Mengembangakan Potensi dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa

Berdasarkan sosial kultural, Kabupaten Banyumas identik dengan berbagai potensi interaksi sosial, bahasa, makanan khas, dan seni budaya. (Foto:nusakini)

Banyumas – Pendidikan karakter mempunyai peran utama dalam mempersiapkan generasi terbaik. Penerapan pendidikan karakter dilakukan melalui penanaman pengetahuan lokal. Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 memuat Standar Isi yang dilatar belakangi oleh adanya keberagaman budaya di Indonesia. Pendidikan harus memfasilitasi siswa untuk mengenalkan budaya lokal dan menanamkan sikap mencintai budaya lokal di daerahnya.

Kabupaten Banyumas mempunyai ciri khas yang menjadi identitas dan jati diri suatu bangsa. Berdasarkan sosial kultural, Kabupaten Banyumas identik dengan berbagai potensi interaksi sosial, bahasa, makanan khas, dan seni budaya.

Keterampilan berpikir kreatif, sejumlah 40 peserta didik dapat diketahui ada 3 pencapaian tingkatan berrpikir kreatif yaitu tinggi, cukup dan rendah. Dari peserta didik kelas V di salah satu sekolah di Kabupaten Banyumas terdapat 14 peserta didik memiliki keterampilan berpikir kreatif tinggi, 23 peserta didik memiliki keterampilan berpikir kreatif cukup dan 3 peserta didik memiliki keterampilan berpikir rendah.

Kemampuan berpikir kreatif ada indikator luwes dapat berarti peserta didik memiliki inisiatif jawaban dalam menyelesaikan masalah atau soal. Sebenarnya siswa sudah mampu menghasilkan lebih dari satu jawaban namun masih berasal dari konsep yang sama atau kurang bervariasi. Namun kekurangan tersebut dapat tertutupi pada saat diskusi kelompok.

Pada indikator orisinal berkaitan dengan keaslian ataupun uniknya jawaban dari peserta didik. Ada beberapa peserta didik yang menemukan cara penyelesaian soal yang berbeda dari konsep yang diperoleh ketika pembelajaran. Hal ini berarti beberapa peerta didik sudah dapat membentuk suatu penyelesaian baru yang berasal dari pengalaman yang telah dilaluinya maupun berasal dari konsep yang lain.

Indikator kelancaran dalam keterampilan berpikir kreatif berkaitan dengan banyaknya gagasan atau jawaban yang dihasilkan peserta didik. Pembelajaran dengan menggunakan model Project Based Learning memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan banyaknya jawaban atau gagasan hasil pemikiran pesrta didik.

Model yang cocok untuk menerapkan pembelajaran sains berdasarkan potensi daerah Kabupaten Banyumas adalah model Project Based Learning (PjBL). Pembelajaran IPA Terpadu bermuatan etnosains yang dihasilkan dari penelitian menggunakan sintaks model PjBL. Penerapan pembelajaran IPA bermuatan etnosains berdasarkan pada potensi lokal Kabupaten Banyumas dapat meningkatkan kemampuan beprikir kreatif siswa.

Potensi Budaya Lokal dalam Mendorong Sektor Pendidikan

Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa kurikulum perlu mengembangkan potensi lokal untuk merespon kebutuhan tiap daerah. Potensi lokal dalam pembelajaran dapat berkaitan dengan materi sains di Sekolah Dasar. Hal ini sejalan dengan penelitian Wilujeng (2016), pengintegrasian potensi daerah ke dalam pembelajaran akan memberikan wawasan kepada siswa terkait potensi daerah dan nilai – nilai kearifan lokal.

Disadari bahwa bukan hanya sekolah yang menjadi unsur (agent) transfer pengetahuan dan pengalaman yang kemudian akan bisa membantu tumbuhberkembangnya budaya saja, tetapi juga pranata lain yang ada di masyarakat seperti agama dan nilai lokal lainnya. Pendidikan dalam konteks pembangunan kebudayaan seharusnya tidak sekedar menjadi ruang-ruang belajar-mengajar, tetapi diubah menjadi ruangpenumbuhan/pengembangan kebudayaan.

Menurut Atmojo (2012), kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan. Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Proses pembuatan makanan tradisional merupakan bagian dari contoh budaya, contohnya proses pembuatan tempe secara turun menurun di Kabupaten Banyumas.

Hasil penelitian Atmojo (2012) menyatakan bahwa pembelajaran IPA berbasis etnosains yang mengaitkan pembelajaran dengan budaya masyarakat akan meningkatkan apresiasi siswa terhadap budaya masyarakat tersebut. Dengan etnosains, siswa dapat memahami konsep IPA seperti hasil penelitian Arfianawati, et al (2016) yang menunjukkan bahwa etnosains dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan berpikir kritis siswa.

Sebagai ruang kebudayaan maka proses belajar mengajar diarahkan untuk menjadikan proses interaksi berkebudayaan yang memungkinkan tejadinya proses komunikasi antar budaya. Dengan demikian lalu menegaskan bahwa sekolah hanyalah salah satu dari tempat belajar yang lain yang ada di sekitarnya. Penyelenggaraan pendidikan di rumah, di pusat-pusat kebudayaan dan teknologi dan seni, serta pusat-pusat bermain dan berekspresi, semuanya mendapatkan alokasi waktu pembelajaran yang diperhitungkan secara keseluruhan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

Strategi pembangunan pendidikan berbasis budaya lokal harus diakselerasikan secara terus menerus, sehingga ada/terjadi keberlanjutan yang dengan itu rakyat benar-benar akan merasakan manfaat untuk peningkatan kualitas hidupnya.

Oleh karena itu, maka praktek pendidikan seharusnya dilakukan dengan mengutamakan interaksi dan apresiasi kemanusiaan antar peserta didik, guru/dosen dan lingkungan sosialnya sehingga dapat disemaikan akhlak, sikap, mentalitas dan perilaku luhur. Beberapa persoalan nampaknya belum memperoleh pembahasan intensif dalam pra-saran ini termasuk misalnya masalah penganggaran. Kajian di kesempatan lain khusus mengenai hal ini nampaknya sangat dibutuhkan.