Potensi Kecamatan Cimanggu dalam bidang Pertanian

Sawah mengalami pertumbuhan nilai produksi sebesar Rp 20.166.427.454,45 karena pengaruh kebijakan yang menguntungkan komoditi padi sawah. (Foto: Drpd-koptimkab)

Cimanggu, Cilacap – Kecamatan Cimanggu mempunyai 14 komoditi pertanian basis yang mempunyai nilai PP positif, komoditi tersebut adalah padi sawah, ketela pohon, kayu lain, ayam ras pedaging, mahoni, ikan mas, jati, panili, kakao, tambakan, kuda, kunyit, belut, dan sirsak.

Nilai PP positif yang dimiliki oleh komoditi tersebut menunjukkan bahwa komoditi tersebut bahwa tumbuh relatif lebih cepat dibandingkan dengan komoditi lain di Kabupaten Cilacap atau dapat dikatakan Kecamatan Cimanggu berspesialisasi dalam menghasilkan komoditi pertanian basis tersebut yang secara regional tumbuh cepat.

Padi sawah merupakan komoditi yang mempunyai nilai PP terbesar, yaitu Rp 20.166.427.454,45 yang artinya padi sawah mengalami pertumbuhan nilai produksi sebesar Rp 20.166.427.454,45 karena pengaruh kebijakan yang menguntungkan komoditi padi sawah, misalnya kebijakan harga dasar gabah, kebijakan peningkatan produktivitas dan produksi pangan utama khususnya beras melalui intensifikasi, dan rehabilitasi sarana dan prasarana penunjang usahatani, peningkatan pengembangan teknologi spesifik lokal yang ramah lingkungan seperti pemanfaatan limbah panen dan limbah ternak menjadi pupuk bokashi.

Komoditi pertanian basis yang mempunyai nilai PP negatif sehingga tergolong komoditi yang pertumbuhannya lambat adalah melinjo, duku, jahe, kelapa hibrida, ayam petelur, lada, cengkeh, dan kelapa dalem.

Kelapa dalem merupakan komoditi yang mempunyai nilai PP terendah, yaitu Rp -1.244.182.668,87, yang artinya kelapa dalem mengalami penurunan nilai produksi sebesar Rp -1.244.182.668,87 karena adanya kebijakan rehabilitasi tanaman perkebunan seperti tanaman kelapa dalem yang sudah tua.

Kebijakan rehabilitasi ini menyebabkan penurunan produksi kelapa dalem dalam jangka pendek. Selain itu, harga kelapa dalem yang rendah karena struktur pasar kelapa dalem yang bersifat oligopoli menyebabkan masyarakat mulai beralih ke komoditi kelapa deres.

Strategi Pengembangan Agribisnis Pertanian

Sektor pertanian terus memberikan kontribusi positif untuk perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat melalui besaran Produk Domestik Bruto (PDB) yang mengalami peningkatan dari sebesar Rp 1,058,245.30 pada tahun 2011 hingga mencapai sebesar Rp 1,600,399.3 pada tahun 2015 (BPS, 2016). Keberadaan sektor pertanian dapat memberikan pengaruh terhadap pengembangan wilayah (Mc Douglass dan Friedman dalam Saragih, 2015).

Perencanaan pembangunan salah satu tujuannya ialah untuk mengupayakan keserasian dan keseimbangan pembangunan antardaerah agar sesuai dengan potensi alam dan dapat memanfaatkan potensi tersebut secara efisien. Pemerintah daerah dengan otonomi daerahnya bertanggung jawab penuh dengan kondisi yang terjadi di daerahnya untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki daerah tersebut.

Sistem agribisnis pertanian sengaja dikembangkan mengingat sistem ini mampu mengintegrasikan empat subsistem usaha pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Pertama, subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yang merupakan kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti usaha di bidang pengadaan dan perdagangan sarana pertanian dan perikanan (alat olah lahan pertanian, mesin pengolah karet, kapal, perahu, alat tangkap, dan lain-lain) dan sarana budidaya pertanian dan perikanan (benih, pupuk, pakan, obat-obatan, dan lain-lain).

Kedua, subsistem on-farm agribusiness yang merupakan kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi untuk menghasilkan produk pertanian primer. Usaha yang masuk ke dalam subsistem ini adalah usaha pertanian produk unggulan budidaya produk unggulan. Ketiga, subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yang berupa kegiatan ekonomi yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan, termasuk di dalamnya kegiatan pemasaran.

Keempat, kegiatan ekonomi terkait yang dikenal sebagai subsistem penunjang. Subsistem penunjang adalah seluruh kegiatan ekonomi yang menyediakan jasa bagi agribisnis pertanian, seperti lembaga keuangan, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga transportasi, lembaga pendidikan, dan lembaga pemerintah.

Strategi pembangunan tersebut diwujudkan melalui dua pendekatan, yakni makro dan mikro. Pendekatan makro merupakan pendekatan sistem agribisnis, sementara pendekatan mikro merupakan pendekatan usaha-usaha agribisnis (firms). Dengan pendekatan sistem agribisnis tersebut, maka pertanian tidak lagi dilihat hanya pertanian primer (on farm) saja, tetapi juga mencakup seluruh sub-sistem.