Solusi Optimalisasi Lahan Pertanian Melalui Integrated Farm Jambusari

Domba-domba ini merupakan ternak yang dibudidayakan di Kebun Buah Jambusari. Ada 137 ekor domba yang dikembangbiakkan di kawasan tersebut. (Foto: Pemkab Cilacap)

Jeruklegi – Penerapan pertanian terpadu (integrated farm) diperlukan untuk percepatan peningkatan perekonomian masyarakat sehingga pengembangan sektor pertanian saat ini tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman pangan melainkan diarahkan untuk lebih dari itu.

Kawasan perkebunan yang berada di Desa Jambusari Kecamatan Jeruklegi menerapkan pertanian terpadu, menggabungkan peternakan, pertanian, dan perkebunan. Konsep semacam inilah yang kini tengah dikembangan di kawasan edu wisata Kebun Buah Jambusari.

“Sistem ini mengoptimalkan seluruh sektor pertanian dan peternakan dalam suatu hubungan timbal balik. Sehingga menghasilkan produk berupa produk pangan, serta pupuk pertanian,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto, Jumat (17/1).

Dalam rangka peningkatan lahan, program pembangunan dan konservasi lingkungan, serta pengembangan desa terpadu, dan berdampak pada peningkatan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat. Konsep ini diharapkan menjadi alternatif dan solusi bagi masyarakat petani dan peternak.

Berbagai macam tanaman buah seperti jambu, duren, jeruk, kelengkeng, beberapa jenis bunga, dan lain sebagainya. Di sana juga terdapat peternakan domba dengan jumlah mencapai 137 ekor. Pada kawasan seluas 8 hektar tersebut, Dinas Pertanian membudidayakannya.

Dengan edukasi semacam ini, Supriyanto berharap petani dan peternak dapat memperoleh hasil maksimal. Meski belum dibuka secara resmi, beberapa lembaga pendidikan dan universitas telah mengadakan penelitian dan kajian di tempat ini.

Konsep Integrated Farm Dorong Perbaikan Ekonomi

Kebutuhan optimasi pemanfaatan sumberdaya pertanian termasuk lahan sebagai salah satu upaya Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) 2000-2025 didasarkan pada kenyataan bahwa konversi lahan sawah di Indonesia melebihi 110.000 ha per tahun telah menurunkan luas tanam pada lahan sawah secara signifikan, sehingga diprediksi penggunaan lahan kering akan menjadi tren di masa mendatang, Ibrahim (2008).

Sistem usahatani terintegrasi (integrated farming system) atau crop-livestock system (CLS) yang menawarkan intensifikasi sistem produksi tanaman-ternak secara terintegrasi melalui pendaurulangan hara tanaman dalam bentuk pupuk kandang untuk memelihara kesuburan tanah.

Ciriacy-Wantrup, Hayami & Ruttan (1985) menegaskan bahwa teknologi CLS merupakan salah satu bentuk teknologi produksi sekaligus teknologi konservasi yang dapat digunakan sebagai salah satu upaya pencegahan atau mengurangi lahan kritis.

Konsep keterpaduan yakni Integrated Farming System, yakni konsep keterpaduan dalam proses dan sistem produksinya. Konsep keterpaduan ini menerapkan konsep LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) dan zero waste sehingga dalam prosesnya diharapkan tidak ada energi yang terbuang keluar sistem (efektivitas dan efisiensi energi).

Konsep desain didasarkan pada activity base yang diinginkan oleh pemilik. Konsep desain tersebut kemudian diaplikasikan pada konsep pengembangan. Secara keseluruhan aakan diarahkan menjadi bagian dari lanskap pertanian dengan wahana pendidikan dan wisata pertanian. Wahana pendidikan dan wisata pertanian tersebut diterapkan melalui konsep wisata yang terpadu.

Teknologi integrasi tanaman dengan sistem integrated farming system menjadi salah satu solusi dalam upaya peningkatan produktivitas dan sejalan dengan peningkatan pendapatan ekonomi lahan yang berbasis lingkungan dan berkelanjutan, dan mengintegrasikan pertanian dan peternakan.

Sistem pertanian terpadu memberi peluang yang besar dalam meningkatkan dan memantapkan pendapatan petani di perdesaan, Partohardjono dkk (2002). Sistem pertanian terpadu pada dasarnya merupakan sistem pertanian yang dicirikan dengan adanya interaksi dan keterkaitan yang sinergis antar berbagai aktivitas pertanian yang dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, kemandirian, serta kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Namun, pengembangan pertanian terpadu saat ini belum mencapai hasil yang maksimal.