaya lokal yang ada di Nusantara, meliputi: tradisi, cerita rakyat dan legenda, bahasa ibu, sejarah lisan, kreativitas (tari, lagu, drama pertunjukan), kemampuan beradaptasi dan keunikan masyarakat setempat (Galla, 2001: 12).

Dalam UU No. 11, Tahun 2010, telah digariskan bahwa pemanfaatan Cagar Budaya (Warisan Budaya) dapat digunakan oleh pemerintah dan masyarakat. Pemanfaatan sumber daya budaya tersebut dapat diwujudkan apabila dapat dikelola dengan baik dengan mengacu pada kaidah-kaidah akademis dan praktis yang sesuai dengan regulasi yang ada.

Hal yang patut selalu diingat, bahwa Cagar Budaya atau Warisan Budaya dalam pemanfaatannya, haruslah bertujuan untuk kesejahteraan rakyat yang sebesar-besarnya. Marilah kita membangun dengan pengelolaan dan pemanfatan Cagar Budaya (Warisan Budaya) sesuai dengan regulasi yang berlaku dan dapat memberi akses kepada masyarakat yang seluas-luasnya.

Revitalisasi seni tradisional adalah proses kegiatan pembaharuan yang memungkinkan seni tradisional itu mampu menjawab tantangan jaman. Langkah ini merupakan tindak lanjut yang menyusul langkah pelestarian atau pendataan dan pengenalan hasil budaya kesenian terdahulu guna melawan dan memulihkan ingatan kolektif suatu komunitas masyarakat.

Untuk mengembalikan kecintaan pada kesenian tradisi dan untuk membangun nilai-nilai budaya daerah pada generasi muda, maka diperlukan upaya bersama dari segenap unsur masyarakat terutama tokoh-tokoh masyarakat dan seniman yang masih ada melakukan revitalisasi yang mengarah pada eksistensi kesenian yang pernah ada namun saat ini sudah mati.

Proses pewarisan budaya dilakukan melalui proses enkulturasi (pembudayaan) dan proses sosialisasi (belajar atau mempelajari budaya). Melalui proses pewarisan budaya maka akan terbentuk manusia-manusia yang memiliki kepribadian selaras dengan lingkungan alam, sosial dan budayanya disamping kepribadian yang tidak selaras (menyimpang) dengan lingkungan alam, sosial dan budayanya.

Warisan budaya yang beraneka ragam jenis dan bentuknya merupakan aset bangsa yang wajib untuk dilestarikan sebagai bagian dari proses pewarisan budaya. Banyak bangsa lain yang hanya sedikit mempunyai warisan budaya, namun berusaha keras untuk melestarikannya demi sebuah identitas, maka sungguh naïf jika bangsa Indonesia yang memiliki banyak warisan budaya tetapi mengabaikan pelestariannya. Pelestarian budaya dapat dilakuakn melalaui kegiatan preservasi, konservasi dan revitalisasi.