Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Dalam Film Indie Banyumas

Danrem nonton bareng bersama siswa-siswi SMP dalam upaya pendidikan karakter bangsa melalui edukasi film. (Foto: Medianusantara)

Film produksi sineas muda Purbalingga yang tergabung dalam wadah Cinema Lovers Community (CLC), atau sineas pelajar Cilacap dalam komunitas Sangkanparan telah mampu berbicara di berbagai kancah festival film regional dan nasional. Bahkan dengan membawa isu kearifan lokal Banyumas beberapa film diantaranya pernah diputar pada ivent perfilman tingkat internasional.

Mulyana (2004: 107), menyatakan hubungan film dan budaya bersifat timbal balik. Sama halnya dengan komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari prilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya.

Salah satu unsur kearifan lokal dalam film indie Banyumas adalah penggunaan bahasa Jawa dialek ngapak atau bahasa Banyumas. Bahasa dalam sebuah film merupakan salah satu unsur penting pembentuk cerita. Penggunaan bahasa Banyumas ini menjadi ciri khas film indie Banyumas.

Wacana kearifan lokal juga terlihat pada narasi dan alur cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas yang sederhana. Seting cerita ditandai dengan berbagai atribut yang merepresentasikan ikon kebanyumasan seperti rumah tikelan, scene orang membatik, dan kain batik Banyumasan.

Konsistensi isu dalam film Banyumas menjadi menarik, mengingat khasanah budaya di wilayah saat ini mulai memudar, tergerus arus budaya asing. Di hadapan pergeseran nilai budaya, posisi budaya lokal saat ini cenderung termarginalkan.

Terlepas dari segala kekurangan pada sisi teknik, film-film karya pelajar Banyumas ini layak dijadikan sumber bahan ajar di sekolah SMP dan SMA/SMK. Guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Sejarah, IPS, PKn, Seni dan Budaya atau yang lainya dapat menggunakan film-film ini sebagai sumber bahan ajar yang bermuatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Penggunaan Film dalam Media Pengembangan Karakter Anak

Pendidikan karakter yang efektif tidak menambahkan suatu program atau seperangkat program untuk sekolah. Justru itu adalah transformasi budaya dan kehidupan sekolah. Bahwa suatu Pendidikan karakter bukan sekedar menambahkan sesuatu program, melainkan suatu tindakan yang akan menjadi kebiasaan dan menjadi budaya (merubah sesorang).

Film adalah media untuk menyampaikan pesan, bercerita dan berekspresi. Seperti halnya karya sastra (novel, cerpen, drama, teater), di dalam film juga terdapat cerita, adegan (scene), dialog, kejadian, konflik, tokoh, penokohan, dan setting. Salah satu keunggulan film adalah mampu memvisualisasikan berbagai karakter manusia sehingga dengan mudah dapat mengintervensi atau mempengaruhi pikiran penonton. Di sinilah terlihat betapa film memiliki efektifitas dalam menanamkan nilai-nilai moral sebagai bagian dari aspek pendidikan karakter bangsa.

Film sebagaimana media massa pada umumnya merupakan cerminan kondisi masyarakat dimana media massa itu berada. Nilai, norma dan gaya hidup yang berlaku pada masyarakat akan direproduksi dalam film. Namun di pihak lain, film juga berkuasa menetapkan nilai-nilai subtantif yang dianut oleh masyarakat, bahkan nilai-nilai yang rusak sekalipun. Di sinilah, film berkontribusi dalam pembentukan karakter bangsa.

Pendidikan karakter sesungguhnya terminologi lain dari pendidikan budi pekerti yaitu bagaimana nilai-nilai moral dapat dinternalisasi kepada peserta didik. Nilai adalah segala hal yang menjadi ukuran atau norma dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat dibentuk dari apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar dan apa yang mereka mampu rasakan dari lingkungannya secara berulang-ulang sehingga membentuk karakter yang positif.

Pendidikan karakter bangsa yang universal dapat digali dari nilai-nilai kearifan lokal. Pembentukan karakter bangsa Indonesia dapat dimulai atau diupayakan dengan penggalian teks-teks yang mengandung kearifan lokal, termasuk film.

Ohoitmur dalam Rataq dan Korompis (2011:11), menegaskan bahwa karakter personal terdiri dari dua unsur yakni karakter bawaan dan karakter binaan. Karakter bawaan merupakan karakter yang secara hereditas menjadi ciri khas kepribadiannya. Sedangkan karakter binaan merupakan karakter yang berkembang melalui pembinaan dan pendidikan secara sistematis.

Menurut Lickona (2008) anak akan dapat mengembangkan pemahaman mengenai karakter, dengan cara mempelajari dan mendiskusikan karakter tersebut, mengamati perilaku model yang memiliki karakter positif dan memecahkan permasalahan yang memiliki kandungan moral dan karakter yang cukup tinggi.

Pada saat anak berusaha belajar untuk memiliki karakter menghormati orang lain, anak perlu untuk dapat memiliki model yang secara jelas menunjukkan perilaku menghormati orang lain. Kemudian juga diikuti dengan melatih karakter tersebut di dalam aktivitas nyata.

Implementasi penggunaan media film atau audio visual berupa video karakter ini sangat meanrik bagi anak dan dapat mendukung proses pembelajaran yang sedang berlangsung, sehingga perkembangan karater yang meliputi nilai sosial dan agama sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 58 dapat meningkat, Kristanto (2018).