Potensi Pertanian Sangat Baik di Kecamatan Dayeuhluhur

Kecamatan Dayeuhluhur mempunyai 31 komoditi pertanian basis yang memiliki daya saing wilayah yang baik. (Foto: Pemkab Purbalingga)

Dayeuhluhur, Cilacap – Kecamatan Dayeuhluhur mempunyai 31 komoditi pertanian basis yang memiliki daya saing wilayah yang baik. Pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) Di sub sektor tanaman bahan makanan, komoditi pertanian basis yang mempunyai daya saing wilayah yang baik adalah padi sawah, padi gogo, ketela rambat, ketimun, rambutan, petai, manggis, nangka, salak, pisang, dan sukun. Rambutan merupakan komoditi pertanian basis yang mempunyai nilai PPW tertinggi di bandingkan dengan komoditi pertanian lainnya baik dari sub sektor tabama maupun sub sektor lainnya.

Nilai PPW komoditi rambutanan adalah sebesar Rp 6.210.003.291,07 (lihat Lampiran 2) yang artinya komoditi rambutan mengalami kenaikan nilai produksi sebesar Rp 6.210.003.291,07 karena keuntungan lokasional yang dimiliki oleh kecamatan Dayeuhluhur.

Di sub sektor tanaman perkebunan, komoditi yang mempunyai daya saing wilayah yang baik adalah karet, kelapa hibrida, lada, kapuk, dan kunyit. Di sub sektor tanaman perkebunan, komoditi karet merupakan komoditi perkebunan yang mempunyai nilai PPW tertinggi di Kecamatan Dayeuhluhur.

Komoditi pertanian basis dari sub sektor kehutanan di Kecamatan Dayeuhluhur yang mempunyai daya saing wilayah yang baik adalah mahoni. Nilai PPW komoditi mahoni di kecamatan ini adalah sebesar Rp 865.588.637,41. Komoditi pertanian basis dari sub sektor peternakan yang memiliki daya saing wilayah yang baik di Kecamatan Dayeuhluhur adalah kerbau, ayam ras pedaging, domba, ayam ras petelur, kuda dan puyuh. Nilai PPW komoditi ayam ras pedaging di Kecamatan Dayeuhluhur adalah Rp 796.987.784,72.

Komoditi pertanian basis dari sub sektor perikanan di Kecamatan Dayeuhluhur yang mempunyai daya saing wilayah yang baik adalah tawes, gurami, nila, ikan mas, lele, dan ikan rucah. Komoditi pertanian basis dari sub sektor perikanan yang mempunyai nilai PPW tertinggi di Kecamatan Dayeuhluhur adalah tawes dengan nilai PPW Rp 440.800.139,78.

Komoditi pertanian basis dari sub sektor perikanan yang mempunyai nilai PPW tertinggi di Kecamatan Dayeuhluhur adalah tawes dengan nilai PPW Rp 440.800.139,78.

Komoditi pertanian basis prioritas perkebunan, kehutanan dan periikanan bernilai ekonomi tinggi seperti padi sawah, karet, dan kakao perlu dikembangkan melalui program peningkatan penguasaan teknologi oleh petani dan program perluasan areal perkebunan dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan lahan yang tersedia dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan tanpa mengabaikan komoditi pertanian yang lain.

Strategi Pembangunan Pertanian Meningkatkan Perekonomian

Efisiensi dan pertumbuhan sektor pertanian dapat dipacu melalui pertumbuhan produksi dan pendapatan petani, pembentukan modal, dan peningkatan daya saing. Pemerataan kepemilikan sumber daya dapat ditempuh melalui kebijakan reformasi agraria (land reform) serta meningkatkan akses dan kontrol masyarakat petani ke sumber daya pertanian, modal, teknologi, kesejahteraan sosial, dan ketenteraman.

Kelestarian sumber daya pertanian dan lingkungan dapat diwujudkan dengan mengembangkan sistem usaha tani ramah lingkungan, memelihara dan meningkatkan kualitas lingkungan, mengurangi dampak negatif eksternal, serta mendorong dampak positif eksternal dalam proses pembangunan.

Keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan ditentukan oleh pelaksanaan revitalisasi pertanian. Krisnamurthi (2006) mengemukakan, revitalisasi pertanian memiliki tiga pengertian. Pertama, sebagai kesadaran akan pentingnya per tanian bagi kehidupan bangsa dan rakyat Indonesia, kedua, sebagai bentuk rumusan harapan masa depan tentang kondisi pertanian, serta ketiga, sebagai kebijakan dan strategi besar melakukan revitalisasi itu sendiri.

Pemberdayaan petani menjadi petani mandiri dan profesional dapat dilakukan melalui beberapa langkah. Pertama, meningkatkan kualitas sumber daya manusia petani melalui pelatihan, penelitian, magang dan sebagainya, baik secara individu maupun kelompok.

Kedua, melakukan revitalisasi kelompok tani mandiri ke arah kelembagaan formal berbadan hukum (koperasi petani atau koperasi agribisnis, asosiasi petani komoditas tertentu).

Ketiga, mengangkat penyuluh swakarsa atau petani petandu (dalam program SLPHT) sebagai mitra penyuluh untuk memperlancar difusi dan adopsi teknologi.

Keempat, memberdayakan kelembagaan penyuluhan pertanian dan kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) menjadi Pusat Pelayanan dan Konsultasi Agribisnis (PPA) di setiap kecamatan melalui sistem penyuluhan partisipatif.

Pembangunan pertanian berwawasan agribinsis yang berkelanjutan dalam perspektif desentralisasi dan otonomi daerah perlu dihela oleh sumberdaya modal, SDM yang handal, dan pengembangan potensi teknologi secara dinamis. Dalam perumusan perencanaan dan implementasinya perlu dipahami profil dan dinamika ekonomi pedesaan, konsepsi dan strategi pengembangannya dan kebijaksanaan pendukung secara komprehensip dalam operasionalnya di lapangan.

Fokus pembangunan nasional pada sektor agribisnis dinilai sejalan dengan struktur perekonomian saat ini dan diyakini akan mampu memacu pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Daerah pedesaan dikembangkan berdasarkan pewilayahan komoditas unggulan utama yang menghasilkan bahan baku pengembangan agroindustri di daerah perkotaan, Gustiana (2015).