Diseminasi Materi Pendidikan Kewarganegaraan Digelar oleh UNSOED

Kegiatan untuk menyamakan persepsi antar dosen dalam implementasi pembelajaran dilakukan agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan petunjuk kurikulum dan tidak melenceng dari buku ajar terbitan Kemenristekdikti tahun lalu, Kamis (6/2). (Foto: Pemkab Banyumas)

Purwokerto – Memasuki awal semester genap 2019-2020, Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) menggelar desiminasi materi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Ruang diseminasi itu dikemas melalui focus group discussion (FGD) bagi dosen di ruang rapat LP3M, Kamis (6/2).

FGD dilakukan sebagai ruang diseminasi bagi dosen pengampu mata kuliah PKn. Sebagai forum untuk menyemaikan materi perkuliahan hasil training of trainer (ToT) dosen PKn di Fakultas Filsafat UGM beberapa waktu yang lalu.

Selain itu, untuk menyamakan persepsi antar dosen dalam implementasi pembelajaran. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan petunjuk kurikulum dan tidak melenceng dari buku ajar terbitan Kemenristekdikti tahun lalu.

Koordinator Pusat Pengembangan Karakter LP3M, Dr. Ir. Rosidi, MP dalam memimpin forum, menyampaikan forum ini telah menyepakati jumlah materi, pengembangan metode dengan student center learning (SCL), pengembangan bahan ajar dan revisi buku ajar.

“Buku PKn yang digunakan hendaknya bersumber dari terbitan Dikti. Buku itu menjadi acuan utama yang didukung sumber lain yang relevan,” terangnya.

Disampaikan, pada pertemuan ini menghasilkan kesepakatan bersama terkait pengembangan materi dan metode pembelajaran. Termasuk menyamakan persepsi tentang materi, metode, rencana pembelajaran dan sistem evaluasi.

“Pada forum ini juga dilakukan pemilihan dosen koordinator mata kuliah. Terpilih sebagai dosen koordinator Rifki Ahda Sumantri dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,” jelas Dosen Fakultas Peternakan tersebut.

Koordinator mata kuliah, Rifki Ahda Sumantri dalam paparannya menyampaikan desiminasi hasil ToT dosen pendidikan kewarganegaraan di UGM, bahwa inti materi perkuliahan itu sama, namun yang membedakan adalah cara pengembangan dosen dalam pembelajaran.

“Di UGM hanya 14 kali pertemuan itu sudah termasuk ujian tengah dan akhir semester. Sementara di Unsoed 14 kali tatap muka dan 2 pertemuan untuk UTS dan UAS,” tandasnya.

Dia berharap hasil diseminasi ini menjadi pengayaan pengalaman dan dapat dijadikan kombinasi untuk pengembangan pembelajaran. Sementara baginya, terpilih menjadi koordinator adalah sebuah amanah yang harus dilaksanakan.

“Saya menghormati keputusan forum. Sebagai orang muda, saya akan terus belajar kepada para senior. Semoga ke depan amanah ini membawa perubahan pembelajaran PKn di Unsoed menjadi lebih maju,” pungkasnya.

Pentingya Pendidikan Kewarganegaraan dalam Pembentukan Karakter

Pendidikan memiliki peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dalam mempersiapkan warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, (Akbal, 2016).

Inti dari kepribadian warga negara adalah kebijakan kewarganegaraan (civic virtues). Pengembangan kebijakan kewarganegaraan perlu ditopang dengan pengembangan elemen-elemennya yakni: wawasan/pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), sikap kewarganegaraan (civic disposition), keterampilan kenegaraan (civic skills), komitmen kenegaraan (civic commitment), kepercayaan diri kenegaraan (civic confidence), dan kecakapan kenegaraan (civic competence).

Secara keseluruhan kebijakan kenegaraan tersebut sangat diperlukan oleh setiap orang agar mau dan mampu mewujudkan partisipasi kewarganegaraan secara cerdas dan bertanggung jawab (intelligent and responsible civic participation).

Upaya yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan program pendidikan yang memberikan berbagai kemampuan sebagai seorang warga negara melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (citizenship).

Keluarga, tokoh-tokoh keagamaan dan kemasyarakatan, media massa, dan lembaga-lembaga lainnya yang bekerja sama dan memberikan kontribusi yang kondusif terhadap tanggung jawab pendidikan tersebut.

Pendidikan Kewarganegaraan (citizenship) merupakan mata kuliah yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indoneisa yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945.

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai salah satu pilar penyangga dalam membangun karakter dan jati diri bangsa artinya bahwa pendidikan kewarganegaraan mendidik warga negara menjadi warga negara yang baik (good citizen), warga negara yang cerdas (smart citizen) dalam menghadapi perkembangan dunia di era kompetitif. Oleh sebeb itu, pendidikan kewarganegaraan memberi bekal kepada warga negara baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan yang dimiliki seorang warga negara diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berpikir dalam menganalisis dalam berbagai masalah. Untuk itu, warga negara harus memiliki sejumlah keterampilan (skill) baik keterampilan berpikir, berkomunikasi, berpartisipasi, bahkan keterampilan dalam memecahkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan dalam kehidupan bernegara.