Potensi Pengembangan Desa Inovatif pada Desa Kalisari Kabupaten Banyumas

Desa Kalisari adalah salah satu desa di Kecamatan Cilongok yang terletak di Kabupaten Banyumas bagian barat yang terpilih sebagai desa inovatif.

Kalisari, Banyumas – Pembangunan ekonomi lokal yang diimplementasikan Kabupaten Banyumas bertumpu pada kluster industri UKM pada beberapa produk unggulan seperti gula kelapa, batik, gurami, dan pariwisata. Namun demikian, Kabupaten Banyumas yang terdiri atas 17 kecamatan dan 331 desa memiliki potensi ekonomi dan karakteristik yang bisa dikembangkan lebih jauh, sehingga akan memperkaya konsep pengembangan ekonomi lokal yang berbasis klaster yang sudah diadopsi pemerintah daerah.

Profesi terbanyak kedua setelah petani adalah pengrajin tahu. Menurut informasi, industri tahu sudah sangat lama yaitu sejak sebelum kemerdekaan. Saat ini, produk tahu Kalisari tidak hanya dikenal di Kabupaten Banyumas saja, melainkan sudah banyak didistribusikan di kabupaten-kabupaten lain seperti Tegal, Brebes, dan sebagainya.

Banyaknya produksi tahu yang tersebar di 349 tempat menunjukkan tingginya volume produksi serta bahan baku kedele yang dibutuhkan yang mencapai 7,2 ton/hari. Pada kondisi tersebut, keberadaan koperasi bisa membantu khususnya dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku kedele yang selama ini banyak membeli dari luar kecamatan.

Industri tahu menghasilkan limbah yang berbentuk padat dan cair dalam jumlah cukup banyak, sehingga sangat berpotensi mengganggu lingkungan. Namun dengan adanya instalasi pengolahan limbah, limbah cair justru diolah kembali menjadi biogas yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga oleh pengrajin yang berada di sekitar instalasi tersebut.

Desa Kalisari merupakan laboratorium BPPT dalam mengembangkan dan penerapan teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan, dan sejauh ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Meskipun baru berjumlah 3 instalasi yang masing-masingnya mampu melayani 60-an rumah tangga, keberadaan instalasi tersebut berperan besar tidak hanya dalam menciptakan efisiensi usaha skala rumah tangga, tetapi yang lebih penting adalah kesehatan dan kebersihan lingkungan terjamin.

Desa Kalisari memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai desa inovatif karena memiliki karakteristik yang relatif lebih khas seperti kegiatan ekonomi yang berwawasan lingkungan.

Model pengembangan desa inovatif Kalisari mensyaratkan pentingnya komunikasi dan peran tidak hanya penyelenggara pemerintahan di tingkat desa (Kades dan Badan Permusyawaratan Desa), tetapi juga elemen masyarakat lain khususnya pemuda dan kelompok UKM yang mendominasi kegiatan perekonomian. Peran stakeholder lain yang sama pentingnya adalah sinergitas antar SKPD-SKPD di lingkungan Pemkab Banyumas, dan peran perguruan tinggi dalam bentuk penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Desa Inovatif dalam Mendongkrak Perekonomian Lokal

Salah satu upaya untuk lebih mendorong perekonomian lokal adalah mendorong pengembangan tingkat desa dengan berbasis pada kearifan lokal, potensi sumber daya dan keunikannya. Desa-desa yang mampu mendayagunakan sumber dayanya dengan cara yang berbeda dikembangkan menjadi desa inovatif.

Johnson et al. (2006) menyatakan bahwa riset-riset pengembangan pedesaan yang publikasi di jurnal-jurnal ilmiah memberi penekanan yang lebih besar atas isu-isu rural labor supply, commuting, dan migrasi atau permintaan tenaga kerja. Hal ini karena mesin pendorong fundamental untuk pertumbuhan ekonomi, penurunannya, dan perubahannya pada tingkat lokal adalah keternagakerjaan dan unit fundamental dari ekonomi spasial adalah pasar tenaga kerja.

Model inovasi akan berhasil dijalankan apabila ada peran serta serta koordinasi yang baik dari semua pemangku kepentingan, misalnya pihak , rukun tetangga (RT), kelurahan, kecamatan, SKPD terkait hal dilakukan untuk menyamakan persepsi bahwa pengentasan kepentingan adalah salah bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Peran serta pemerintah dapat dilaksanakan dengan mengandeng pihak ketiga, misalnya perguruan tinggi (PT), organisasi kemasyarakatan, UKM maupun stakeholder lainnya. Pihak ketiga bertugas untuk melakukan analisis guna menentukan dan memetakan kondisi sosial masyarakat serta UKM yang ada dilingkungan masyarakat.

Kegiatan difokuskan pada potensi lokal yang ada dan pemberdayaan masyarakat setempat. Program-program disusun mulai dari program hulu (sarana dan prasarana, perbaikan budidaya dll) sampai hilir (pengolahan, pemasaran dll). Bentuk pemasaran juga perlu didiskusikan dalam rembug desa tersebut.

Untuk mempercepat pertumbuhan desa inovatif, diperlukan peran lembaga kolaboratif dengan konsep triple helix, yaitu Akademisi, Bisnis dan Government (ABG). Kemajuan sebuah kegiatan ekonomi (bisnis), tidak terkecuali bisnis yang melibatkan masyarakat pedesaan, akan sangat tergantug dari sinergi para aktor ABG tersebut (Endan S dkk, 2015).