Majenang Terapkan Sistem Pemanfaatan Lahan Agroforestry

Penerapan sistem agroforestry kebun campuran pada lahan milik di Kecamatan Majenang. (Foto: agroforestry.org)

Majenang, Cilacap – Agroforestry didefinisikan sebagai suatu sistem pemanfaatan lahan yang mengkombinasikan tanaman tahunan, pertanian dan atau ternak pada lahan yang sama dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan baik ekonomi, sosial, maupun ekologi.

Sistem agroforestry telah banyak diterapkan oleh masyarakat Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap pada lahan milik, terutama lahan kering. Penerapan sistem agroforestry kebun campuran pada lahan milik di Kecamatan Majenang berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan harian, bulanan, maupun tahunan rumah tangga petani.

Selain keuntungan ekonomi, penerapan sistem agroforestry kebun campuran memiliki kontribusi positif terhadap aspek sosial maupun lingkungan. Besarnya keuntungan yang diperoleh dari penggunaan sistem agroforestry telah mendorong para pihak untuk menjadikan sistem agroforestry sebagai salah satu cara mengoptimalkan pemanfaatan lahan.

Kuswantoro et al. (2014) menyebutkan pendapatan rata-rata yang diperoleh petani dari sistem agroforestry kebun campuran di Kecamatan Majenang mencapai Rp 7.820.688 per tahun atau 76,37% dari nilai Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) yang harus dipenuhi oleh petani.

Kelembagaan yang belum optimal merupakan salah satu permasalahan utama dalam usahatani agroforestry di Kecamatan Majenang. Permasalahan utama kelembagaan tersebut diantaranya (1) masih rendahnya dukungan kebijakan pemerintah, (2) lemahnya koordinasi dan sinergisitas program di antara instansi pemerintah, (3) lemahnya dukungan para pihak dalam pengembangkan usahatani agroforestry seperti lembaga keuangan dan perusahaan swasta, (4) belum tersedianya teknologi agroforestry yang bersifat komprehensif dan spesifik lokasi, dan (5) masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam usaha tani agroforestr.

Manfaat Penerapan Sistem Agroforestry dalam Pengolahan Lahan

Agroforestry adalah suatu sistem pengelolaan lahan secara intensif dengan mengkombinasikan tanaman kehutanan dan tanaman pertanian dengan maksud agar diperoleh hasil yang maksimal dari kegiatan pengelolaan hutan tersebut dengan tidak mengesampingkan aspek konservasi lahan serta budidaya praktis masyarakat lokal.

Agroforestry memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap jasa lingkungan (environmental services) antara lain mempertahankan fungsi hutan dalam mendukung kesehatan DAS (daerah aliran sungai), mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, dan mempertahankan keanekaragaman hayati.

Keberhasilan sistem agroforestry yang berlandaskan dari sistem pertanian-kehutanan dapat dilihat dari adanya keuntungan yang dapat dihitung langsung melalui peningkatan produksi bahan pangan (Suhardi dkk., 2005) dan ketahanan pangan (Ardhana dan Susanti, 2013; Pujiono dkk., 2013). Hal tersebut tentu dapat terwujud dengan pemilihan komoditas yang tepat. Jenis tanaman pada sistem agroforestry yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan antara lain padi gogo, jagung, kedelai, kacang-kacangan, ubi kayu, dan sebagainya (Hairiah, 2003).

Pengelolaan lahan dengan sistem agroforestry disamping memberikan hasil tambahan, masih ada lagi hasil lebih besar yang akan didapatkan oleh petani yaitu produksi kayu pada akhir daur nantinya.

Jadi jelaslah bahwa agroforestry mempunyai fungsi ekonomi penting bagi masyarakat. Peran utama agroforestry bukanlah produksi bahan pangan semata, melainkan sebagai sumber penghasil pemasukan uang dan modal.

Pemanfaatan Agroforestry Sebagai Penghasil Pakan Ternak Sistem agroforestry multistrata juga dapat memberikan manfaat terutama bagi masyarakat yang memiliki hewan ternak. Kebutuhan pakan ternak tentu menjadi suatu hal yang sangat diperlukan bagi masyarakat yang memelihara dan mengembangkan usaha peternakan.

Menurut Fiqa dan Laksono (2013), salah satu tanaman dari sistem agroforestry multistrata yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum). Rumput gajah sebagai tanaman strata terbawah dapat membantu mencukupi pakan ternak bagi peternakan sapi.

Manfaat ekonomi dari sistem ini yakni adanya diversifikasi hasil yaitu hasil non kayu memberi keuntungan berupa pendapatan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek (mingguan, bulanan, tahunan) sebutkan produknya, hasil kayu memberi keuntungan finansial jangka menengah (5 tahunan) sebutkan jenis kayunya yang dicadangkan untuk memenuhi kebutuhan yang memerlukan biaya besar yang sudah direncanakan oleh petani.