Pola Hutan Wanafarma Berikan Kontribusi Ekonomi Bagi Keluarga Petani

Salah satu bentuk pola tanam campuran adalah wanafarma, yaitu pola tanam yang memadukan tanaman hutan (wana) dan tanaman obat (farma). Pola wanafarma juga dikembangkan di hutan rakyat di Kabupaten Cilacap. (Foto: Iis Yuningsih)

Majenang – Hutan rakyat (HR) adalah hutan yang tumbuh di atas tanah milik rakyat dengan jenis tanaman kayu-kayuan. Pengelolaan HR dilakukan oleh pemiliknya atau oleh suatu badan usaha dengan berpedoman kepada ketentuan yang telah digariskan oleh pemerintah (Awang et all., 2001).

Masyarakat lebih banyak mengembangkan hutan rakyat dengan pola tanam campuran karena sempitnya lahan yang dimiliki sebagaimana yang dikemukakan oleh Hardjanto (2000) bahwa rata-rata pemilikan lahan di Jawa sempit sehingga mendorong pemiliknya untuk memanfaatkan lahan seoptimal mungkin.

Salah satu bentuk pola tanam campuran adalah wanafarma, yaitu pola tanam yang memadukan tanaman hutan (wana) dan tanaman obat (farma) (Yusron, 2010). Pola wanafarma juga dikembangkan di hutan rakyat di Kabupaten Cilacap.

Berbagai jenis tanaman obat tersebut akan memberikan keuntungan terus-menerus jika dikelola dengan baik, karena didukung oleh prospek pasar yang bagus. Hingga saat ini masih banyak permintaan hasil tanaman obat baik dari pasar, industri, dan konsumen rumah tangga. Permintaan yang tinggi dikarenakan beragamnya hasil pengolahan tanaman obat yaitu sebagai bahan dasar obat-obatan, jamu, minuman, dan makanan. Petani akan memperoleh keuntungan terus menerus dalam jangka waktu pendek, setiap 2-4 bulan untuk tanaman kapulaga dan setiap 6-9 bulan untuk tanaman jahe, kencur, dan kunyit.

Petani juga harus pintar dalam memilih jenis kayu yang diusahakan yaitu jenis yang mudah dibudidayakan, banyak diminta pasar, dan mempunyai nilai ekonomi serta ekologi yang baik. APHI (1995) Herawati (2001) menyatakan bahwa pemilihan jenis tanaman kayu-kayuan harus memenuhi beberapa kriteria yang menyangkut tiga aspek, meliputi aspek lingkungan yaitu sesuai dengan keadaan iklim, jenis tanah, kesuburan, dan keadaan fisik wilayah; aspek sosial yaitu cepat menghasilkan dan dapat dibudidayakan oleh masyarakat dengan mudah; serta aspek ekonomi yaitu menghasilkan komoditas yang mudah dipasarkan dan memenuhi standar bahan baku industri.

Hasil dari tanaman kayu di daerah ini mudah dijual karena banyaknya pedagang, bandar, pengepul di sekitar lahan hutan rakyat, serta beberapa tempat penggergajian untuk mengolah kayu rakyat.

Potensi Wanafarma dalam Meningkatakan Perekonomian Petani

Pengembangan usaha hutan rakyat dengan pola wanafarma yaitu penanaman tanaman kayu dan tanaman obat dapat direkomendasikan untuk pengembangan usaha hutan rakyat, karena dapat memberikan kontribusi ekonomi pada keluarga petani.

Petani hutan rakyat disarankan untuk mengembangkan pola tanam wanafarma yaitu tumpangsari antara tanaman kayu dengan tanaman obat-obatan. Tanaman kayu yang banyak dikembangkan yaitu albasia, mahoni, dan jati, sedangkan tanaman obat-obatan meliputi kencur, jahe, kapulaga, kunyit, lada, dan lengkuas.

Kontribusi ekonomi hasil hutan rakyat wanafarma bagi pendapatan keluarga petani masih relatif kecil yaitu sebesar 4,69% dari hasil tanaman kayu dan 12,06% dari hasil tanaman obat-obatan.

Peluang pasar bagi kayu rakyat semakin terbuka karena permintaan yang terus meningkat, seiring dengan semakin banyaknya industri perkayuan yang memanfaatkan kayu rakyat. Tanaman kayu yang sering diperjualbelikan dan memiliki peluang pasar yang tinggi adalah mahoni, albasia, dan kayu tahunan (nangka, mangga, dan jengkol).

Pada umumnya petani hutan rakyat menanam tanaman obat-obatan berupa jahe, kapulaga, lada, dan lengkuas. Pemilihan jenis ini sangat dipengaruhi oleh teknologi budidaya, modal, dan pemasaran. Pada umumnya petani menjual hasil tanaman obat dalam kondisi basah, tanpa perlakuan khusus. Jika ada perlakuan yaitu penjemuran dengan sinar matahari, tetapi hal ini masih jarang dilakukan karena petani ingin cepat menjual dan segera mendapat uang untuk modal.

Alur pemasaran hasil hutan rakyat wanafarma cukup sederhana. Petani berperan sebagai produsen yang menjual hasil hutan rakyat ke pihak kedua seperti pengepul tingkat I, pengepul tingkat II, dan penggergajian untuk hasil kayu maupun pengepul tingkat desa untuk tanaman obat. Alur pemasaran hasil kayu dari tingkat desa berbeda dengan alur pemasaran hasil tanaman obat, karena segmentasi pasar kedua jenis hasil hutan ini juga berbeda. Pemasaran tanaman kayu dan obat-obatan sudah menjangkau pasar di luar daerah,] yang menunjukkan peluang pasar yang cukup terbuka bagi kedua produk tersebut, sehingga permintaannya cenderung meningkat.

Peluang pasar hasil hutan rakyat wanafarma di daerah-daerah masih cukup terbuka. Pengelolaan hutan rakyat dengan pola ini perlu ditingkatkan dengan melakukan pengembangan pada beberapa lahan yang masih kosong, apalagi seringkali terjadi kekosongan bahan baku industri karena kurangnya pasokan terhadap hasil hutan rakyat ini baik berupa hasil kayu maupun tanaman obat.