Potensi Desa di Kecamatan Sokaraja Sektor Pertanian, Peternakan dan Industri Kecil

Semua desa di Kecamatan Sokaraja memproduksi padi dengan jumlah produksi terbesar terdapat di desa Karangduren yaitu sebesar 1.339 ton atau sebesar 9,61% dari total produksi yang dihasilkan. (Foto: Satelitpost)

Potensi yang menonjol di Kecamatan Sokaraja adalah sektor pertanian, peternakan dan industri kecil. Pada sektor pertanian terdapat satu komoditas unggulan yaitu padi. Sementara pada sektor peternakan terdapat empat komoditas unggulan, yaitu kambing, sapi biasa, ayam kampung, dan itik.

Semua desa di Kecamatan Sokaraja memproduksi padi dengan jumlah produksi terbesar terdapat di desa Karangduren yaitu sebesar 1.339 ton atau sebesar 9,61% dari total produksi yang dihasilkan. Jumlah ternak kambing terbanyak di Kecamatan Sokaraja terdapat di desa Wiradadi yaitu sebanyak 537 ekor atau 19,48% dari jumlah kambing yang diternakan. Jumlah ayam kampung yang diternakan di Kecamatan Sokaraja paling banyak terdapat di desa Karangnanas yaitu sebanyak 2.503 ekor ayam kampung atau sebesar 10,73%.

Jumlah ternak sapi biasa terbanyak di Kecamatan Sokaraja terdapat di desa Sokaraja Tengah dengan 149 ekor atau sebesar 16,98% dari total sapi biasa keseluruhan. Itik juga merupakan salah satu komoditas unggulan pada sektor peternakan di Kecamatan Sokaraja dengan jumlah produksi terbesar terdapat di desa Karangnanas sebanyak 1.107 ekor itik atau sebesar 19,03% dari jumlah keseluruhan di Kecamatan Sokaraja.

Selain sektor pertanian dan peternakan, Kecamatan Sokaraja juga mempunyai potensi di sektor industri dan perdagangan. Sektor industri tersebar di seluruh wilayah di Kecamatan Sokaraja. Industri kecil terbanyak di Kecamatan Sokaraja terdapat di desa Sokaraja Tengah dengan jumlah industri kecil sebanyak 18 buah. Sementara itu, untuk industri rumah tangga di Kecamatan Sokaraja paling banyak terdapat di desa Wiradadi dengan jumlah 537 buah industri rumah tangga.

Selain itu, di Sokaraja juga banyak terdapat pengrajin batik khas Sokaraja dengan skala industri kecil dan industri rumah tangga. Jumlah toko/warung terbanyak berada di desa Sokaraja Kidul yaitu sebanyak 81 unit dan jumlah warung makan terbanyak terdapat di desa Sokaraja Kulon dengan 51 warung makan.

Kebanyakan industri kecil dan industri rumah tangga di Kecamatan Sokaraja memproduksi produk makanan khas seperti getuk goreng, jenang, lanting, dan keripik tempe untuk dijual di toko oleh-oleh yang banyak terdapat di wilayah Kecamatan Sokaraja.

Pengembangan Potensi Unggulan Sektor Pertanian

Dalam melaksanakan pembangunan desa, pemerintah melakukan pembangunan melalui dua arah (ganda) yaitu : Pertama, dengan perencanaan partisipatif dalam kerangka pembangunan dari, oleh dan untuk desa yang disebut “desa membangun”; Kedua, perencanaan teknokratik yang melibatkan kekuatan supra desa seperti kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan pemerintah pusat dalam kerangka pembangunan kawasan pedesaan yang disebut “ membangun desa”.

Kedua pola pembangunan tersebut mempunyai tujuan yang sama namun pola dan cara yang dilakukan mempunyai perbedaan antar keduanya. UU Desa membedakan dengan tegasantara konsep pembangunan perdesaan (membangun desa) dan pembangunan desa (desa membangun).

Secara garis besar potensi desa dapat dibedakan menjadi dua; Pertama adalah potensi fisik yang berupa tanah, air, iklim, lingkungan geografis, binatang ternak, dan sumber daya manusia. Kedua adalah potensi non-fisik berupa masyarakat dengan corak dan interaksinya, lembaga-lembaga sosial, lembaga pendidikan, dan organisasi sosial desa, serta aparatur dan pamong desa, Soleh (2017).

Arah kebijakan umum pengembangan ekonomi kerakyatan untuk produk unggulan di bidang pertanian adalah pemberdayaan sistem agribisnis pertanian yang mengarah pada peningkatan kemampuan dan kemandirian Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian dan kelembagaan untuk dapat memanfaatkan sumberdaya daya pertanian secara optimal dan lestari melalui pemanfaatan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat petani dan nelayan.

Sistem agribisnis pertanian sengaja dikembangkan mengingat sistem ini mampu mengintegrasikan empat subsistem usaha pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Pertama, subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yang merupakan kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti usaha di bidang pengadaan dan perdagangan sarana pertanian dan perikanan (alat olah lahan pertanian, mesin pengolah karet, kapal, perahu, alat tangkap, dan lain-lain) dan sarana budidaya pertanian dan perikanan (benih, pupuk, pakan, obat-obatan, dan lain-lain).

Kedua, subsistem on-farm agribusiness yang merupakan kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi untuk menghasilkan produk pertanian primer. Usaha yang masuk ke dalam subsistem ini adalah usaha pertanian produk unggulan dan budidaya produk unggulan.

Ketiga, subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yang berupa kegiatan ekonomi yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan, termasuk di dalamnya kegiatan pemasaran.

Keempat, kegiatan ekonomi terkait yang dikenal sebagai subsistem penunjang. Subsistem penunjang adalah seluruh kegiatan ekonomi yang menyediakan jasa bagi agribisnis pertanian, seperti lembaga keuangan, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga transportasi, lembaga pendidikan, dan lembaga pemerintah.

Pemerintah daerah seharusnya dalam perencanaan pengembangan sektor mengacu pada program-program pengembangan pada sektor unggulan, walaupun tidak menutup sektor lain yang baru berkembang maupun kurang berkembang. Strategi, kebijakan dan program yang ditawarkan diharapkan dapat menjadi pendorong dalam pengembangan sektor terutama sektor ekonomi kecil atau kerakyatan.