Potensi Agroindustri di Kabupaten Banyumas

Ilustrasi produk UMKM di Kabupaten Banyumas yang sudah mencapai pasaran.

Banyumas – Di wilayah Banyumas, agroindustri juga berkaitan dengan pembangunan di sektor industri kreatif, berkaitan pula dengan pemberdayaan masyarakat melalui usaha mikro dan kecil. Dengan potensinya sebagai daerah penghasil bahan pangan maupun hasil pertanian secara umum, pengembangan agroindustri di Kabupaten Banyumas memberikan kontribusi penting bagi peningkatan nilai tambah dari sektor pertanian menjadi industri pengolahan.

Pengembangan Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) berbasis agroindustri di wilayah kabupaten Banyumas dapat diupayakan dengan pola pembangunan berbasis klaster. Di wilayah tersebut, komoditas-komoditas spesifik diusahakan pada wilayah yang terbatas. Pengelompokan usaha ini pada umumnya terjadi secara alamiah namun dapat pula terjadi karena faktor kebijakan.

Di kabupaten Banyumas demikian pula, sektor ekonomi primer ini merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Banyumas. Kontribusi ini dimungkinkan oleh dukungan luas luasnya lahan pertanian yang ada. Pada tahun 2009, sektor ini memberikan kontribusi sebesar 21,06 persen. Komoditas utama sektor ini di banyumas adalah beras. Pada tahun 2010, produksi beras mencapai surplus sebesar 61.722 ton.

Komoditas hasil agroindustri di Kabupaten Banyumas memiliki prospek pengembangan yang bagus. Hal ini dapat teridentifikasi prospek positif dari seluruh hasil olahan dari output sektor pertanian. Table 1 maupun tebel 2 berikut memperlihatkan dari tahun 2009 sampai tahun 2012, tingkat produksi setiap komoditas agroindustri meningkat. Demikian pula jumlah pelaku usaha juga menunjukkan peningkatan, kecuali produsen susu dan fraksinasi nilam yang tidak berubah. Untuk komoditas susu, tercatat hanya terdapat 1 usaha pengolahan susu di Kabupaten Banyumas, dengan bentuk produk akhirnya komoditas susu kemas (UHT).

Wilayah Kabupaten Banyumas merupakan daerah yang memiliki potensi tinggi dalam usaha tani. Selain merupakan daerah lumbung padi, di wilayah ini juga telah berkembang beraneka ragam komoditas yang dihasilkan dari bermacam jenis usaha tani, termasuk hortikultura, produksi sub sektor perkebunan, peternakan maupun perikanan.

Hasil pemetaan klasterisasi komoditas agroindustri di Kabupaten Banyumas menunjukkan terdapat wilayah-wilayah spesifik yang memiliki potensi unggulan dalam pengembangan komoditas agroindustri. Kerajinan penggunaan sisa produk kelapa dalam bentuk gula kelapa, sabut kelapa dan tempurung kelapa teridentifikasi di beberapa daerah Kecamatan spesifik. Demikian pula untuk industri olahan pangan lainnya.

Potensi yang dapat dari Sektor Perkebunan dalam Bidang Agroindustri

Titik berat pembangunan ekonomi harus bergeser dari pertanian ke sektor industri. Industri yang mengolah hasil-hasil pertanian primer menjadi produk olahan yaitu agroindustri. Agroindustri merupakan sarana meningkatkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, memperluas pasar bagi produk pertanian dan menunjang usaha peningkatan pendapatan serta kesejahteraan petani, Basamalah (2004).

Karakteristik agroindustri bersifat resourses based industry, arah strategi pengembangannya harus didasarkan pendekatan wilayah potensi sumberdaya dengan tetap berpijak pada konsep keunggulan komparatif, Syam dan Ma’arif (2004).

Oleh sebab itu, sentuhan kebijakan bagi pengembangan pembangunan pertanian wilayah masih sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani, Witjaksono dkk (2005).

Hasil tanaman perkebunan diperdagangkan para petani rata-rata masih terbatas pada tingkat on farm agribusiness dengan nilai tambah bagi petani yang masih terlalu kecil sehingga pendapatan petani belum memadai. Peran sektor agroindustri dapat meningkatkan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja dan pendapatan rumah tangga,Sinaga dan Susilowati, (dalam Indrawanto, 2008).

Pengembangan agroindustri perkebunan seharusnya mengacu pendekatan komoditas unggulan. Sampai saat ini belum ada suatu acuan yang akurat bagi Pemerintah Kabupaten seharusnya mengambil langkah untuk menentukan kebijakan industri yang sesuai dengan komoditi perkebunan unggulan yang memberikan nilai tambah memadai dan memberikan kontribusi yang tinggi bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Strategi pengembangan potensi wilayah agroindustri perkebunan unggulan seharusnya berada pada kuadran I atau dalam kata lain strategi yang dibuat dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang yaitu strategi agresif.

Strategi agresif berdasarkan faktor kekuatan yang merupakan internal dan faktor peluang yang merupakan faktor eksternal dengan alternatif strategi: peningkatan kemandirian petani melalui pembinaan dan penyuluhan, pengembangan kemitraan pada kegiatan agroindustri dalam upaya menambah nilai tambah produksi.

Peluang dalam Pengembangan agroindustri adalah seperti (1) dukungan pemerintah daerah sangat besar: masalah ekspor, penetapan pajak, pasar, perijinan dan kinerja penyuluh, (2) keadaan iklim, geografi dan lokasi yang sesuai, (3) masih terbukanya peluang penerapan alat dan mesin pertanian serta pengolahan hasil perkebunan unggulan, baik dalam hal budidaya, panen, pasca panen dan industri makanan, (4) masih terbukanya peluang pemasaran hasil komoditi perkebunan unggulan, (5) masih terbukanya akses kredit khususnya untuk pengembangan agroindustri perkebunan unggulan, dan (6) masih besarnya kebutuhan konsumen dan daya serap pasar komoditi perkebunan unggulan, Herdiansyah dkk (2012).