Pertumbuhan Proporsional Komoditi Pertanian Basis di Kecamatan Wanareja

Kecamatan Wanareja terdapat 30 komoditi pertanian basis yang pertumbuhannya cepat, yang ditunjukkan dengan nilai pertumbuhan proporsional positif.

Wanareja, Cilacap – Kecamatan Wanareja terdapat 30 komoditi pertanian basis yang pertumbuhannya cepat, yang ditunjukkan dengan nilai PP positif. Komoditi pertanian basis tersebut adalah padi sawah, rambutan, kayu lain, kambing, sapi potong, mahoni, ayam ras pedaging, petai, domba, karet, ikan mas, cabe rawit, tambakan, tawes, salak, nila, sukun, kapulogo, panili, jambu biji, ayam kampung, cabe besar, tomat, jati, kunyit, kencur, ketimun, belimbing, nanas, lengkuas.

Komoditi pertanian basis di Kecamatan Wanareja yang mempunyai nilai PP terbesar adalah padi sawah, yaitu Rp 28.780.831.156,66. Nilai PP yang dimiliki komoditi padi sawah tersebut menunjukkan besarnya keuntungan atau pertumbuhan nilai produksi yang dialami komoditi padi sawah karena pengaruh kebijakan yang menguntungkan komoditi padi sawah.

Kebijakan yang menguntungkan komoditi padi sawah tersebut misalnya kebijakan harga dasar gabah, kebijakan peningkatan produktivitas dan produksi pangan utama khususnya beras melalui intensifikasi dan rehabilitasi sarana dan prasarana penunjang usahatani, peningkatan pengembangan teknologi spesifik lokal yang ramah lingkungan seperti pemanfaatan limbah panen dan limbah ternak menjadi pupuk bokashi.

Komoditi pertanian basis di Kecamatan Wanareja yang mempunyai nilai PP negatif yaitu alpukat, gurami, jahe, puyuh, kapuk, kopi, kelapa hibrida, lada, duku, cengkeh, aren, durian, kerbau, mangga, sereh wangi, dan kelapa dalem.

Nilai PP negatif yang dimiliki oleh komoditi pertanian basis tersebut tersebut menunjukkan bahwa komoditi pertanian basis di Kecamatan Wanareja tersebut tumbuh relatif lambat dibandingkan dengan komoditi lain di Kabupaten Cilacap atau dapat dikatakan juga Kecamatan Wanareja tidak berspesialisasi dalam menghasilkan komoditi pertanian basis tersebut yang secara regional tumbuh dengan lambat.

Komoditi pertanian basis yang mempunyai nilai PP terkecil adalah kelapa dalem, yaitu Rp -2.191.725.377,22 , artinya kelapa dalem mengalami penurunan nilai produksi sebesar nilai PPnya.

Kebijakan rehabilitasi ini menyebabkan penurunan produksi kelapa dalem dalam jangka pendek. Selain itu, harga kelapa dalem yang rendah karena struktur pasar kelapa dalem yang bersifat oligopoli menyebabkan masyarakat mulai beralih ke kelapa deres.

Komponen pertumbuhan proposinal (PP) merupakan suatu alat ukur dalam analisis Shift Share yang menunjukkan perubahan relatif, pertumbuhan atau penurunan produktivitas suatu komoditi pertanian dibandingkan dengan komoditi pertanian lain di Kabupaten Cilacap akibat pengaruh unsur-unsur eksternal yang bekerja secara regional (kabupaten).

Komoditi yang mempunyai nilai PP positif di suatu kecamatan berarti komoditi tersebut terkonsentrasi di kecamatan tersebut dan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan komoditi lain di tingkat kabupaten, sebaliknya komoditi yang mempunyai nilai PP negatif berarti tingkat pertumbuhan komoditi tersebut relatif lebih lambat dibandingkan komoditi lain di tingkat kabupaten.

Pembangunan Ekonomi Melalui Inovasi dalam Sektor Agribisnis

Isu strategis pembangunan ekonomi yang berkembang adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang notabene adalah dipedesaan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu memihak pemberdayaan ekonomi rakyat. Kesejahteraan masyarakat merupakan komponen yang sangat penting dalam kemajuan suatu negara. Seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat maka peningkatan taraf hidup harus selalu di upayakan.

Seperti halnya tujuan pembangunan nasional yang harus dicapai yaitu meningkatkan taraf hidup di daerah melalui pembangunan yang serasi, terpadu antar sektor perencanaan efisien dan efektif menuju tercapainya kesejahteraan rakyat.

Menindaklanjuti pembangunan ekonomi tersebut maka dalam sektor pertanaian dalam mengatasi masalah stagnasi agribisnis yang ada maka diperlukan pengembangan sektor ekonomi yang mampu mengintegrasikan perekonomian antara usaha tani dan industri/jasa, artinya dipedesaan perlu dikembangkan pengelolaan usaha tani yang berbasisis spesifik lokasi dan berorentasi pada kegiatan produksi, pengolahan dan pemasaran, agribisnis dengan pengembangan inovasi-inovasi dalam prosesnya (Marina, 2017).

Fase konsepsi adopsi inovasi memiliki peranan yang penting dalam mengurai stagnasi inovasi agribisnis. Suatu invensi akan menjadi inovasi apabila memberikan manfaat bagi para petani, proses konsepsi-adopsi adalah tahapan-tahapan yang berperan penting dalam proses internaslisasi invensi teknologi agar dapat memberikan manfaat.

Pada fase konsepsi, penciptaan ide baru yang tidak terkait dengan realitas pertanian atau kebutuhan petani menciptakan stagnasi konsepsi yang berujung pada penghamburan biaya riset. Selanjutnya pada fase adopsi, kesenjangan pengetahuan petani dan penyusutan teknologi hasil invensi mengakibatkan teknologi yang diadopsikan memberikan manfaat hanya dalam jangka pendek, atau bahkan tidak memberikan manfaat sama sekali karena tidak dapat digunakan. Keterbatasan akses pengatahuan dan ekonomi mengakibatkan kegagalan adopsi teknologi banyak terjadi pada petani kecil.

Upaya-upaya yang dapat ditempuh untuk mengurai stagnasi tersebut di antaranya adalah dengan sinkronasasi antara lembaga riset dengan kebutuhan para petani terkait dengan peningkatan produksi dan kualitas produk pertanian dan menjadikan petani sebagai pemilik riset melalui investasi terhadap riset yag dilakukan.

Kemudian pada fase adopsi diperlukan upaya-upaya untuk mengurangi kesenjangan pengetahuan dan keterampilan petani dengan memperbanyak interaksi antara lembaga sumber invensi dengan lembaga penyuluhan atau pendamping petani. Selain itu pula diperlukan rekayasa kelembagaan petani untuk mengatasi resiko penyusutan teknologi guna menjaga keberlangsungan teknologi sehingga dapat terus memberikan manfaat kepada penggunanya.