Alternatif dalam Penanggulangan Sampah Banyumas

Alternatif pengelolaan sampah melalui “Bank Sampah” yang dialkukan oleh warga. (Foto: Gatra)

Banyumas – Kegiatan pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas memiliki kendala yang kompleks. Namun kegiatan pengelolaan sampah pada masyarakat akan lebih mudah dilakukan di tingkat terkecil yakni di tingkat rumah tangga.

Masyarakat sebagai penghasil sampah memiliki permasalahan yang berbeda dalam suatu wilayah.Kegiatan pengelolaan sampah di kabupaten Banyumas mengalami permasalahan yang kompleks dari mulai rumah tangga terkecil yakni keluarga.

Di tempat lain, terutama di pedesaan masih banyak masyarakat yang melakukan pembuangan sampah di tempat terbuka. Disisi lain masih banyak tempat yang belum memiliki sarana dan prasarana untuk melakukan kegiatan pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan tahap akhir. Permasalahan sampah akan terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Kegiatan pengelolaan sampah mengalami kendala dari sisi pembuangan yang tidak pada tempatnya, serta terkendala terkait dengan sarana dan prasarana.

Limbah atau sampah dan bahan buangan memiliki masalah yang penting karena potensi risiko.Untuk penduduk terdekat dan lingkungan. Penghasil sampah idealnya memiliki model untuk daur ulang dan lokasi pembuangan, menyediakan teknologi pengolahan limbah .Selain itu, instrumen kebijakannyaUntuk mempromosikan daur ulang limbah dipertimbangkan, dan pengaruhnya terhadap biaya dan risiko bahaya yang muncul.

Untuk mengatasi permasalahan sampah yang terjadi di kabupeten Banyumas bisa dilakukan melalui pemanfaatan limbah agar dapat memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan ini dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pada lingkungan di unit pengolahan dan sekitarnya.

Pemanfaatan limbah plastik bisa dilakukan berbasis bio dan biodegradable juga dapat menjadi dasar alternatif ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk bahan saat ini yang berbasis khusus pada persediaan minyak bumi.

Upaya mempromosikan keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah membutuhkan kampanye tentang pembuangan limbah dan perilaku daur ulang agar tidak memberikan dampak yang tidak baik pada masyarakat.

Kegiatan pengelolaan limbah dapat dilakukan melaui proses evaluasi untuk mencegah terjadinya perubahan iklim. Kerangka tata kelola iklim dilakukan untuk melakukan kegiatan adaptasi manajemen, komunikasi, dan praktik reflektif (Nursey-Bray 2010). Kegiatan evaluasi dilakukan untuk memperkirakan dampak yang akan timbul di lingkungan (Zeppel, H. 2012).

Paradigma, Perilaku dan Kesadaran Manusia dapat Menurunkan Jumlah Limbah

Sebagian besar sampahsampah yang ada di TPA adalah sampah rumah tangga yang dibungkus menggunakan plastik (bercampur organik dan anorganik). Karena adanya TPS dan TPA, maka masyarakat cenderung berpikir praktis dengan membuang sampah seadanya (tanpa perlakuan, pemisahan).

Pemerintah berusaha melakukan inovasi ke arah perbaikan pengelolaan TPA contohnya pengembangan teknologi landfilling, teknologi pengolah sampah, kerjasama dengan pihak luar, dimana terbatasnya biaya adalah hal utama yang menjadi kendala walaupun selama ini pembiayaan pemerintah fokus kepada TPA, bukan pada perubahan pola pikir.

Permasalahan utama sampah adalah permasalahan paradigma, perilaku dan kesadaran. Sedangkan teknologi pengolahan sampah dan TPA adalah urutan kesekian setelah faktor perilaku manusia. Perhatian utama kepada TPA sebagai solusi sepertinya telah membentuk karakter masyarakat yang tidak peduli sampah, tidak mau bertanggung jawab atas sampah, dan dimanjakan pemerintah.

Keberlanjutan tidak akan bisa berjalan tanpa adanya kemauan dan kesadaran dari masyarakat, selama ini indikator pemenuhan kebutuhan masyarakat dan peningkatan standar ekonomi dan perkembangan kemajuan telah dijadikan dasar alasan dalam meningkatnya jumlah sampah yang harus ditampung lingkungan, Mahyudin (2014).

Fokus pengelolaan sampah baru tertuju pada masalah teknis, dampak lingkungan, ekonomi dan sosial. Tapi akar permasalahan utama yaitu permasalahan paradigma dan pola pikir belum menjadi pertimbangan banyak pihak dalam mengelola sampah.

Pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan terintegrasi atau ISWM/ Integrated Sustainable Waste Management fokus pada pengelolaan sampah sebagai multi aktor, kesepakatan multi lapisan sistem sosial teknik (Ijgosse, Ansch├╝tz and Scheinberg 2004; Spaargaren and van Vliet 2000 dalam Scheinberg 2010: 9). Sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi memerlukan kerjasama dari semua pihak dan aspek. Salah satu aspek penting yaitu kurang memadainya peraturan hukum pengelolaan sampah berdampak pada tidak efisiennya pengelolaan sampah di Indonesia. Peraturan hukum yang ada tidak mengatur sistem pengelolaan sampah secara spesifik.

Manajemen ekosentris adalah bentuk pemanfaatan lingkungan yang seimbang dengan alam dan menggunakan prinsip berkelanjutan. Perubahan fundamental untuk menjadikan bumi lebih baik adalah dimulai dari perubahan moral/perilaku manusia. Memandang pemulung sebagai komunitas yang penting bagi lingkungan adalah salah satu perwujudan dari bentuk manajemen ekosentris.