Komoditas Pangan Banyumas Dukung Ketahanan Pangan Daerah

Kabupaten Banyumas berupaya untuk memberdayakan sumber daya lokal agar dapat memenuhi kebutuhan pangan lokal dan diharapkan mampu mensuplai kebutuhan pangan nasional.

Banyumas – Kabupaten Banyumas memiliki beragam komoditas pangan yang memungkinkan untuk dapat mendukung ketahanan pangan nasional. Kabupaten Banyumas mempunyai keunggulan komparatif sebagai wilayah agraris yang di dukung dengan sumberdaya yang melimpah, maka demi terwujudnya ketahanan pangan yang kuat, Kabupaten Banyumas hendaknya memberdayakan potensi komoditas pangan yang ada pada setiap wilayahnya dengan terencana, terkoordinasi dan terspesialisasi.

Kelompok komoditas sumber karbohidrat, komoditas padi sawah yang menjadi komoditas unggulan berada pada 17 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Komoditas padi ladang yang menjadi komoditas unggulan berada pada 8 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Komoditas jagung yang menjadi komoditas unggulan berada pada 6 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Komoditas ketela pohon yang menjadi komoditas unggulan berada pada 9 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Komoditas ubi jalar yang menjadi komoditas unggulan berada pada 8 kecamatan di Kabupaten Banyumas.

Kelompok komoditas sumber protein nabati, komoditas kedelai yang menjadi komoditas unggulan berada pada 13 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Komoditas kacang hijau yang menjadi komoditas unggulan berada pada 5 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Komoditas kacang tanah yang menjadi komoditas unggulan berada pada 10 kecamatan di Kabupaten Banyumas.

Kelompok komoditas sumber karbohidrat diketahui terdapat 17 kecamatan yang berpotensi unggul pada masa yang akan datang pada komoditas padi sawah, komoditas padai ladang ada 7 kecamatan, komoditas jagung ada 5 kecamatan, ketela pohon ada 8 kecamatan, komoditas ubi jalar ada 3 kecamatan.

Kelompok komoditas sumber protein nabati komoditas kedelai berpotensi unggul pada masa yang akan datang terdapat 8 kecamatan, komoditas kacang hijau ada 2 kecamatan, komoditas kacang tanah ada 8 kecamatan.

Kabupaten Banyumas perlu meminimalkan terjadinya kegiatan konversi lahan pertanian, dan memanfaatkan luas lahan pertanian yang ada secara optimal supaya pemenuhan kebutuhan pangan warga Kabupaten Banyumas khususnya dapat terpenuhi. Peminimalan lahan pertanian dapat dilakukan melalui pembuatan kebijakan tentang penjagaan lahan pertanian. Selain hal tersebut, teknologi peningkatan produksi komoditas pangan dikembangkan dengan metode yang ramah lingkungan serta tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat.

Komoditas unggulan sektor pangan kecamatan di Kabupaten Banyumas cukup beragam, dengan memprioritaskan komoditas unggulan pangan dalam berbagai hal misalnya dalam pengembangan teknologi, strategi pemasaran dan peningkatan ketrampilan pekerja komoditas tersebut. Ketika salah satu komoditas semakin berkembang, maka komoditas terkait dengan komoditas tersebut akan semakin berkembang juga.

Peran Bibit Unggul dalam Pengembangan Desa Ketahanan Pangan

Stabilitas ketahanan pangan dapat terwujud salah satunya ketika ketersediaan pangan terjamin dengan berlandaskan kemampuan sumber daya lokal (wilayah). Kemampuan sumber daya lokal dapat terlihat ketika suatu wilayah mampu menghasilkan komoditas pangan untuk memenuhi konsumsi wilayah sendiri dan menjualnya ke wilayah lain disekitarnya.

Dalam mendukung usaha peningkatan produktivitas usaha pertanian, salah satunya melalui peningkatan penggunaan bibit unggul, pemeliharaan dan optimasi pemanfaatan infrastruktur irigasi dan jalan desa.

Upaya menjaga stabilitas ketahanan pangan yaitu dengan menjamin ketersediaan pangan yang dapat diwujudkan melalui pengembangan sistem produksi komoditas pangan yang bertumpu pada sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal dengan peningkatan produksi komoditas pangan.

Sejalan dengan Pasal 2 PP No. 68 tahun 2002, sistem ketahanan pangan harus berlandaskan kemampuan sumber daya lokal (wilayah) dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan wilayah dan nasional. Untuk memantapkan ketahanan pangan nasional, diharapkan setiap wilayah dapat mengembangkan potensi produksi komoditas pangannya sehingga dapat menopang kebutuhan regional maupun nasional. Pengembangan komoditas tersebut diharapkan mampu mengimbangi jumlah penduduk yang terus bertambah.

Salah satu strategi yang perlu dilakukan adalah melalui pencegahan dan penanggulangan dengan berbagai trigger mechanisms yang dilakukan dengan berkoordinasi bersama instansi terkait. Penanganan daerah rawan pangan (PDRP) dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dengan melibatkan peran serta Ditjen. Tanaman Pangan, Ditjen. Hortikultura, Ditjen. Peternakan, Ditjen. Perkebunan serta Ditjen. Pengelolaan Lahan dan Air serta lintas sektor terkait. Pemerintah daerah sebagai pengelola utama sangat berperan dalam implementasinya.

Pembangunan ketahanan pangan yang berbasis dari sumber daya dan kearifan lokal harus terus digali dan ditingkatkan mengingat penduduk terus bertambah dan aktivitas ekonomi pangan terus berkembang dengan dinamis. Untuk membangun ketahanan pangan tersebut memerlukan kerjasama yang efektif antara berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) yang meliputi pemerintah, lembaga non pemerintah, lembaga masyarakat bahkan masyarakat sebagai individu.

Dipahami pula bahwa berbagai kebijakan, strategi dan program telah dirumuskan dengan baik pada masa lalu, namun belum dapat terlaksana secara efektif. Masalahnya lebih terletak pada komitmen dan kedisiplinan masing-masing pemangku kepentingan (stakeholders) untuk melaksanakan tugasnya dengan benar dan mengarah pada pencapaian tujuan bersama (Nainggolan, 2008).